Balada Pasukan Pengibar Bendera di Hong Kong: Ada yang jadi Macan sampai Kurcaci

0
958
Ini dia para Paskibra 2019/foto oleh Aliq Nurmawati

Oleh Aliq Nurmawati dan Veby Mega

DUA belas PMI itu segera melangkah tegap begitu sang komandan, Wiwin atau yang biasa dipanggil Nawang, meneriakkan komandonya. Cucuran keringat terus mengalir sampai-sampai mereka beberapakali terpaksa memicingkan mata. Matahari musim panas  Hong Kong memang tak ramah. Namun para PMI yang bertugas sebagai paskibra pada upacara detik-detik proklamasi di Wisma Puri Mandiri, Aberdeen, bagai sama sekali tak terusik.

Panasnya jangan ditanya, tapi tugas negara harus tetap diemban/Foto oleh Aliq Nurmawati

“Padahal sih, jangan ditanya lagi… Keringat sudah ngalir terus (di wajah), ngumpul ketahan semua di bibir! Baju seragamnya kan tebel juga tuh.. Keringat di badan, wah! Tapi kita tak bisa main-main, harus terus bertugas,” kata Sumiati, usai upacara kepada SUARA.

Hari itu adalah ulang tahun ke-74 Republik Indonesia. Ada dua belas PMI yang terpilih dari ratusan kandidat, untuk menjadi petugas pengibar bendera di upacara peringatan detik-detik proklamasi yang diselenggarakan di halaman belakang kediaman resmi Konsul Jenderal RI di Hong Kong. Setiap hari Minggu selama 2 bulan, mereka kena gembleng latihan fisik dan mental menjadi seorang paskibra. Bukan hanya latihan baris-berbaris, tapi juga penanaman semangat kerjasama tim dan persaudaraan satu sama lain.

Nawang berkisah kepada SUARA, bagaimana rasa persaudaraan dan disiplin terbentuk secara alami. Tak ada lagi perpecahan atau rasa menang sendiri. Satu sakit, sakit semua. Satu senang, senang semua.

“Kalau ada yang telat, semuanya harus (kena hukuman) push up. Satu tidak makan, tidak makan semua. Jadi mau tidak mau kita benar-benar merasa seperti satu keluarga,” kata Nawang. Senyum tak bisa lenyap setiap kali Bu Lurah ini bercerita tentang keluarga paskibranya tersebut.

Bu Lurah? Jangan kaget dulu. Nawang bukan beneran dipinang oleh Pak Lurah, loh… Komandan Paskibra tahun 2019 ini mendapat julukan Bu Lurah oleh teman-teman satu timnya, setelah dia terpilih jadi ketua regu.

Bukan hanya Bu Lurah, beberapa anggota tim lainnya pun dapat panggilan sayang. Eka, misalnya, mendapat panggilan sayang ‘Macan’ alias ‘Mama Cantik’. Meski telah berumur 48 tahun, Macan yang satu ini penuh energi. Dia tak ragu-ragu langsung beraksi mengukur satu per satu PMI untuk pesanan seragam mereka. Keahlian menjahit Macan pun terbukti, saat seragam pesanan akhirnya datang dari Jakarta. Macan langsung  jahit sana-sini dengan tangan, untuk mengecilkan beberapa seragam teman-temannya.

Maklum saja, gemblengan latihan serta upaya pribadi untuk menjaga kadar kolestrol, membuat banyak Paskibra akhirnya memilih berdiet.

“Kalau seragamnya kebesaran sih, memang bisa dikecilin. Yang jadi masalah itu  kalau seragamnya kekecilan karena badan kita yang menggemuk. Mau gimana, coba? Jadinya, kita selalu diingatkan Pembina, jaga makan…jaga makan…ingat perut! Jangan sampai gendut!,” kata Levi, salah seorang PMI paskibra.

Rani langsung menunduk tersipu saat teman-temannya tertawa. Rani yang sebelumnya bekerja di Singapura ini mengaku, berbobot sampai 80 kg saat belum berangkat kerja sebagai PMI. Bakat gemuk inilah, yang membuat Rani memilih diet selama 2 bulan latihan sebagai paskibra agar bisa tampil prima. “Sehari-hari kadang saya hanya makan mie, itupun hanya separoh, yah…diatur-atur lah supaya jangan kegendutan,” kata Rani, tersenyum malu.

Awal terpilih sebagai paskibra, 12 PMI ini menjalani pemeriksaan kesehatan. Ternyata 10 dari mereka memiliki kadar kolestrol yang melebihi batas normal. Alhasil selama 2 bulan latihan, banyak yang diet. Bukan hanya untuk jaga posisi perut, tapi juga demi kondisi kesehatan. Mereka berusaha keras menghindari makan goreng-gorengan dan daging merah. “Cuma yang susah dihindari itu loh… Kalau ada yang bawa risoles saat latihan, kan digoreng tuh…, tapi enak sih?,” kata Nawang, nyengir.

Semua tentu saja ingin tampil prima saat menjalankan tugas. Terpilih dari 109 PMI yang mendaftar sebagai paskibra 2019 saja sudah jadi keistimewaan tersendiri. Berdiet rasanya seperti pengorbanan kecil.

Suci, misalnya, rela pasang senyum terus-menerus selama upacara sekalipun tersiksa terik matahari dan kekhawatiran digigit nyamuk. PMI yang terkenal sebagai ‘Si Senyum Memikat’ ini bertugas sebagai pembawa baki bendera pada upacara pagi hari.

“Aku takutnya kalau gatal, kalau digigit nyamuk gitu, gimana dong ngegaruknya?! Kan dua tanganku mbawa baki, dan saking takutku itu sampai keringat itu bercucuran, dari pelipis sampai turun ke dagu, tapi, ya tak biarin, lah mau gimana orang nggak bisa gerak? Dan masalahnya saya dituntut untuk  harus tetap senyum!,” kata Suci, terbahak-bahak.

Kalau melihat mereka berdandan lengkap untuk beraksi di lapangan upacara, sangatlah mudah mengira kalau ada tuntutan wajah ayu, badan jangkung atau usia muda untuk jadi paskibra di Hong Kong.

Ternyata tidak kok… Eka alias Macan, membuktikan dirinya tetap sukses jadi paskibra sekalipun telah berusia 48 tahun. Sementara Sumiyati, yang bertinggi badan 153 cm, membuktikan tinggi badan yang imut bagai kurcaci bukanlah penghalang.

“Dulu kan nggak ada internet atau apa, jadi saya kira ada syarat minimal tinggi untuk jadi paskibra (di Hong Kong), jadi saya nggak pernah daftar, sampai teman-teman saya di JBMI, nyaranin, ayo… kamu ikut tes…,” kata Sumiati, berkisah.

Pada 2017, Sumiati sempat menjadi paskibra di upacara bendera yang diselenggarakan JBMI di Central. Aksi berbaris Sumiati yang ciamik, membuat teman-temannya menyarankan ikut tes paskibra di KJRI. “Waktu tes (di KJRI), saya sempat lemes… nama saya kan salah ditulisnya jadi Sumiyati. Waktu saya cek, wah… nggak lolos.. tapi kok nomor teleponnya sama? Saya coba telepon untuk ngecek, wah ternyata lolos! Saya sampai whatsapp bilang, terima kasih… terima kasih…,” kata Sumiati berkisah.

Bersama 2 PMI lainnya yang juga bertinggi badan di bawah 155 cm, Sumiati pun rela mendapat panggilan sayang ‘tiga kurcaci’ paskibra. Bukannya ngenyek, tapi sebagai panggilan sayang, yang membuktikan bagaimana tekad dan kerja keras mereka mampu menerobos halangan apapun untuk menjadi seorang paskibra.

Pukul 2:30 pagi, 17 Agustus 2019. Dua belas PMI yang telah menginap di KJRI di Causeway Bay sejak sehari sebelumnya, segera dibangunkan untuk bersiap-siap upacara. Satu persatu giliran mandi, berias dan mengenakan seragam paskibra. Deg-degan? Jangan tanya lagi.

“Wah, kita itu sebenarnya juga nggak bisa tidur semalaman. Mata memang merem, tapi pikiran ini tetap jalan. Deg-degan,” kata Suci.

Tak heran, jika usai menjalankan tugas mereka pun saling berpelukan. Senyum tak bisa lepas dari wajah. Ada rasa senang, tapi juga rasa haru karena harus berpisah setelah 2 bulan berturut selalu bertemu untuk latihan pada hari Minggu, dari pukul 9 hingga 6 sore. “Memang masih bisa ketemu nanti di organisasi purna paskibra, tapi ya pasti tetap terharu lah… Terasa banget bedanya, kita sebelum jadi paskibra dan setelah jadi paskibra, karena latihannya, disiplinnya,”kata Nawang. *

Artikel dimuat di SUARA edisi August Mid 2019, terbit 23 Agustus 2019

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments