Dijanjikan kerja di toko untuk jual-beli baju: Mantan PMI Macau terjebak kurir narkoba internasional

0
1831

TAK PERNAH melintas di benak Dwi Wulandari, 33 tahun, bahwa dirinya akan terjebak dalam jaringan kurir narkoba internasional. Dwi yang pernah bekerja sebagai PMI selama 2 tahun di Macau ini sebenarnya hanya ingin kembali mengais rejeki kembali bekerja keluar negeri demi mengisi tabungan pendidikan anaknya. Namun tak dinyana, keinginan mulia Dwi sebagai seorang ibu, malah membuatnya terseret dalam jaringan kurir narkoba internasional hingga luntang-lantung 6 tahun di Filipina.

Semuanya bermula 6 tahun lalu, saat Dwi yang telah kembali dari Macau ke tengah-tengah keluarganya di Banyuwangi, mulai merasa resah. Pengalamannya bekerja di Macau selama 2 tahun, membuat Dwi merasa bagaimana pentingnya memberi bekal pendidikan setinggi mungkin untuk anaknya. Namun apa daya tabungan telah menipis.

Bagai guyuran air hujan di tengah musim kemarau, seorang tetangga desa berinisial EZ, 37 tahun, tiba-tiba menemui Dwi. Dia ditawari kembali bekerja sebagai PMI, namun kali ini ke Malaysia. Janjinya sih, Dwi akan dipekerjakan di toko dan karena itu, dia harus bolak-balik ke beberapa negara termasuk Peru, India dan Malaysia untuk kulakan barang.

Dwi tentu saja tertarik. Meskipun sebenarnya sang suami dan kedua orang tua merasa keberatan. Namun kebutuhan tabungan pendidikan anak yang mendesak, ditambah lagi saat itu EZ memberikan uang saku kepada keluarga plus untuk Dwi sendiri. Ah… bukankah sebelumnya Dwi pernah bekerja sebagai PMI ke Macau dan tidak ada masalah?

“EZ di rumahnya (di Blitar) punya toko baju dan tas yang diimpor dari luar negeri. Katanya di Guangzhou juga punya toko, hasil kerjasama dengan orang China. Saya diajak ke toko itu, keliling-keliling, dan ikut rapat ekspor-impor,” kata Dwi, saat ditemui SUARA di rumahnya, di Kelurahan Tangkil, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Banyuwangi, Sabtu 31 Agustus 2019.

Maka tanpa curiga, Dwi manut mengikuti intruksi EZ untuk melakukan perjalanan ke Peru, dengan alasan kulakan barang. Perjalanan Dwi ke Peru memakan waktu sekitar 1 bulan, karena EZ terus memberi instruksi agar PMI mampir dulu ke beberapa negara. Dari Indonesia Dwi terbang sendiri ke India dengan transit di Malaysia. Lalu dari Negeri Bollywood itu, dia menerima berbagai pakaian khas lokal, tas, sepatu, dan aksesoris yang dipahaminya sebagai barang kulakan untuk dijual di toko milik EZ nanti. Ya, Dwi pun manut-manut saja apa kata bos.

Dari sana, Dwi bukannya disuruh pulang ke Malaysia. Dia lantas dipingpong lagi untuk pergi ke Amerika Latin, lalu ke Doha, Qatar. Selama seminggu Dwi harus luntang-lantung di Doha karena 2 kali PMI ini ditolak naik Qatar Airways dengan alasan dokumen tak lengkap. “Tapi EZ melarang saya melapor ke KBRI di sana. Saya malah disuruh datang ke China untuk tinggal bersama dia selama seminggu,” kata Dwi berkisah.

Sekali lagi, Dwi bukannya diterbangkan ke Malaysia untuk bekerja di toko seperti janji semula. Dari China Daratan, EZ malah ngotot kembali menerbangkan Dwi ke Peru. Kali ini, lewat Doha, lalu ke Brazil sampai akhirnya masuk Peru. Kali ini, Dwi sukses transit di Doha karena dia tak harus keluar area internasional alias hanya transit saja di bandara. Dari sana, Dwi lantas dipingpong lagi ke Peru.

“Saya waktu itu nggak sadar kalau ternyata  koper saya diisi barang asing waktu di Peru itu,” kata Dwi. Dia pun harus kembali menunggu seminggu di Peru sebelum akhirnya ke Brazil dan melanjutkan lagi perjalanan ke Filipina melalui Dubai.

Dwi mengaku dirinya telah menyadari bahwa berat koper yang dibawanya telah bertambah sekitar 10 kilogram sejak dia berangkat dari Peru menuju Brazil sebelum akhirnya berakhir di Filipina. Namun dia tidak curiga. Dwi tetap merasa sedang membawa barang orang lain hingga tidak mempedulikan apa saja isi kopernya. Pokoknya, dalam benak Dwi, tugas dia hanya sebatas mengikuti instruksi-instruksi EZ saja. Namanya juga jadi kulakan barang, toh?

Namun sikap polos Dwi justru berakhir bencana. Pada Sabtu tengah malam, 29 September 2012, ibu dua orang anak ini ditangkap petugas Bandara Internasional Filipina Ninoy Aquini, Manila. Koper-koper yang diangkut Dwi selama ini kian kemari ke berbagai negara, ternyata berisikan 8 kg kokain.

Dwi berkisah, saat itu seluruh barang-barangnya disita, seluruh badan digeledah, dandia dilarang menghubungi keluarga atau KBRI. Dwi hanya boleh membasuh wajah dan menenangkan diri di toilet. Keesokannya ia dibawa Badan Narkoba Filipina (PDEA) untuk ditahan dan disidang. KBRI Manila brau datang 2 hari kemudian setelah mengetahui dari berita terkait di media masa. Sementara EZ dan dua orang komplotannya tidak bisa lagi dihubungi.

KBRI Manila, bersama lembaga bantuan hukum setempat dan Migrant Care membantu Dwi dan keluarganya menghadapi masa sulit itu. Keluarga Dwi menghabiskan lebih dari Rp 100 juta untuk biaya yang dibutuhkan selama menjalani persidangan dan penahanan. Selama 5 tahun, Dwi mendekam di tahanan penjara Filipina hanya menunggu proses sidangnya. Barulah vonis keluar pada Juni 2017. Ibu dua orang anak ini divonis bersalah dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup!

Dunia bagaikan runtuh. Untunglah, kesalahan prosedur penangkapan petugas custom bandara menjadi salah satu senjata Dwi membebaskan diri. Berita Acara Pemeriksaan (BAP) pun dianggap cacat. Penggeledahan dilakukan pada tengah malam, namun ditulis dilakukan pada pukul 4 subuh, tanpa disaksikan oleh Dwi. Selain itu, barang bukti kokain seberat 8 kilogram, ternyata hanya bisa didatangkan seberat 6 kilogram saja di pengadilan.

Pendek Kisah, akhirnya Dwi dibebaskan karena semua kesalahan prosedur itu. Kini, Dwi telah kembali ke Indonesia dan berkumpul lagi bersama keluarga. “Saya merasa mendapatkan kesempatan kedua menjadi yang terbaik untuk anak-anak. Berarti saya punya tanggung jawab untuk mendidik dan mendampingi anak-anak biar lebih baik dari saya,” kata dia.

Dwi kini tengah berkumpul dengan keluarganya di Blitar. Putri pertamanya mulai berkuliah dengan program beasiswa Bidik Misi dan yang kecil masih bersekolah SD. Dia mengaku tidak jera bekerja di luar negeri karena tetap ingin membangun masa depan anak dengan keringatnya sendiri. Namun Dwi masih terus trauma jika berada di tengah keramaian. Bayangan ruangan luas penjara penuh sesak narapidana wanita yang dia tinggali selama 5 tahun di Filipina, terus membayang.

“Anak (PMI) yang mau pulang atau berangkat (ke Indonesia) jangan mudah mau dititipi (barang). Saya kalau tahu, tidak akan mau dibayar segitu tapi harus mengalami seperti ini. Dan tidak asal berteman yang belum jelas, yang belum kenal baik,” kata Dwi, lirih.*

Dimuat di SUARA cetak edisi September Main, tanggal 6 September 2019

 

 

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments