Kanker payudara, Majikan suruh PMI bayar sendiri biaya dokter

0
1395
Foto hanya ilustrasi

RASTI, sempat kebingungan saat majikan bersikap acuh dan menyuruhnya membayar sendiri biaya pengobatan kanker payudara PMI asal Malang, Jawa Timur tersebut. Rasti akhirnya mengadu ke KJRI dan dirujuk ke Rumah Sakit Rutonjee, Wan Chai untuk segera menjalani operasi pengangkatan payudara kanannya.

“Sekitar bulan Februari, saya merasakan ada yang aneh dengan payudara kanan. Akibatnya badan saya sering panas dan tidak enak. Saya bilang ke majikan bahwa saya akan periksa dan rontgen. Majikan malah menjawab kalau periksa pakai biaya sendiri,” kata Rasti berkisah kepada SUARA.

Rasti sempat kebingungan dengan sikap majikannya tersebut. Di tengah ketidakpastian, salah satu teman sesama PMI menganjurkan Rasti untuk melaporkan kondisinya tersebut ke KJRI.

Petugas KJRI lantas merekomendasikan agar Rasti segera ke Breast Cancer Foundation (BCF). Dari sana,  BCF merujuknya untuk segera melakukan biopsi atau pemeriksaan benjolan di payudara kanannya itu ke Rumah Sakit Queen Marry.

“Saya menunggu lama sekali, kok tidak dipanggil oleh Queen Merry. Tidak mungkin saya membiayai sendiri pemeriksaan saya. Maka saya datang lagi ke Breast Cancer Foundation untuk minta rujukan. Breast Cancer Foundation memberikan surat rujukan agar saya melakukan pemeriksaan di Ruttonjee Hospital Wan Chai. Tidak lama kemudian saya terus dipanggil untuk periksa di Ruttonjee,” kata Rasti berkisah lebih lanjut.

Rasti sempat kaget saat dokter di Rumah Sakit Rutonjee menyatakan dirinya positif mengidap kanker payudara dan harus segera menjalani operasi pengangkatan payudara kanan. Rasti segera dijadwal operasi di Ruttonjee pada Minggu (14/04/2019) dan dirawat selama tiga hari.

Perjuangan menuntut majikan membiayai pengobatan kanker

Selama di rumah sakit, Rasti mendapat pendampingan KJRI dan juga Komunitas Peduli Kasih. Dengan demikian, Majikan Rasti akhirnya dapat didesak untuk membayar semua biaya pengobatan dan operasi PMI tersebut. Termasuk untuk tidak memecat Rasti dan terus membiayai pengobatannya karena PMI ini masih harus menjalani 4 kali kemoterapi lagi.

Pendesakan kepada majikan tersebut berdasarkan Pasal 9 kontrak kerja warna biru muda. Pasal itu menyebutkan bahwa majikan bertanggung jawab menyediakan biaya pengobatan medis untuk pekerja migran, jika pekerja itu jatuh sakit selama masa kontrak berlaku. Biaya pengobatan tersebut termasuk konsultasi dokter, pengobatan di rumah sakit dan juga pengobatan gigi yang bersifat darurat.

Berdasarkan pasal inilah, Rasti didampingi KJRI dan Komunitas Peduli Kasih, menghubungi majikan agar PMI yang telah bekerja di Hong Kong selama 8 tahun tersebut dibayari semua biaya operasi dan pengobatannya, dan tidak dipecat selama menjalani kemoterapi di Hong Kong.

“Saya sekarang diberi uang oleh majikan untuk makan dan sewa kamar. Setelah saya operasi, saya ditampung di shelter (Peduli Kasih) dan didampingi oleh teman-teman ,” kata Rasti.

Majikan juga setuju membayar 4/5 dari gaji Rasti meskipun PMI itu tidak masuk kerja seperti biasa dan beristirahat di shelter Peduli Kasih. Ini karena Rasti memiliki surat cuti sakit dari dokter Rumah Sakit Rutonjee.

Peraturan Labour Hong Kong menyebutkan bahwa majikan harus tetap membayar gaji selama cuti sakit dari dokter, sekalipun pekerja itu tidak masuk kerja. Namun jika cuti sakit itu melebihi 4 hari, maka majikan hanya selanjutnya hanya harus membayar 4/5 dari total gaji yang sebenarnya saja.

Saat berita ini diturunkan, Rasti masih terus menjalani kemoterapi dan ditampung di Shelter Peduli Kasih.*

Artikel dimuat di SUARA edisi May Mid 2019, terbit 24 Mei 2019

 

 

 

 

 

Facebook Comments