Distorsi, perjuangan band metal nyeleneh

0
339

BEGITU nama Distorsi disebut, sekelompok PMI berbaju hitam berdandan ala gothic dengan rambut tergerai segera naik panggung. Jeritan para penggemar terdengar terutama saat Keyonk, sang vokalis, menyawer para penonton dengan stiker Distorsi. Sebuah kaos hitam juga dilempar ke arah penonton, yang membuat mereka semakin riuh.

“Eh, kamu kan sudah punya loh? Buat yang belum punya (kaos Distorsi) aja yah?,” kata Keyonk ke arah PMI penonton yang menyesaki panggung acara HBH Concert 2 di Lai Chi Kok siang itu.

Tak sulit untuk melihat bagaimana Band Distorsi punya penggemar setianya sendiri. Begitu mereka manggung, beberapa PMI yang juga mengenakan kaos senada, segera mengelilingi menyesak berkeliling. Jeritan-jeritan penonton mengimbuhi nyanyian Keyonk yang diiringi petikan ciamik bass Kalina, gitar oleh Een, plus drum oleh Kiwi.

Saat Keyonk yang adalah PMI asal Ponorogo ini mengangguk-anggukkan kepala mengikuti hentakan lagu black metal Distorsi, para penggemar pun kompak mengikuti. Ini opo toh, Mbak? Kok nyanyi teriak-teriak? Syairnya juga nggak jelas?

“Ya harapannya kita, supaya ke depannya semakin banyak organisasi-organisasi (PMI) yang semakin mendukung anak-anak band, karena selama ini, terus terang saja, kita susah setiap kali mau ngadain event harus nyewa sendiri, usaha sendiri, iuran sendiri, karena bagi orang-orang luar, jarang, jarang ada yang ngerti anak band itu sebenarnya seperti apa,” kata Kalina, sambil nyengir.

Orang yang belum terbiasa, mungkin akan langsung tutup telinga begitu mendengar hentakan dan lengkingan keras lagu black metal Distorsi. Penampilan anak-anak band yang selalu berpakaian hitam-hitam serta berhiaskan aksesori silver inipun, juga bisa bikin orang-orang langsung mengerinyitkan dahi.

Untuk bisa mengerti Band Distorsi, baiklah kita mengulik apa itu aliran musik Black Metal yang mereka imani. Jika kita melirik sejarah awal mulanya lahirnya Black Metal, salah satu genre atau aliran musik lagu metal ini memang kerap dikaitkan dengan hal-hal yang berbau satanik dan paganistik. Nah, karena itu jangan heran kalau lagu-lagu yang dinyanyikan Band Distorsi pun selalu mewakili sosok aliran musik black metal ini. Penuh jeritan vokal melengking, petikan gitar yang terdistorsi dan struktur lagu yang tidak konvensional.

Petikan gitar yang terdistorsi alias dibikin ‘nyeleneh’ ini jugalah yang akhirnya mengilhami nama band anak-anak PMI itu, yaitu: Band Distorsi.

Sekilas, harus diakui bahwa sangatlah mudah menyelewengkan sosok anak-anak black metal semacam Distorsi ini ke anggapan negatif. Sekalipun sebenarnya mereka hanya menyalurkan bakat dan talenta lewat nada dan lagu, yang kebetulan tak akrab di telinga orang-orang kebanyakan.

Alhasil, para personel Distorsi yaitu Keyonk asal Ponorogo dan Kalina asal Banyuwangi serta Een dari Kebumen harus berjuang untuk bisa terus mempertahankan band mereka. Awal terbentuknya band black metal yang beranggotakan PMI semuanya inipun bukan hal yang mudah.

“Awalnya itu kita dari Band Rokka, tapi kemudian ada yang pulang (ke Indonesia) akhirnya jadi Distorsi,” kata Kalina kepada SUARA.

Bermula pada tahun 2012 saat Een sebagai gitaris, Kiwi sebagai drummer, Emmy pemegang bass dengan Helu sebagai vokalis membentuk Band Rokka yang beraliran slamming death metal. Mereka semuanya PMI dan sama-sama belajar secara otodidak di sela-sela waktu lilbur.

Semula Band Rokka ini berjalan mulus. Mereka bahkan sempat rekaman di Noisy Hong Kong dengan 2 buah lagu hasil ciptaan sendiri. Gelar juara pun langganan mampir di tangan. Sebut saja Band Rokka sebagai juara 3 di perlombaan yang diadakan KJRI, juara 1 di perlombaan yang diadakan LiPMI serta juara 1 serta juara favorit di perlombaan yang digelar organisasi Soundworkers. “Tapi waktu itu terkendala di antara kami ada yang harus pulang ke Indonesia, akhirnya Mei 2016 terpaksa dibubarkan,” kata Een.

Sempat vakum beberapa bulan, bibit munculnya Band Distorsi mulai terbentuk. Pada Agustus 2016, Een, Kalina, Afath, Lulu dan David membentuk band bareng untuk mengikuti suatu lomba untuk para PMI di HK. Sukses menjadi juara favorit, akhirnya mereka bertemu Keyonk pada April 2017, dan menjadi Band Distorsi.

Sempat mengikut berbagai lomba band di HK, pada September 2017 band ini kembali menemui tantangan saat drummer mereka yaitu Lulu, pulang ke Indonesia dan tidak kembali ke HK. “Setelah itu kita hanya menggunakan additional drummer, ada beberapa teman yang sempat main, ada Cabo, Kiki, Ria dan Kiwi,” kata Een, berkisah.

Kini, anggota tetap Band Distorsi hanya ada 3 orang, yaitu Een sebagai gitaris, Kalina memegang bass dan Keyong sebagai vokalis. Sementara untuk drummer, dipegang berganti-gantian oleh Kiwi yang berasal dari Ponorogo dan Ria dari Indramayu. Meski demikian, sebersit harapan untuk terus dikenal dan diterima di kalangan PMI serta KJRI terus tersimpan di hati.

Apalagi Band Distorsi sudah sempat satu panggung dengan penyanyi terkenal Via Vallen pada Panggung Merah Putih beberapa waktu lalu. Maju terus, anak-anak band PMI!

Artikel dimuat di SUARA edisi July Mid 2019, terbit 26 Juli 2019

Facebook Comments