Catatan Hari Kasih Sayang JK3

0
147
ilustrasi. Foto: Istimewa

Tahun-tahun sebelumnya 14 Februari datang dan pergi tanpa meninggalkan pengaruh yang signifikan. Meski sama-sama jomblo, tapi saat itu usia juga masih 20 an. Hidup bagi saya adalah tentang tanggung jawab terhadap keluarga sebagai anak pertama, juga bagaimana untuk bisa mengembangkan potensi diri.

Di Hari Kasih Sayang, meskipun saya tidak ada pasangan di sana masih ada teman serta sahabat yang notabene sesama jomblo. Kalaupun ada yang punya pasangan, mereka juga tidak bisa merayakannya. Maklum pasangan mereka hidup Di seberang lautan. Kami masih bisa saling mengirimkan pesan Valentine, atau keluar bersama jika waktunya memungkinkan. Valentine atau hari libur festival lainnya tak pernah sepi.

Namun saat  usia sudah menginjak kepala 3, valentine datang seperti lonceng gereja di Minggu pagi. Keras dan lantang, seolah berteriak untuk membangunkan kita dari lelapnya mimpi. Satu persatu dari kawan kita pulang kampung, tanggung jawab terhadap keluarga mulai berkurang, pencarian diri pun seolah sudah ditemukan. Ketika hati dan pikiran kita mulai longgar untuk menerima datangya “someone special“ justru kenyataan berkata lain, valentine datang lagi tahun ini kita masih sendiri dan sepi.

Jangankan Valentine day, hari Minggu saja jenuhnya juga semakin berasa. Nonton di hari Minggu, tidak seseru dulu saat anda masih punya teman-teman anda untuk berbagi popcorn. Paling ngenes itu minggu malam saat kita butuh teman makan, tapi semua teman yang ada di kontak list anda sudah ada di tanah air. Dengan terpaksa anda kembali masuk restoran sendirian, menyapa pelayan dengan ucapan yang membuat anda merasa sebal dengan sendirinya,” yat ko wai, emkoy!” Kadang saya memilih untuk memesan makanan untuk dibungkus pulang daripada menyaksikan mereka yang berduaan makan di meja seberang.

Sebenarnya, tanpa diperingatkan dengan gegap gempita Valentine’s Day di setiap pojok Hong Kong pun menjalani hidup sebagai seorang JK3 (Jomblo Kepala 3), sudah berat. Pertanyaan klasik seperti,” kapan pulang, kapan nikah?”  yang bagi kalian hanya sekedar basa-basi bagi kami adalah seperti Toa Adzan Musholla yang anda bunyikan di dekat telinga. Bukan kami tidak tahu atau lupa waktu, tapi memang kami ini Jomblo alias tidak punya calon pasangan yang mau diajak nikah.

Saya bukan satu-satunya JK3 yang merasakan perubahan yang mulai menyiksa ini, Wina salah satu teman saya yang saat tahun ini genap berusia 36 tahun juga merasakan kejenuhan yang sama. Meski dia bisa merayakan hari kasih sayang dengan keluarga Bosnya, bagi wina hal ini tetap tidak bisa menggantikan valentine dengan pasangan.

“Something is still missing!” Ungkapnya kesal tepat 14 Februari kemarin.  Sama halnya seperti saya dia juga merupakan tulang punggung keluarga, bagi orang seperti kami pacaran bukanlah sebuah pilihan bijak. Membagi waktu antara pekerjaan dan kebutuhan keluarga itu saja sudah cukup menyita pikiran. Kalaupun ada waktu luang Wina lebih memilih untuk kembali melanjutkan pendidikan, setidaknya hal ini bisa berguna jika nanti dia berhenti bekerja sebagai Buruh Migran. Tapi waktu terus berlalu, teman-teman seangkatannya mulai pulang dan berkeluarga. Tapi dia masih tetap single.

”Rasanya ngenes, sedih, karena di bully dan mereka enggak tau perasaan yang tengah kita rasakan yang sebenarnya, pingin bilang iri sama mereka yang berbahagia tapi cuma mereka mendoakan semoga kita cepet nyusul.  Pada hal bukan doa mereka yg kita harapkan!” Curhatnya.

Dengan kondisi kerja kita sebagai pekerja migran yang memiliki waktu juga lingkaran sosial yang amat terbatas, mencari pasangan itu seperti mencari kaos kaki yang hilang sebelah. Memang Aplikasi dating seperti Tinder atau Bumble memang terlihat seperti sebuah tawaran yang menggiurkan. Tapi dengan perbedaan budaya dan pandangan tentang “dating approach“ juga menjadi sebuah pertimbangan yang sulit untuk diputuskan, selain itu juga bukan rahasia lagi jika kebanyakan dari mereka hanya sekedar mencari teman kencan untuk beberapa minggu saja.

Valentine memang hari yang menurut saya hanya untuk dirayakan dengan kekasih kita, memang benar merayakan cinta itu tidak mesti dengan pasangan. Tapi bukankah kita sudah cukup banyak hari spesial untuk kita rayakan bersama keluarga dan sahabat? Natal, tahun baru, Idul Fitri sudah ada segudang hari libur lainnya. Tapi satu hal yang perlu diingat, kami para JK3 merupakan perempuan yang terlatih untuk sabar menangung beban juga penuh harapan.

Valentine kali ini akan berlalu seperti yang lalu, kami mungkin bersedih dan merenung untuk beberapa waktu. Tapi kami akan tetap bersyukur dan menikmati apa yang semesta tuangkan dalam nampan kehidupan. Kami memang tak seberuntung yang lainnya dalam perkara asmara, tapi ada banyak sisi lain yang kami lebih unggul disana.

Facebook Comments