Hong Kong Tidak Seindah Foto Profil

0
1526
Pekerja Migran Indonesia (PMI) menghabiskan waktu liburnya di tengah lapangan rumput Victoria Park, Causeway Bay. Foto: Yuli Riswati

Banyak orang beranggapan bahwa, menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hong Kong adalah pekerjaan yang tepat dan mudah. Persepsi ini juga didukung adanya perkembangan teknologi dan pesatnya informasi. Setiap orang dituntut agar tidak tertinggal dari kemajuan, tidak terkecuali juga para PMI di Hong Kong. Memiliki smartphone canggih, bermain media sosial, dan memiliki hal atau barang yang seringkali dijadikan untuk menunjukkan kesetaraan (kehidupan yang baik-baik saja dan layak)

Namun jauh dari hal itu, segala keluh kesah dan kesulitan yang mereka hadapi di Negara yang asing, mereka simpan di balik foto-foto “cantik” yang mereka unggah di media sosial dengan banyak pertimbangan: tidak ingin keluarga khawatir, ingin terlihat baik-baik saja atau tidak ingin di bully.

Jam Kerja Lebih Dari 13 Jam

Baru-baru ini pada hari Rabu (13/02/2019), Pusat Penelitian Migrasi dan Mobilitas Universitas China mengumumkan hasil survey yang dibuat pada periode Mei-September 2017 untuk mempelajari tentang kondisi kerja lebih dari 380.000 pekerja rumah tangga (PRT) migran di Hong Kong.

Dari hasil survey ditemukan sebanyak 8,9 % PRT migran bekerja lebih dari 16 jam sehari. 61,7 % bekerja antara 13 sampai 16 jam sehari. Sisanya 26,5 % bekerja 9 sampai 12 jam sehari.

Eman Villanueva, juru bicara Badan Koordinasi Migran Asia (AMCB) mengatakan jam kerja yang panjang dapat menyebabkan kesehatan yang buruk. Villanueva juga mengatakan lebih dari 120 pekerja migran meninggal di Hong Kong pada 2016 – sebagian besar dari penyakit yang berkaitan dengan stres seperti hipertensi

Tidak cukup sampai di sana, seringkali mereka masih harus melakukan pekerjaan di hari libur. Sepulang atau sebelum berangkat berlibur.

Upah Yang Tidak Sepadan?

Assiten Profesor Bi Huayi dari Kampus Chinise University menyebut bahwa, upah pekerja Rumah Tangga (PRT) Migran sebesar Hk$4520 dianggap tidak layak dan tidak proposional dengan jam kerja. Jika jam kerjanya 13 jam, maka yang pantas adalah $10 per-jam atau dua kali lipat upah minimum di Hong Kong.

Belum lagi, jika dilihat dari semakin mahalnya kebutuhan di Hong Kong: biaya transportasi, makanan dan kebutuhan lain yang naik harga. Kenaikan upah sebesar kurang leih HK$500 selama sekitar 20 tahun memperburuk citra pemerintah Hong Kong dalam memperhatikan para perkerja migrant.

Dalam sekali libur di hari Minggu, para PMI bisa menghabiskan HK$200-150 dalam satu hari untuk makan dan transportasi pulang-pergi, dalam sebulan HK$800-600, belum termasuk jika terdapat public holiday. Beberapa di antara mereka menyatakan, seringkali keluarga di Indonesia tidak memahami kondisi mereka dan mengharuskan mereka mengirimkan uang sebanyak-banyaknya. Tidak jarang misskomunikasi dan kurangnya pemahaman keluarga inilah yang menimbulkan banyak pekerja migrant mengalami stress hingga bunuh diri.

Akomodasi Yang Tidak Layak

Survey juga mengungkap hanya sebanyak 43% yang memiliki kamar sendiri. Tidak jarang yang dimaksud dengan kamar sendiri adalah kamar mandi, lemari di atas dapur, di bawah tangga dan tempat-tempat kecil di dalam rumah yang hanya berukuran 2×2 meter.

Hal ini diperburuk dengan masih adanya majikan yang tidak memberi makan cukup pada pekerjanya dengan layak.

Rasisme, Diskriminasi dan Terkurung

Bercerita seorang narasumber Hillah (bukan nama sebenarnya) 29th. PMI exs (Experience) Singapura yang pernah menjalani dua kali rawat inap di salah satu rumah sakit di Hong Kong karena didiagnosa menderita anxiety disorders, gangguan kejiwaan dengan merasakan kecemasan berlebihan. Gejala ini membuatnya merasa ketakutan dan tidak tenang. Ketika Hillah kambuh, dia hanya menangis dan tidak mampu berbicara. Dia mengatakan keadaannya berangsur-angsur memburuk.

“Yang awalnya kambuh sebulan sekali, tiga Minggu sekali, seminggu sekali, hingga setiap hari”

Hal ini membuatnya harus mengonsumsi obat-obatan.

“Saya bahkan berpikir dua kali hanya untuk menuju kamar mandi.”

Dia mendapat perlakuan diskriminatif dari orangtua majikannya yang selalu mengawasi pekerjaannya di rumah setiap hari, memarahinya karena kesalahpahaman bahasa atau hal-hal yang menurut si nenek tidak dikehendaki. Ditambah dengan dua kamera pengawas. Hillah merasa tertekan bahwa, gerak-geriknya seakan dicurigai.

“Aku takut kalau nenekku marah,” jelasnya.

Di kontrak pertama, Hilla seringkali mendapat perlakuan yang menurutnya tidak manusiawi, memberinya mie instan kadaluarsa, makan malam hanya sepiring nasi, atau melarangnya duduk di sofa.

Hilla sempat mengajukan break kontrak, tapi sang majikan menahannya hingga dia memutuskan melanjutkan kontrak ke-2. Berpikir keadaan akan membaik, Hillah malah seakan merasa bahwa si nenek membencinya dan dia tidak pernah melakukan pekerjaan dengan benar.

Hal ini diperparah dengan sikapnya yang memutuskan untuk tidak terbuka kepada keluarga dan teman-temanya.

“Dulu saya pikir percuma bercerita kepada orang lain, mereka tidak akan bisa membantu apa yang saya rasakan”

Hillah tetap menjalani kehidupannya dengan baik di hadapan banyak orang. Sebaik foto profil yang dipasangnya di Facebook. Hanya sedikit bercerita tentang apa yang dialami di kolom status akun Facebooknya, Jauh dari hal itu. Di balik tawanya yang hanya diperoleh setiap hari Minggu. Dia merasa sendirian dan tertekan.

Apa yang mendasari si nenek begitu rasis padanya hanya karena Hillah lebih banyak menggunakan Bahasa Inggris dalam berkomunikasi (bukan bahasa Kantonis).

Dia juga merasa tidak ada tempat lain untuk merasakan kebebasan, karena dia tidak diharuskan keluar rumah untuk belanja, meski sesekali harus mengantar anak majikannya pergi sekolah. Fadillah merasa lebih banyak terkurung dari pada menghirup udara di luar rumah.

Setelah Hilla merasa tidak tahan, akhirnya dia memutuskan untuk mengakhiri kontrak dan pulang ke Indonesia.

Facebook Comments