Heboh dugaan penipuan Free Spirit Travel pada masa lebaran: Para korban tuding staf CY sebagai biang keladi

0
328

KASUS dugaan penipuan tiket dari Free Spirit Travel yang membuat lebih dari 460 PMI menjadi korban, kini terus memanas. Para korban mulai menuding seorang staf Indonesia berinisial CY atau nama aslinya SMI yang bekerja di Free Spirit Travel, sebagai biang keladi penipuan tiket.

“Saya sebenarnya sudah biasa beli tiket dari CY sejak waktu dia masih kerja di Happy Travel, terus beberapa tahun lalu dia telepon kasih tahu kalau dia sekarang sudah buka travel sendiri, ya itu yang namanya Free Spirit Travel. Karena sudah jadi langganan, ya saya pindah saja ke dia,” kata Sri, PMI asal Madiun kepada SUARA, Minggu, 2/6/2019.

Sri menyatakan, dia selalu membeli tiket lewat CY karena harganya miring. Selain itu, dia merasa sangat percaya dengan CY karena telah lama berlangganan membeli tiket dari WNI yang berstatus HK permanent resident itu. “Saya selama ini nggak pernah ada masalah apa-apa kalau beli tiket sama dia, kok ya bisa-bisanya kali ini kena tipu begini, ya Allah,” kata Sri.

Minggu, 2/6/2019, Sri bersama 9 PMI lainnya bersama-sama melaporkan kasus dugaan penipuan tiket Free Spirit Travel ke Kepolisian Wan Chai. Sepuluh PMI yang melapor hari itu mengalami kerugian antara HK$ 3700-6000 per orang akibat membeli tiket abal-abal dari Hong Kong ke Surabaya, Tanjung Karang, Semarang dan Yogyakarta. “Kita semua ini dilayaninya ya cuma sama si CY itu, nggak ada staf lainnya,” kata Fitri, salah seorang PMI korban yang akhirnya batal berlebaran bersama keluarga di Tanjung Karang akibat kasus ini.

Hal senada juga diungkapkan Ami, PMI asal Yogyakarta saat ditemui SUARA di kantor Garuda Indonesia, Rabu, 31/5/2019. PMI tersebut datang ke kantor Garuda untuk mengecek tiket yang dibelinya dari Free Spirit Travel.

“Saya ini sebenarnya sudah 3 kali beli tiket semuanya sama staf yang itu, sama dia itu (CY). Yang dua kali aman, kok yang ini nggak bisa terbang? Makanya saya bingung sekarang, mau poking, majikan bilang, sudahlah mou yung, uang kamu juga nggak akan kembali, akhirnya tiket saya dibeliin sama majikan,” kata Ami. Majikan lantas membelikan tiket baru untuk Ami seharga HK$ 4879 dari Hong Kong ke Yogyakarta dengan transit semalam di Bali. “Saya perginya harus transit sehari di Bali, tapi nggak apa-apa, yang penting dapat tiket pulang dulu,”kata Ami sambil beberapa kali menghela napas.

Happy Travel saat ditemui SUARA, Rabu, 31/5/2019, membenarkan bahwa CY dahulu adalah salah satu staf mereka. Namun CY dipecat dari travel tersebut pada tahun 2015 karena diduga terlibat penggelapan tiket dengan nilai total hampir HK$ 200 ribu.

Hebohnya tudingan terhadap CY dan pemilik Free Spirit Travel juga ramai jadi dibahas para korban di media sosial facebook.

Tips menghindari tiket abal-abal

Kepada SUARA, Happy Travel memberikan beberapa tips untuk para PMI agar jangan sampai tertipu tiket abal-abal. “Pertama, pastikan membeli tiket di perusahaan yang integritasnya jelas. Kedua, setelah booking dan beli tiket, kita harus dapat yang namanya e-ticket number, bukan confirmation number saja. Entah itu (nomor e-ticket) dikirim lewat whatsapp atau kitanya disuruh datang sendiri untuk ambil, pokoknya kita harus ada e-ticket number itu. Lalu yang ketiga, cek nomor e-ticket itu ke website maskapai penerbangan yang sesuai tiket itu, kalau belinya Garuda ya cek ke (website) Garuda, kalau Cathay ya cek ke (website) Cathay, beneran ada tiketnya tidak? Jangan mudah percaya karena iming-iming harga murah atau katanya pelayanannya ramah,” kata Nunuk, salah seorang staf Happy Travel.

Konsul Industri Perjalanan atau Travel Industry Council di Hong Kong menyatakan telah mencabut ijin Free Spirit Travel sejak 30 Mei 2019 malam. Kantor Free Spirit Travel sendiri juga telah ditutup sejak 30 Mei 2019, dan nomor teleponnya tak lagi bisa dihubungi.

Sementara kepada SUARA, Kepolisian Hong Kong, Selasa, 4/6/2019, mengatakan bahwa investigasi kasus dugaan penipuan tiket abal-abal tersebut kini dilanjutkan oleh Petugas Bea Cukai di bawah Grup Investigasi Praktek Perdagangan yang Tidak Adil.*

Artikel dimuat di SUARA edisi Juni Main 2019, terbit 6 Juni 2019

 

 

Facebook Comments