Bisnis-bisnis Indonesia pasang strategi atasi dampak demonstrasi di Causeway Bay

0
2347
Massa memenuhi jalanan di samping Victoria Park, Minggu, 21/7/2019

SEIRING terus berlanjutnya demonstrasi anti proposal UU Ekstradisi Kriminal ke China Daratan, para pengusaha Indonesia di Causeway Bay pun mulai jungkir balik berusaha memasang berbagai strategi untuk mengakali turunnya omzet pendapatan akibat para PMI kesulitan datang berlibur ke Causeway Bay.

“Kemarin (saat ada demonstrasi di Victoria Park), omzet turun sekitar 13 persen, tapi karena sebelumnya sudah kita informasikan via Facebook (bahwa akan ada demo di sore hari), jadi pagi harinya nasabah sudah ramai datang,” kata Gigieh Perkasa dari BRI Remittance Hong Kong, Senin, 22/7/2019.

Pada Minggu, 21/7/2019, warga Hong Kong bergabung dalam reli massa dari Victoria Park hingga ke Admiralty, yang dimulai sekitar pukul 3:30 sore. Massa yang membanjiri jalan-jalan utama di Causeway Bay ini tak pelak membawa pengaruh langsung kepada bisnis-bisnis Indonesia di area tersebut, termasuk remitansi (jasa pengiriman uang), warung-warung makan, toko kreditan barang dan sejenisnya.

Gigieh menyatakan, kantor BRI Remittance yang terletak berseberangan dengan Victoria Park mau tak mau merasakan dampak langsung dari ‘macetnya’ jalanan akibat demonstran. BRI Remittance Hong Kong pun mulai putar akal untuk mengatasi turunnya pendapatan di kantor cabang Causeway Bay dengan cara selalu menyebar informasi lewat akun facebook BRI Remittance Hong Kong, setiap kali akan ada demonstrasi di Victoria Park. Dengan informasi dini, PMI diharapkan bisa menyesuaikan diri dengan cara datang lebih pagi ke kantor BRI sebelum jalanan terblokir demonstran, atau memilih datang ke kantor BRI Remittance lainnya di penjuru Hong Kong.

“Kantor tetap kita buka full day, tapi ya setelah pukul 2 sudah tidak nasabah yang datang karena jalan sudah terblokir peserta demo,” kata Gigieh.

Pada Minggu pagi, 21/7/2019, para PMI masih tampak memenuhi bawah jembatan penyeberangan di depan Victoria Park dan area Causeway Bay seperti biasa. Beberapa acara PMI di Hotel Regal, KJRI bahkan di Tenda Putih Victoria Park juga tetap berjalan seperti lancar. Namun sekitar pukul 2 siang, situasi sekitar Victoria Park sudah sepi PMI. Kebanyakan menyingkir berlibur ke daerah lain untuk menghindari terjebak massa demonstrasi.

“Majikan biasanya ngasih tahu, ini akan demonstrasi di Causeway Bay, jadi saya milih berlibur ke tempat lain. Kemarin saya ke Mei Foo,” kata Wati, PMI asal Pati yang rumah majikannya di Aberdeen, kepada SUARA, Senin, 21/7/2019. Sementara PMI lainnya, yaitu Anna asal NTT, malah memilih untuk tidak berlibur sama sekali daripada beresiko terjebak arus massa. “Majikan saya juga nggak ngijinin libur, ya sudah, saya di rumah saja,” katanya.

Toko Arafah yang terletak di Island Beverly, berupaya mengatasi turunnya pendapatan akibat sepinya pelanggan ini dengan sistem jemput bola. Artinya, toko kreditan barang ini lebih mengandalkan para sales untuk mencari PMI pelanggan ke berbagai penjuru Hong Kong, dan tidak hanya terpaku menanti pelanggan datang ke toko di Causeway Bay saja.

“Mereka (sales) sudah tahu harus kemana-mana saja, jadi untuk omzet sebenarnya tidak ada masalah, yang jadi masalah itu justru untuk collection (pembayaran kreditan barang), karena customer (pelanggan) jadi tidak bisa datang ke kantor untuk bayar cicilan,” kata Evi dari Toko Arafah, Senin, 21/7/2019. Menurutnya, demonstrasi massa yang telah berlangsung sejak awal Juni ini membuat pemasukan dari cicilan kredit turun sekitar 60 persen dari biasanya.

Namun dari semua pengusaha Indonesia yang diwawancarai SUARA, dampak turunnya pendapatan terutama dirasakan oleh warung-warung makan Indonesia di Causeway Bay. Ini karena, sebagian besar penghasilan mereka terutama didapatkan dari PMI yang datang makan saat libur setiap hari Minggu. Warung Malang misalnya, mengeluhkan penurunan pendapatan hingga 50 persen.

“Kalau demonstrasi terus begini, gimana toh kita? Kemaren saja, sudah hampir nggak ada yang datang. Keder juga kita kalau terus begini, mau gimana cari pendapatan minimal untuk bisa bayar sewa,” kata Pemilik Warung Malang kepada SUARA, Senin, 21/7/2019. Untuk sementara, Warung Malang berusaha mengatasi penurunan pendapatan dengan menggenjot penerimaan pesanan kotak nasi untuk berbagai acara.

Menurut rencana dari Civil Human Rights Fronts, demonstrasi anti proposal ekstradisi ke China Daratan ini masih akan terus berlanjut minimal hingga Agustus 2019.*

Artikel dimuat di SUARA edisi July Mid 2019, terbit 26 Juli 2019

Facebook Comments