Fitri luntang-lantung 5 tahun menunggu proses mengajukan paper ke Imigrasi HK

0
766

MENGAJUKAN permohonan torture claimer atau yang biasa disebut ‘paper’ ternyata tidaklah mudah dan dapat makan waktu bertahun-tahun. Seorang mantan PMI bernama Fitri asal Semarang, terpaksa menunggu 5 tahun hanya untuk mendaftar pengajuan sebagai ‘paper’.

“Biasanya memang begitu, kalau kita ngikutin prosedur lama dibikinnya,” kata Fitri kepada SUARA, tak lama setelah sidangnya selesai digelar di Pengadilan Shatin, Kamis, 27/12/2018.

Fitri mulai bekerja di Hong Kong pada 2011, namun Fitri memilih putus kontrak dari majikan tak lama setelah menyadari dirinya mengandung anak pertama pada tahun 2013. Setelah overstay 16 hari, Fitri kemudian mendatangi Gedung Imigrasi di Kowloon Bay untuk surrender atau menyerahkan diri, sekaligus menyatakan niatnya untuk jadi anak paper.

“Aku trauma, nggak mau pulang, pokoknya ada orang jahat di Indonesia yang mau nyakitin aku, lebih baik aku di sini ajah, aku juga nggak punya keluarga lagi di sana,” kata Fitri kepada SUARA.

Namun sejak 2013, Fitri bolak-balik dipingpong mengurus surat pengajuan papernya itu dari Gedung Imigrasi di Kowloon Bay ke Mau Tau Kok, hingga akhirnya harus menjalani sidang terlebih dahulu di Pengadilan Shatin.

Selama 5 tahun menunggu proses papernya berjalan, Fitri tinggal di Yuen Long bersama suaminya berasal dari Pakistan, bersama 3 orang anaknya yang lahir kemudian. Sang suami juga berstatus paper.

“Nggak apa-apa, Mbak… yang penting di sini itu semuanya jelas. Pas mau nikah juga Imigrasinya pasti, kita nggak punya paspor saja masih boleh nikah, asal ada fotokopiannya, nggak kayak kalau di Indo, kan, susah banget tuh harus ada macam-macam,” kata Fitri.

Setelah surrender atau meyerahkan diri ke Departemen Imigrasi di Kowloon Bay, Fitri mulanya disuruh membawa surat ke Kantor Imigrasi di Mau Tau Kok. Namun mantan PMI ini sempat ditolak pengajuan papernya karena telah berstatus overstay 16 hari. Alhasil, Fitri harus menunggu terlebih dahulu proses investigasi Imigrasi hingga kasusnya naik sidang.

“Apa kamu bersedia mengaku bersalah karena dengan sadar sengaja tinggal di Hong Kong selama 16 hari sekalipun kamu telah putus kontrak pada 2013?,” kata Hakim So wai-Tak kepada Fitri, saat mantan PMI itu akhirnya disidangkan di Pengadilan Shatin, Kamis, 27/12/2018.

Fitri hanya mengangguk dan berdiri tenang saat Hakim So memutuskan hukuman penjara 3 minggu yang dikurangi menjadi 2 minggu, ditunda 18 bulan.

Hukuman penjara yang ditunda artinya, Fitri hanya akan masuk bui selama 2 minggu jika dalam waktu 18 bulan ke depan, terbukti melakukan pelanggaran hukum apapun di wilayah Hong Kong. Jika tidak, mantan PMI ini tetap dapat melenggang bebas.

“Nggak apa-apa, Mbak, temenku malah masih ada yang nunggu (proses pengajuan papernya), padahal dia sudah surrender sejak 2011,” kata Fitri kepada SUARA, setelah sidangnya usai.

Artikel dimuat di SUARA edisi January Main, terbit 4 Januari 2019

Facebook Comments