104 WNI mendekam di penjara Hong Kong dan Macau

0
794

HINGGA Juli 2019, terhitung ada 104 WNI yang kini mendekam di penjara-penjara di Hong Kong dan Macau. Dari jumlah tersebut, sekitar 100 WNI mendekam di penjara-penjara di Hong Kong sementara 4 orang lainnya di penjara Macau. Tingkat kejahatan tertinggi masih seputar narkotika.

Atase Hukum KJRI Hong Kong dan Macau, Ineke Indraswati kepada SUARA menyatakan para WNI yang tertangkap kasus narkotika tersebut didakwa bersalah terbukti sebagai kurir pembawa barang haram tersebut. Ada yang berkenalan lewat facebook lalu dijadikan pacar dan disuruh mengambil paket pos yang ternyata berisikan narkoba. Sementara ada juga yang diberikan uang lalu disuruh membawa tas dari satu negara ke negara lainnya, yang isinya ternyata narkoba. Saat tertangkap, sang gembong narkotika telah menghilang tak bisa dihubungi dan WNI tersebut pun jadi korban mendekam di bui.

“Dari yang saya lihat di sini (Hong Kong dan Macau), kalau memang merasa tidak bersalah, ya perjuangkanlah itu, tapi saya selalu menyarankan untuk tidak berbohong, paling tidak beritahukan semuanya ke duty lawyer. Kalau memang punya nomor telepon atau percakapan whatsapp yang membuktikan bahwa teman-teman hanya disuruh saja, yang berikanlah itu dan jangan menutup-nutupi,” kata Ineke.

Dari pengalamannya berkunjung ke penjara atau tahanan, Ineke menyadari ada kecenderungan beberapa WNI terdakwa masih takut atau segan memberitahu siapa dalang narkoba itu sesungguhnya.

“Ada yang bilang, tapi kasihan, Bu, kalau saya kasih tahu. Saya selalu bilang, lah, kamu sendiri di sini, siapa yang kasihan? Kalau memang ada informasi apapun, beri tahu paling tidak ke lawyer, supaya nanti bisa jadi pertimbangan,” kata Ineke, lagi.

Dari 104 WNI yang kini mendekam di berbagai penjara Macau dan Hong Kong itu, sekitar 22 orang masih berstatus tahanan atau masih menjalani proses pengadilan. Sementara lainnya, yaitu sekitar 82 orang lagi telah divonis dan kini sedang menjalani masa hukuman penjara.

Ineke sendiri menyatakan para WNI yang sedang mendekam di balik jeruji penjara tersebut dikunjungi secara regular oleh KJRI dan dapat minta bantuan seperti pengurusan kepulangan ke Indonesia setelah masa tahanan selesai ataupun masalah-masalah lainnya.*

Artikel dimuat di SUARA edisi September Main 2019, terbit 6 September 2019

Facebook Comments