Keistimewaan amalan kecil dengan istiqamah

0
961

Allah (swt) berfirman: ”Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan ‘Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Fushshilat: 30)

Baiknya amal yang kita lakukan adalah sangat tergantung kepada baiknya hati. Dan baiknya hati sangat tergantung kepada istiqamahnya diri untuk selalu dekat dengan Allah.

Istiqamah dalam kebaikan adalah hal yang sangat penting dalam hidup ini. Sebab, sebuah amal yang dilakukan secara istiqamah, walaupun kecil, perlahan tapi pasti, akan jauh dan lebih mendekatkan kita kepada Allah Robbul ‘alamin. Karena itu, tidak ada amal kecil menurut pandangan Allah. Yang menentukan besar kecilnya sebuah amal adalah keikhlasan hati seseorang saat melakukannya.

Ada sebuah kisah tentang mimpi Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali. Pada suatu malam, beliau bermimpi di mana beliau berada dalam satu perhimpunan besar yang dinamakan yaumul hisab. Beliau melihat, dari sekian banyak amalnya yang diperlihatkan, ada satu amal yang sangat disukai Allah melebihi dari amal-amal yang lainnya. Ternyata sangat mengejutkannya. Ia bukan kewajiban salat, puasa dan lain sebagainya, namun yang dia lihat adalah karena keikhlasannya menolong seekor lalat.

Ceritanya, di saat ia sedang menulis, tiba-tiba seekor lalat jatuh kedalam tintanya. Imam al-Ghazali lantas mengambil lalat itu dengan segera, lalu membersihkan tinta dari tubuhnya, setelah itu beliau melepaskannya.

Kisah remeh ini tentunya jangan sampai kita mengecilkan arti ibadah, menuntut dan menyebarkan ilmu, atau berjihad fi sabilillah. Kisah ini semata-mata menunjukkan betapa sesuatu yang kita anggap sepele, akan tetapi  bisa bernilai istimewa dan pahala berganda di sisi Allah.

Karena itu, orang yang benar-benar ikhlas tidak akan pusing memikirkan besar kecilnya amal. Yang difikirkannya adalah bagaimana amal tersebut diterima di sisi Allah dan bermanfaat bagi sebanyak-banyaknya umat manusia.

Sejatinya, tidak ada sesuatupun yang besar di dunia ini tanpa kehadiran benda yang kecil. Semua benda dan barang yang besar pasti tersusun dari hal-hal yang kecil. Buku misalnya, ia adalah kumpulan bab. Bab adalah kumpulan paragraph. Paragraph adalah kumpulan kalimat. Kalimat adalah kumpulan kata. Kata adalah kumpulan huruf dan huruf adalah kumpulan titik. Maka setebal apapun buku, pada hakikatnya adalah kumpulan dari titik-titik kecil.

 

Demikian pula dengan kesalehan dan kemuliaan akhlak. Ia adalah kumpulan dari amal kebaikan yang dilakukan terus menerus dengan penuh keikhlasan. Seseorang dianggap ahli tahajjud bila setiap malam ia istiqamah menjalankannya walaupun satu atau dua rakaat. Sebaliknya, kita sulit menyebutnya sebagai ahli tahajjud bila ia hanya melakukannya sesekali saja. Intinya, akhlak mulia lahir dari kebiasaan, kebiasaan lahir dari istiqamah kita menjalankan sesebuah amal, walau amal itu kita anggap ringan dan kecil.

Bila yang besar itu merupakan hasil dari yang kecil, maka kita jangan sekali-kali menyepelekan yang kecil. Sebaliknya, kita harus membiasakan diri melakukan hal-hal kecil secara istiqamah, selain menjalankan perintah-perintah Allah yang wajib dan amal besar lainnya.*

Artikel dimuat di SUARA edisi Januari Main 2020, terbit 10 January 2020

 

 

Facebook Comments