Berniat lunasi utang ke mantan pacar, Nurhidayati malah tewas dibunuh

0
1380
Rumah keluarga almarhumah Nurhidayati dipenuhi pelayat saat pemakaman jenzah PMI yang tewas dibunuh mantan pacarnya di Singapura itu dilangsungkan./Foto: Yuli Arsa

Keluarga dari Nurhidayati Wartono Surata, PMI Singapura yang putus meregang nyawa di tangan mantan pacarnya yang berasal dari Bangladesh, menyatakan bahwa PMI tersebut mau saja datang ke hotel tempat kejadian karena ingin membayar utang.

“Teteh (Nurhidayati) mungkin berpikir pelaku orang baik dan tidak pernah menduga akan dibunuh, makanya teteh mau saja diajak ke hotel. Sekalian melunasi hutangnya, gitu”, kata Caca, adik kandung Nurhidayati kepada SUARA, Kamis, 3/1/2019.

Hari itu adalah hari yang sangat menyayat hati Caca dan seluruh keluarga Almarhumah Nurhidayati. Untuk yang terakhir kali, mereka bertemu dengan Nurhidayati, sebelum sesosok jenazah yang telah terbujur kaku itu dimakamkan di kampungnya di Jawa Barat.

“Mengapa secepat ini engkau meninggalkan kami, Teh?”, bisik Caca dengan suara lirih, sambil memandang peti jenasah kakaknya.

Sepanjang prosesi pemakaman, airmata tak berhenti mengalir di pipi Caca. Sementara sang ibu terus-terusan tak kuasa menahan tangis keras. Caca mengatakan, sosok Almarhumah ketika masih hidup terus berseliweran di kepalanya sepanjang hari itu. Air mata pun tak kuasa dibendung.

Kepergian Nurhidayati memang sangat tiba-tiba dan tragis. PMI berusia 34 tahun itu ditemukan tewas di kamar nomor 307 Golden Dragon Hotel di Singapura pada Minggu, 30 Desember 2018. Petugas hotel yang menemukan tubuh PMI ini terbujur kaku di dalam kamar, langsung menelepon paramedis. Namun Nurhidayati dinyatakan telah meninggal beberapa jam sebelumnya. Polisi pun segera dipanggil dan hanya selang 2 hari kemudian, seorang pria Bangladesh bernama Ahmed Salim, ditangkap sebagai tersangka pembunuh.

Caca berkisah kepada SUARA, bahwa Ahmed dan Nurhidayati sempat menjalin tali kasih beberapa tahun yang lalu.
“Ya, saya sering dicurhatin soal pelaku oleh Teteh. Teteh bilang, ia dulu mengenal pelaku karena apartemen majikannya berada di lantai atas tempat tinggal pelaku. Karena sering bertemu, dan pelaku juga pada awal perkenalan selalu bersikap baik padanya, jadi Teteh mau menjalin hubungan dekat dengan pelaku. Apalagi baik Teteh maupun pelaku sama-sama berstatus single. Teteh kan sudah berpisah dengan suaminya ketika anaknya masih berumur sekitar 4 tahunan, jauh sebelum mengenal pelaku”, kata Caca.

Namun setelah Nurhidayati dan Ahmed menjalin asmara beberapa tahun, tali kasih mereka terpaksa putus. Sang pria Bangladesh dipaksa menikah dengan perempuan pilihan keluarganya. Caca berkisah, saat itu Nurhidayati memilih memutuskan hubungan dan menjalin pertemanan biasa.

Sebagai teman biasa pun, Caca berkisah, Nurhidayati dan Ahmed tetap kerap berkomunikasi. Bahkan, PMI Singapura itu sempat meminjam uang kepada sang mantan pacar.

“Yang telpunan sebelum kejadian itu ibu. Kata ibu, Teteh cerita mau melunasi utang pada pelaku. Lalu oleh pelaku diajak bertemu di hotel karena pelaku ada hal penting untuk disampaikan,” kata Caca.
Entah apa yang persisinya terjadi kemudian di kamar hotel itu. Pastinya, pada pukul 10:45 waktu Singapura, paramedis melaporkan kasus pembunuhan Nurhidayati kepada polisi setempat. Ahmed pun kini berada dalam tahanan sementara investigasi polisi terus berlanjut. Jika Ahmed terbukti bersalah, maka pria Bangladesh itu bisa saja mendapat hukuman mati sesuai hukum Singapura.

Caca dan keluarga menyatakan telah merelakan sepenuhnya kepergian Nurhidayati, sekalipun masih tersisa pahit di hati. Terutama karena anak kandung Nurhidayati yang baru berumur 11 tahun, kini harus tumbuh tanpa sosok ibunya lagi.

“Masih ada banyak rencana dan mimpi Teteh untuk anak dan orangtua. Yang paling utama, Teteh ingin menyekolahkan anaknya sampai jadi sarjana, supaya jadi manusia yang berguna. Sekarang, Teteh sudah tiada. Bagi kami, apapun berita tentang Teteh di media, di mata saya dan keluarga, Teteh adalah pahlawan kami. Ia sudah mengorbankan tenaga, waktu dan hidupnya untuk memperbaiki ekonomi kami,” kata Caca.

Facebook Comments