Jihad PMI dalam Islam

0
379

Manusia lahir sebagai individu yang saling berhubungan dengan lainnya, karena itu manusia disebut sebagai makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial, manusia sudah pasti memiliki kebutuhan yang beragam untuk dipenuhi dalam hidupnya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut manusia harus saling berinteraksi antar sesama, saling bertukar keperluan bahkan tidak hanya pada batas soal materi semata, melainkan juga jasa dan keahlian atau keterampilan. Maka dari itu Allah SWT memerintahkan kita untuk saling tolong menolong sebagaimana dinyatakan dalam QS.Al-Maidah: 2

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidil haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka) dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al-Maidah:2)

Allah SWT juga berfirman dalam QS. Az-Zukhruf: 32 yang menyinggung langsung tentang wajibnya bekerja dalam memenuhi kebutuhan hidupnya:

أَهُمْ يَقْسِمُونَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۚ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۚ وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجَاتٍ لِيَتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Artinya: Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS.Az-Zukhruf:32)

Dalam rangka memenuhi kebetuhan dan meningkatkan taraf hidup serta kesejahteraannya manusia maka diwajibkan untuk bekerja. Karena Islam memerintahkan pemeluknya untuk bekerja dan berusaha, serta menyebar di seluruh bumi guna mencari anugerah Allah, karena Allah telah menyediakan segala fasilitas di muka bumi ini diperuntukkan hanya untuk manusia. Maka dalam perspektif hukum Islam, tidak ada nilai bagi hidup seorang tanpa pekerjaan karena bekerja adalah ibadah dan salah satu kewajiban.

Setiap orang berhak mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak, hal inilah yang melandasi Pekerja Buruh Migran mengadu nasib di negeri orang. Adapun dalam istilah hukum Islam, pihak yang melakukan pekerjaan disebut “ajir”, sedangkan orang yang memperoleh manfaat dari pekerjaan ajir disebut “musta’jir”, dimana ijarah merupakan transaksi terhadap jasa tertentu dengan disertai kompensasi. Dalam hal hubungan kerja, haruslah ada sebuah kesepakatan atau perjanjian antar kedua belah pihak yang diwujudkan secara adil sesuai hak dan kewajiban menurut perundang-undangan dan kebiasan yang baik agar nantinya tidak ada pihak yang lebih penting karena antara pengusaha dan pekerja saling membutuhkan.

Untuk itu, Islam telah menganjurkan adanya sistem akad dalam pekerjaan, sebagaimana ulama Syafi’iyah, Malikiyah dan Hanafiyyah yaitu segala sesuatu yang dikerjakan oleh seseoarang berdasarkan keinginannya sendiri, seperti wakaf, falak, pembebasan atau sesuatu yang pembentukannya membutuhkan keinginan dua orang seperti jual beli, perwakilan dan gadai. Secara khusus akad adalah perikatan yang ditetapkan dengan ijab qabul berdasarkan ketentuan syara’ yang berdampak pada obyeknya.

Bagaimana hukumnya bekerja dan mengabdi kepada orang Non Muslim? Apakah rizki yang didapatkan tetap halal?

Islam pada hakikatnya tidak melarang kita bermuamalah dengan orang non Muslim, selama itu tidak memerangi umat Islam. Dahulu Rasulullah SAW seringkali melakukan praktek mualamalh dengan menggadaikan baju besinya kepada orang Yahudi Madinah yang bernama Abu Syahm untuk membeli gandung yang akan beliau makan bersama keluarganya. Sampai wafatnya, Nabi tidak sempat melunasi hutang tersebut sehingga pada akhirnya Ali bin Abi Thalib yang membayarkannya. Kisah ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya sebagai berikut:

حدثنا قتيبة حدثنا جرير عن الاعمش عن ابراهيم عن الاسود عن عائشة رضي الله عنها قالت اشترى رسول الله صلى الله عليه وسلم من يهودي طعاما ورهنه درعه

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah. Ia berkata: telah bercerita kepada kami Jarir, dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari al-Aswad, dari Aisyah ra, ia berkata: “Rasulullah SAW pernah membeli makanan dari seorang Yahudi (Abu Syahm) dan menggadaikan baju perangnya kepada Yahudi tersebut”. (HR. Bukhari)

Ibn Hajar al-‘Atsqalani dalam kitabnya Fath al-Bari menjelaskan bahwa riwayat tersebut merupakan bukti kebolehan umat Islam untuk bermuamlaah dengan Non Muslim, termasuk dalam hal jual beli. Untuk itu, agar harta yang kita terima tetap menjadi halal, setidaknya ada beberapa syarat yang harus dipenuhi antara lain:

Pertama, tidak menghalangi agama. Pimpinan atau pemilik perusahaan memberikan kebebasan untuk menjalankan agama kita, tidak melarang kita untuk menunaikan shalat, intinya tidak melarang kita dalam menjalankan agama yang benar. Tentunya juga tidak berkampanye untuk mengajak kita masuk ke dalam agama mereka.

Kedua, bentuk usahanya halal. Usaha yang dijalankan dalam perusahan itu adalah usaha yang halal, minimal mematuhi standart perundang-undangan yang berlaku. Jangan sampai perusahaan itu merupakan mafia yang kerjanya mengambil hak orang lain, bukan perusahaan yang mempekerjakan wanita tuna susila sehingga selalu bergelimang dengan maksiat.

Ketiga, bekerja dengan halal. Dalam artian kita melakukannya dengan mengeluarkan tenaga dan keringat, bukan mendapatkan rizki dengan jalan menilep, menipu, menggelapkan dan menyikat harta yang bukan hak kita.

Dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan betapa mulianya pengorbanan seorang pekerja buruh migran yang rela berjuang di Negeri orang untuk sekedar mencukupi kebutuhan hidupanya. seorang Bapak yang bekerja bahkan lembur hanya demi mendapatkan bonus upah, tanpa harus memikirkan kucuran keringat yang jatuh dari tubuhnya. Di dalam pikiran mereka hanyalah bagaimana membahagiakan istri dan anaknya. Sungguh betapa kerasnya hidup yang mereka rasakan. Bahkan seorang Ibu rela pergi ke luar Negeri demi mencukupi kebutuhan hidup putra-putri mereka setelah ditinggal pergi ayahnya.

Penulis adalah Ketua Garda BMI sekaligus Wakil Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa.

Facebook Comments