Hong Kong akan buka training gratis 800 caregiver

0
1028
Menteri Labour HK Law saat mengunjungi tempat pelatihan caregiver di Jakarta, 22/1/2019/Foto:Solahudin

DEPARTEMEN Labour Hong Kong akan membuka kesempatan training caregiver gratis untuk 800 pekerja migran pada Mei tahun ini. Untuk PMI, kesempatan ikut training caregiver ini akan akan dikoordinasi KJRI.

“Beliau merasa puas atas training sebelumnya yang telah diselenggarakan pada Agustus 2018, dan akan membuka lagi training serupa pada tahun ini, dan Beliau menjanjikan kali ini kapasitas untuk pekerja Indonesia akan lebih besar daripada Filipina,” kata Konsul Jenderal Tri Tharyat kepada SUARA, Rabu, 23/1/2019.

Pada Agustus 2018, Departemen Labor HK telah menyelenggarakan training gratis caregiver untuk 300 pekerja migran dari Indonesia dan Filipina di Hong Kong. Pada pernyataan resminya, Menteri Labor Hong Kong menyatakan bahwa training tersebut merupakan bagian dari Proyek Percontohan Training untuk Pekerja Domestik Asing, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan merawat para orang tua jompo terutama yang berada dalam kondisi sakit, meningkatkan kualitas hidup para jompo di komunitas mereka, dan menjadi bagian upaya Pemerintah HK mendukung para jompo di kota ini.

Berdasarkan hasil evaluasi training jompo pada Agustus 2018 itulah, Menteri Labor Hong Kong menyatakan akan mengadakan lagi training serupa untuk 800 pekerja migran Indonesia dan Filipina pada Mei 2019. Kali ini, menurut Konjen Tri Tharyat, training tersebut akan lebih banyak diprioritaskan untuk PMI di Hong Kong.
Menteri Labour HK Law Chi-kwong berkunjung ke Jakarta pada 21-22/1/2019, untuk menemui Ketua BNP2TKI Nusron Wahid dan Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri. Pada hari terakhir, Menteri Law juga menyempatkan diri mengunjungi 2 Balai Latihan Kerja untuk mengecek langsung cara pelatihan kerja di Indonesia baik untuk pekerja rumah tangga termasuk caregiver dan juga untuk pekerja pabrik.

“Dalam kunjungannya (ke Jakarta) itu, Beliau (Menteri Labour HK Law) menyatakan kepuasannya atas hasil peninjauan ke training center yang di Jakarta, dan Beliau juga menyatakan kepuasannya atas training (caregiver) yang telah diselenggarakan di Hong Kong, dan menurut rencana, Hong Kong akan membuka lagi training serupa dengan kapasitas yang lebih besar,” kata Konsul Jenderal Tri Tharyat yang turut hadir dalam kunjungan resmi Menteri Law tersebut.
Selain itu, Konjen Tri Tharyat menyatakan, akan diupayakan penyelarasan kualitas training caregiver antara Hong Kong dengan Indonesia. “Ke depannya, ada ide seperti itu, dan yang pasti akan diurus oleh BNP2TKI,” kata Konjen Tri.

Meski demikian Konjen Tri menyatakan belum ada pembicaraan lanjut tentang apakah nanti akan ada visa khusus atau standar gaji khusus untuk pekerja migran yang telah mengikuti training caregiver di Hong Kong. “Sejauh ini belum, belum ada, training (di Hong Kong) ini tujuannya untuk meningkatkan skill menjadi caregiver,” kata Konjen Tri.
Seperti sebelumnya, KJRI akan mengkoodinir peserta PMI untuk training di Labour Hong Kong, dengan syarat mendapatkan ijin dari majikan dan telah bekerja sebagai caregiver sebelumnya.
PMI minta visa khusus caregiver

PMI yang telah bekerja sebagai caregiver di Hong Kong ternyata tidak semua antusias mengikuti training dari Departemen Labor HK itu.
“Sekarang saya sudah jaga nenek yang sakit, gaji sudah lebih dari standar, saya juga sudah bisa nyuntik, ganti kateter segala macam lah. Suster di rumah sakit saja sampai kaget waktu lihat saya bisa gantiin kantong untuk BAB nenek. Yang kurang sekarang, cuma visanya saja,” kata Melly, seorang PMI yang telah bekerja kurang lebih 8 tahun di Hong Kong.

Melly yang bekerja di North Point ini menerima gaji HK$ 6000 per bulan untuk menjaga nenek yang terbaring sakit. PMI ini harus mencuri-curi waktu libur dengan cara bergantian menjaga si Nenek dengan Siuce majikan, sehingga Melly berpikir dua kali jika harus mengikuti program upgrading training caregiver tanpa perubahan status visa.

“Masalahnya aku sudah bisa ngelakuin semuanya, nggak usah ditraining lagi, selama ini banyak teman-teman yang ngirim lewat whatsapp, ayo ikut pelatihan caregiver ini itu. Tapi waktunya itu loh, nggak ada. Aku mau saja paksain ikut training, bayar sendiri juga hayoook, asal nanti visanya juga beda,” kata Melly.

Suara serupa dinyatakan Sringatin dari Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI) menanggapi rencana upgrading PMI menjadi caregiver ini. Menurutnya, program upgrading Pekerja Rumah Tangga Migran menjadi caregiver di Hong Kong harus memprioritaskan jaminan peningkatan dan perbaikan kondisi kerja pekerja migran terutama terkait masalah kenaikan gaji, jam kerja, jam istirahat dan terkait masalah pelarangan ganti majikan.

“Kalau misalkan pun diganti nama jadi caregiver, apakah akan mampu merubah kondisi kerja pekerja migran? Apakah itu juga akan bisa membuat pekerja migran mendapatkan gaji yang lebih tinggi? Boleh kontrak mandiri dan tidak terbebani dengan biaya agen? Nah ini mungkin yang harus diprioritaskan Pemerintah Indonesia,” kata Sringatin.


Artikel dimuat di SUARA edisi Februari Main 2019, terbit 1 Februari 2019

Facebook Comments