Enam Kasus Pembunuhan Paling Brutal yang Sempat Mengguncang Hong Kong

0
335
Ilustrasi

Menurut berita yang dilansir oleh South China Morning Post (SCMP), ada enam kasus pembunuhan paling brutal dan tidak akan pernah terlupakan sepanjang tahun 1980  hingga tahun 2018 yang sempat mengejutkan dan menghebohkan masyarakat Hong Kong.

 Jars Killer (1982)

Lam Kor-wan (27th), seorang sopir taxi malam, melakukan serangkaian pembunuhan mengerikan dengan sasaran korban empat orang perempuan.

Lam yang memiliki latar belakang kehidupan keluarga yang tidak bahagia dan mengalami kecanduan pornografi, melakukan pembunuhan terhadap penumpang taxi-nya dengan cara mencekik korban menggunakan kabel listrik sampai mati, membawa mayatnya pulang ke rumahnya dan memutilasinya serta mengambil gambar serta video dari setiap potongan tubuh korban dengan kamera film.

Setelah mengambil gambar-gambar yang diinginkan, Lam membuang potongan-potongan tubuh lainnya dan menyimpan potongan alat vital dan organ tubuh korban di dalam sebuah guci yang sudah diisi cairan pengawet.

Lam berbagi kamar tidur dengan saudaranya, yang tidak mengetahui aktivitasnya. Sebab Lam bekerja semalaman, sehingga punya kesempatan memotong korbannya di rumah selama siang hari tanpa perlu diketahui keluarga dekatnya. Awalnya, polisi menangkap semua anggota keluarga Lam karena menduga tidak mungkin pembunuhan  korban sebanyak dan semengerikan itu dilakukan seorang diri. Tetapi polisi kemudian membebaskan keluarga Lam karena tidak terbukti bersalah.

Sebelum Lam tertangkap, media Hong Kong menyebut pelaku pembunuhan berantai yang sedang dicari Polisi dengan julukan “Pembunuh di Malam Hujan”. Karena para korban dijemput, menghilang dan terbunuh pada saat cuaca buruk di malam hari.

 

Namun, setelah Lam tertangkap, hasil penemuan barang bukti pembunuhan membuat julukan lelaki muda yang mengalami gangguan kepribadian itu berubah menjadi ‘Pembunuh Guci” atau Jars Killer.

Lam yang sama sekali tidak menunjukkan rasa penyesalannya saat di persidangan, awalnya dijatuhi hukuman gantung sampai mati oleh hakim di pengadilan. Tapi karena peraturan hukuman mati kemudian dihapuskan, Lam diharuskan tinggal di penjara sampai meninggal.

Cerita kasus Lam yang menghebohkan publik kemudian diadaptasi menjadi sebuah film berjudul  Dr. Lamb (1992) yang dibintangi oleh Simon Yam.

Braemar Hill Murder (1985)

Pembunuhan Bukit Braemar terjadi di Hong Kong pada 20 April 1985. Sepasang remaja Inggris bernama Kenneth McBride (17th) dan Nicola Myers (18th) dibunuh secara sadis oleh sekelompok gangster di area Braemar Hill.

Sehari setelah terjadinya pembunuhan, mayat McBride ditemukan dalam keadaan terikat. Ada bekas pemukulan, bekas cekikan di leherdan dan lebih dari 100 luka di tubuhnya. Sedangkan mayat Myers ditemukan dalam keadaan setengah telanjang, rahangnya patah, dan bola mata kirinya keluar dari soketnya. Selain itu dari hasil otopsi di rumah sakit diketahui kalau Myers juga menjadi korban pemerkosaan sebelum meninggal.

Kelima pelaku kasus penyiksaan dan pembunuhan yang mengerikan tersebut baru berhasil ditangkap beberapa bulan kemudian. Setelah keluarga korban yang dari kalangan ekspatriat ternama mengeluarkan dan meminta polisi mengadakan sayembara berhadiah uang.

Cerita kasus pembunuhan ini pada tahun 1992, kisahnya diadaptasi dalam film “Suburb Murder”. Sedangkan usaha para pelaku pembunuhan untuk meminta pengampunan atau amnesty juga diadaptasi menjadi film berjudul “From the Queen to the Chief Executive” (2001), film ini berlatar belakang peralihan kekuasaan atas Hong Kong dari Inggris kepada China.

 The Hello kitty Murder (1999)

The Hello Kitty Murder adalah kasus pembunuhan tahun 1999 dengan korban bernama Fan Man-yee (23th), seorang nyonya rumah klub malam yang diculik dan disiksa oleh tiga orang pria (Chan Man-lok 34th, Leung Shing-cho 27th dan Leung Wai-lun 21th).

Fan diculik dan disekap di sebuah apartemen di kawasan Tsim Sha Tsui. Setelah satu bulan disekap dan disiksa, korban dibunuh dan tubuhnya dipotong-potong. Untuk menutup jejak, para pelaku memasukkan kepala dan beberapa potong tubuh korban ke dalam boneka putri duyung raksasa Hello Kitty dan membuang sebagian besar bagian tubuh lainnya.

Ketika polisi berhasil menemukan sisa tubuh Fan dan menangkap tiga pelakunya, berita tentang pembunuhan yang mengerikan tersebut dengan cepat menjadi cerita sensasional di media lokal dan internasional.

Publisitas cerita nyata seputar kasus ini akhirnya menginspirasi lahirnya dua buah film yang menceritakan tentang kisah Fan, yakni “Human Pork Chop” dan “There is a Secret in my Soup” yang dirilis pada tahun 2001. Sedangkan gedung apartemen tempat terjadinya kejahatan telah dihancurkan pada bulan September 2012 dan dibangun kembali menjadi hotel pada tahun 2016.

 

 The Milkshake Murder (2003)

The Milkshake Murder atau disebut juga kasus pembunuhan Nancy Ann Kissel adalah kasus pembunuhan yang dilakukan oleh Nancy dengan korban suaminya sendiri; Robert Peter Kissel (40th) seorang investemen bank.

Kasus ini lebih dikenal sebagai “pembunuhan milkshake” karena Nancy diketahui telah melumpuhkan suaminya dengan memberinya minuman milkshake stroberi yang telah dicampur dengan obat penenang, sebelum kemudian memukul kepalanya hingga mati dan menggulung mayatnya dengan karpet serta menyimpannya di gudang apartamen mereka pada 2 November 2003.

Kasus Nancy merupakan pembunuhan profil tertinggi dari seorang ekspatriat dalam sejarah Hong Kong, hampir setara dengan pembunuhan Braemar Hill. Oleh karena itu persidangan dilakukan secara tertutup dan media memburu secara ketat beritanya.

Nancy terbukti bersalah dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup pada tahun 2005. Namun Nancy menolak hukuman dan mengklaim bahwa dirinya melakukan pembunuhan karena terpaksa. Nancy mengaku jadi korban kekerasan dalam rumah tangga dan korban pemerkosaan oleh suaminya. Sedangkan dari kesaksian para saksi diketahui bahwa sebenarnya Robert sedang mengurus perceraian dengan Nancy karena perempuan tersebut ketahuan berselingkuh.

Pengajuan banding Nancy diterima pada Februari 2010. Namun pada pengadilan ulang atas kasusnya yang dimulai pada 12 Januari 2011 dan berakhir pada  25 Maret 2011, sekali lagi Nancy dinyatakan bersalah atas pembunuhan suaminya dan tetap dijatuhi hukuman seumur hidup di penjara Tai Lam Center for Women.


Rurik Jutting (2014)

Kasus Rurik Jutting adalah kasus Pembunuhan Sumarti Ningsih dan Seneng Mujiasih, dua Warga Negara Indonesia (WNI) yang disiksa dan dimutilasi pada bulan November 2014, di sebuah apartemen mewah dengan satu kamar tidur di kawasan Wan Chai.

Pembunuhan yang dilakukan oleh Rurik George Caton Jutting diketahui polisi setelah yang bersangkutan – yang sedang dalam keadaan mabuk – menelepon polisi sebanyak tiga kali untuk melaporkan adanya hal ganjil di apartemennya.

Ketika polisi tiba langsung menemukan barang bukti berupa pisau 12 inci, mainan seks dan kokain di apartemen Jutting. Sementara Seneng Mujiasih ditemukan dalam keadaan terbaring telanjang di lantai, dengan luka tusuk di leher, dan pantatnya. Ketika polisi datang, Seneng masih hidup. Dan baru dinyatakan meninggal segera setelahnya. Jutting yang dalam keadaan meracau langsung ditangkap.

Delapan jam setelah penangkapan Jutting, mayat korban kedua yang telah dipotong kepalanya ditemukan di dalam koper besar berwarna hitam di balkon apartemen. Mayat tersebut sudah dalam keadaan membusuk dalam posisi tangan dan kaki terikat tali dan dibungkus handuk.  Dari hasil identifikasi diketahui mayat itu adalah Ningsih.

Dari hasil pemeriksaan polisi di dalam hape Jutting ditemukan sekitar 2.000 foto. Foto-foto ini termasuk bukti dari sadomasochistic nature; Jutting juga telah mengambil foto dirinya sendiri dengan bagian tubuh yang berbeda, termasuk organ seksual dan kepala Ningsih yang separuh terputus, dan ada video yang merekam saat dia sedang berusaha membunuh salah satu korbannya. Jutting didakwa dengan pembunuhan ganda dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Usaha pengajuan bandingnya pun ditolak oleh pengadilan tinggi Hong Kong.


The Parent Killer (2015)

The Parent Killer adalah kasus pembunuhan sepasang suami istri yang sudah lanjut usia, Glory Chau dan Moon Siu, oleh anak bungsunya Henry Chau (28th) dan temannya Angus Tse (35th).

Sebelum kasus tersebut terbongkar, setelah melakukan pembunuhan mengerikan dengan cara memukul dan mencincang tubuh kedua orang tuanya, menggarami dan memasak serta memanggang dan menyimpan potongan tubuh yang sudah dimasak “seperti daging babi panggang” ke dalam kulkas, Chau berpura-pura sedih karena kehilangan orang tuanya dan bersama kakaknya membuat laporan ke kantor polisi.

Rincian mengerikan dari kasus pembunuhan ini mengejutkan publik dan memicu sejumlah besar liputan serta menjadi headline berbagai media di Hong Kong.

Pada 20 Maret 2015, hakim Pengadilan Tinggi Michael Stuart-Moore memutuskan Chau bersalah atas pembunuhan ganda yang sudah dilakukannya dan memberinya hukuman penjara. Sementara temannya, Tse, dinyatakan bebas karena tidak terbukti bersalah atas tuduhan pembunuhan.

Facebook Comments