JBMI: Pekerja migran tinggal di rumah pada hari libur tidak akan selesaikan masalah virus corona

0
1189
ILPS Hong Kong & Macau menggelar protes di depan KJRI di Causeway Bay sebagai bentuk solidaritas mendukung Rakyat Papua Barat/Foto: Facebook ILPS Hong Kong&Macau.

Jaringan Buruh Migran Indonesia (JBMI), 31/1/2020, mengeluarkan pernyataan mengkritisi himbauan Departemen Labour yang meminta Pekerja Rumah Tangga migran tetap tinggal di rumah pada hari libur mereka dengan alasan untuk menjaga kesehatan dan mengurangi resiko penyebaran Virus Corona.

JBMI menial himbauan tersebut tidak masuk akal, tidak adil dan diskriminatif terhadap pekerja migran rumah tanga.

“Meskipun PRT migran dihimbau untuk tidak keluar rumah pada hari liburnya namun jika anggota keluarga majikan tetap bisa keluar rumah, maka mereka yang keluar rumah kemungkinan masih bisa terjangkit virus Corona. Seperti halnya kondisi yang menimpa PRT migran Filipina yang saat ini sedang dikarantina karena saudara majikan yang baru datang dari Wuhan terinfeksi virus Corona,” kata Juru Bicara JBMI.

Lebih dari itu, JBMI menilai himbauan ini tidak akan produktif bagi kinerja PRT migran. Setelah 6 hari penuh bekerja dengan 10-14 jam per hari, hari libur adalah satu-satunya waktu dimana PRT migran bisa beristirahat. Jika tidak bisa libur, maka sama artinya dengan tidak beristirahat. Kondisi ini hanya akan menambah stres yang justru membuat PRT migran jatuh sakit.

JBMI menilai seharusnya Departemen Tenaga Kerja Hong Kong memberi arahan yang benar dan informasi yang memadai yang bisa digunakan oleh PRT dan pekerja-pekerja lainnya. Selain itu, Departemen Tenaga Kerja seharusnya meyakinkan semua majikan untuk menyediakan alat-alat pencegahan secara gratis seperti masker, vitamin C, alkohol, dan memberi istirahat yang cukup kepada pekerja migran. Namun, jika majikan tidak mampu menyediakan kebutuhan ini, menurut JBMI, Pemerintah Hong Kong seharusnya memberikan kepada masyarakat termasuk pekerja migran supaya tidak sampai jatuh sakit.

“Yang lebih mengkhawatirkan, himbauan ini yang seakan-akan memberi kesan kepada masyarakat bahwa PRT migran adalah calon penyebar virus Corona. Padahal PRT migran yang sudah melayani masyarakat Hong Kong sejak tahun 1980-an adalah orang dewasa yang tahu bagaimana menjaga kesehatannya sendiri dan orang-orang yang dilayaninya. Dengan syarat mereka diberi informasi yang benar dan disediakan alat pencegahan yang diperlukan mengingat upah PRT migran yang sangat rendah, sehingga tidak mencukupi untuk membeli alat-alat tersebut. Pemerintah Hong Kong juga bisa menggunakan media online dan offline untuk mendidik etnik minoritas di Hong Kong dengan menggunakan bahasa asli mereka,” kata Juru Bicara JBMI.

JBMI menuntut kepada Pemerintah Indonesia melalui KJRI di Hong Kong untuk melakukan segala upaya, termasuk menyediakan alat-alat pencegahan gratis, demi membantu warga negaranya di Hong Kong dan Macau.

 

Facebook Comments