Anak Tukang Bakwan berhasil jadi perawat di Kanada

0
424
May bersama para temannya di kanada/foto berasal dari May

MAY terlahir sebagai anak seorang tukang bakwan di Kampung Sabrang, Merak, Banten. Sekalipun berasal dari keluarga tidak mampu, May tak putus asa bekerja selama 7 tahun lebih mengadu nasib sebagai PMI di Kanada, untuk bisa sekolah dan akhirnya lulus mendapatkan gelar perawat di Conestoga College jurusan RPN ( Registered Practical Nurse) di Negeri Sirup Maple tersebut.

“Pak, ini hadiah buat bapak , hari ini May ngambil ikrar janji sebagai seorang perawat, hari ini juga tuntas sudah janji May untuk bisa membuat cita-cita bapak tercapai, bahwasannya anak tukang bakwan bisa menyelesaikan sekolahnya di Kanada, meski banyak tantangan. Perlahan tapi pasti May berjuang untuk membuat Ibu dan Bapak bangga,” tulis May di status akun facebook-nya, Kamis 19/12/2019.

Lewat wawancara melalui whatsapp dengan SUARA, May membeberkan perjuangannya meraih gelar keperawatan di negeri orang tersebut. Terlahir sebagai anak ketiga dari empat bersaudara, May sebenarnya sejak kecil telah memiliki impian untuk bisa bersekolah di bidang medis. Entah itu menjadi bidan, perawat atau bekerja sebagai ahli farmasi. Namun apa daya, kondisi keuangan orang tuanya yang kurang mampu, membuat May harus puas tamat SMA saja.

Namun terpicu oleh janji kepada sang ayah untuk tak putus asa mencapai cita-citanya sebagai perawat, May ngotot berangkat kerja ke Kanada sekitar Mei 2013 setelah menjalani 2 tahun pelatihan sebagai caregiver di sebuah PT di Tangerang. Sekalipun, untuk itu May harus membayar biaya sekitar Rp. 40 juta lebih.

Sesampainya di Kanada, May bukannya langsung melenggang menempuh jalan mencapai cita-citanya lulus jadi perawat. Dia harus bekerja terlebih dahulu sebagai caregiver merawat anak yang menderita autism dari keluara asal Palestina yang bermukim di Cambridge, Kanada. Tak tanggung-tanggung, May tekun berjibaku menjalaninya selama 6 tahun sambil mengumpulkan uang agar dapat melanjutkan sekolah keperawatan di Kanada.

Masih berjuang mengumpulkan uang, May tersentak saat mendengar kabar bahwa sang ayah tercinta meninggal dunia di kampung pada tahun 2017. “Tadinya May sempat give up (menyerah-Red) dan mau berhenti kuliah pas Bapak ninggal. Kasian ibu kalau harus kerja sendirian. Sementara masih banyak biaya yang harus ditanggung. Tapi Ibu bilang jangan. Aku harus tetap lanjut kuliah karena mimpi Bapak adalah bisa melihat aku jadi Perawat,” kisah May kepada SUARA.

Menurutnya, proses untuk mendapatkan gelar perawat di Kanada bukanlah hal yang mudah. Apalagi dengan statusnya yang masih bekerja sebagai caregiver menyita banyak waktu serta tenaga. Pertama-tama, May harus tekun mengikuti program ESL (English as Second Language) dengan nilai rata-rata yang harus diraih sebanyak 8 poin untuk Speaking (berbicara), 7 poin untuk writing (menulis), 8 poin untuk listening (mendengar) dan 7 poin untuk reading (membaca).

Sebelum bisa melanjutkan sekolah keperawatan di Kanada, May pertama-tama juga harus mendapatkan sertifikat lulusan Academi Upgrading atau semacam persetaraan sekolah menengah. Dalam sertifikat itu, mata pelajaran Matematika, Biologi, Kimia dan bahasa Inggris  harus dicapai minimal 7 poin. Lantas May harus pula mengikuti program HOAE (Health Occupations Aptitude Examination)  dengan nilai yang harus diraih sekitar 6,5 poin. Aduh Mak.

Tak heran jika May harus menghabiskan waktu sampai hamper 7 tahun untuk bisa lulus dan mendapatkan gelar keperawatannya itu. Sekalipun Akademi Keperawatan tersebut hanya memakan waktu Pendidikan 2 tahun. Namun persiapan yang harus dilakukan untuk bisa memenuhi syarat diterima sebagai pelajar di sana, serta keuanganan yang harus disiapkan, membuat May harus banting tulang bertahun-tahun sebagai caregiver.

Sempat memiliki kendala keuangan, May yang sudah mendapatkan Permanent Residence di Kanada pada tahun 2016 ini akhirnya memutuskan mengambil pinjaman dari pemerintah Kanada lewat program Ontario  Student Assistance Program (OSAP). Perjuangan May tidak berhenti sampai disitu. Sebelum bisa benar-benar bertugas menjadi seorang perawat di rumah sakit, May harus melewati satu tahap lagi, yaitu mengikuti ujian CPRNE (Canadian Practical Registration Examination) untuk mendapatkan licence keperawatan.

“Sambil menunggu persiapan ujian aku masih tetap kerja sebagai caregiver. Bagaimanapun aku butuh pemasukan. Aku tahu perjuangan ke depan masih panjang, tapi aku yakin bisa melaluinya,” tulis May kepada SUARA lewat Whatsapp.

Perjuangan panjang May tak sia-sia. Akhirnya, anak Tukang Bakwan ini berhasil mewujudkan janjinya kepada almarhum ayah, dan meraih gelar keperawatan di Kanada. Selamat yo!*

Artikel dimuat di SUARA cetak edisi January Main 2020, terbit Jumat, 10 Januari 2020

Facebook Comments