Dipaksa makan makanan basi, Tarni kabur dari Majikan

0
582
Foto hanya ilustrasi

Tarni, 21 tahun, PMI asal Kendal, Jawa Tengah memutuskan untuk lari dari majikannya setelah 6 bulan pertama berkerja hanya diberi makanan seperti makanan basi dan dipaksa tidur di ruang yang tak layak serta terpisah dari rumah majikan.

“Kamar tempat saya tidur, tidak layaknya kamar, itu seperti gudang. Tempatnya terpisah dari rumah majikan. Tidak ada air bersih, kalau saya mau mandi, saya harus ambil air dari rumah majikan. Itu setiap hari saya lakukan,” kata Tarni kepada SUARA.

Selain itu, Tarni merasa bahwa majikannya tidak memperlakukannya dengan baik, karena seringkali dia hanya diberi kasih makan nasi yang hampir bau dan sudah berair. “Semua makanan yang tidak layak itu saya foto dan rekam, lalu foto dan rekamannya saya kirim lewat WA (Whatsapp) ke HELP,” kata PMI tersebut, menambahkan.

Tarni menyatakan hal utama yang mendorongnya minta tolong ke HELP adalah karena dia merasa pekerjaannya itu pekerjaannya tidak sesuai dengan kontrak kerja yang dia tandatangani.

Keberanian Tarni untuk memutuskan lari dari majikannya bukan dengan pertimbangan yang matang. Pasalnya, Tarni sendiri sebenarnya baru pertama kali bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Hong Kong. “Saya dulu bekerja di Kendal sebagai pekerja di sebuah pabrik. Tetapi karena penghasilan tidak cukup baik, maka saya memberanikan diri memutuskan untuk bekerja di Hong Kong,” kata Tarni.

Beruntung bagi Tarni, saat tiba di Hong Kong untuk pertama kalinya, dia mengikuti sesi welcoming yang diselenggarakan oleh KJRI Hong Kong. “Saya mengikuti sesi welcoming, saya mencatat semua hal-hal penting yang terkait dengan peraturan tenaga kerja di Hong Kong,” kata Tarni saat ditanya tentang mengapa dia berani memutuskan lari dari majikannya. Saat sesi welcoming tersebut, Tarni diberikan pengantar tentang prinsip-prinsip dasar tentang ketenagakerjaan di Hong Kong yang diberikan oleh HELP for domestic workers.

Tarni bekerja di tempat majikannya sudah 6 bulan. Tetapi dia merasa bahwa tempat kerja dan perlakuan majikan tidak sesuai dengan kontrak. Tarni, kemudian menceritakan apa yang dia alami lewat pesan WA ke HELP. Semula tidak ada tanggapan, namun Tarni terus mengirim pesan lewat WA dan menceritakan apa saja yang dia alami, termasuk perlakukan majikannya, yang menempatkan dia di sebuah kamar tersendiri yang terpisah dari rumah majikan.

Upaya Tarni untuk mengkomunikasikan kejadian yang dia alami kepada HELP for domestic workers, akhirnya membuahkan hasil. HELP menanggapi pesan-pesannya. Semula hanya berupa pertanyaan-pertanyaan tentang bukti-bukti yang dia kirimkan dan kemudian gimana situasi yang dia rasakan. Tarni pun mengatakan bahwa dia merasa sangat tertekan dan tidak diperlakukan secara manusiawi oleh majikannya.*

Artikel dimuat di SUARA cetak edisi July Main, terbit 5 Juli 2019

Facebook Comments