Ketakutan temukan benjolan payudara, Yuli malah notis majikan

0
418

MENDERITA sakit di negeri orang pastilah membuat kita mudah kalut dan berpikir pendek. Begitu pula yang dialami Yuli, 30 tahun, seorang PMI asal Slawi, Tegal. Alih-alih berjuang untuk terus bekerja di Hong Kong sampai pengobatannya tuntas, ibu satu orang anak ini malah memutuskan memberikan satu bulan notis break kontrak dengan majikannya tak berapa lama setelah PMI ini menemukan benjolan di payudara kirinya,.

“Habisnya, suami langsung bilang, sudah yang penting kamu pulang saja dulu, nanti diobati di Indonesia saja, jangan sampai kamu diapa-apain di Hong Kong sana. Lah, namanya juga orang sakit, bagaimanapun lebih enak kalau bisa kumpul dengan keluarga. Apalagi majikan saya orangnya begitu, nggak pedulian, jadi suami saya takut kalau saya sakit di Hong Kong ini nggak ada yang urus,” kata Yuli kepada SUARA.

Sebenarnya Yuli telah lama menyadari ada beberapa benjolan di payudara kirinya. Namun PMI tersebut tak pernah menganggapnya serius hingga sekitar Juli 2019, saat muncul seperti bisul berair dan nanah di dekat puting payudara kirinya. Namun Yuli kebingungan tak tahu harus kemana atau bagaimana mengecek kondisinya itu di Hong Kong. “Majikan saya kan orangnya begitu, Mbak…,” kata Yuli, lalu terdiam.

Alhasil, PMI ini berusaha mengobati sendiri ‘bisul’ di payudara kirinya itu. Saat sang ibu di kampung menyarankan untuk mengolesi dengan minyak tawon, Yuli pun manut. PMI ini juga beberapa kali berusaha memencet keluar air serta darah yang keluar dari ‘bisul’ itu. “Tapi kok akhirnya nanah yang keluar dari bisul itu malah jadi bau kayak minyak tawon, apa meresap kali yah?,” kata PMI yang hampir 2 tahun bekerja di Tai Wo Hau ini.

Bagai hujan di musim kering, Yuli akhirnya mendapat kesempatan cek gratis payudaranya itu di KJRI, setelah mendaftar di acara kesehatan yang diurus Peduli Sehat Hong Kong dan disponsori Yayasan Kanker Indonesia dan Hong Kong Breast Cancer Foundation. Saat pemeriksaan tersebut, dokter menemukan benjolan-benjolan di payudara kiri dan kanan serta kista di rahim Yuli. PMI ini lantas dirujuk untuk menjalani USG serta mammogram di Central secara gratis.

Namun temuan benjolan di payudara serta kista di rahim justru membuat Yuli semakin galau. Kekhawatiran terkena kanker payudara, Yuli akhirnya manut saat suami dan ibunya di kampung meminta PMI ini memberikan notis untuk break kontrak dan segera pulang ke Tanah Air saja. “Saya waktu itu nggak tahu, kalau di Hong Kong itu banyak yang bisa bantuin, jadi sudahlah, terlanjur saya sudah kasih notis ke majikan,” kata Yuli.

PMI ini menyatakan sebelumnya dia tak mengerti bahwa majikan harus bertanggung jawab membayar semua biaya pengobatan jika pekerja migran sakit.

Yuli akhirnya menjalani biopsi pengambilan cairan dari benjolan di payudara kirinya itu di Hong Kong Breast Cancer Foundation pada Rabu, 21/8/2019. Saat itu, dokter memberitahu Yuli bahwa ada kemungkinan benjolan-benjolan tersebut adalah kanker dan PMI tersebut harus menjalani kemoterapi.

Yuli pun semakin kalut karena dirinya telah memberikan notis ke majikan, dan tiket pulang pun telah dibelikan. Apa akal?

Untunglah, seminggu kemudian, dokter memberitahu Yuli bahwa hasil biopsi benjolan di payudara itulah bukanlah kanker. Namun PMI ini tetap harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut, karena benjolan-benjolan serta ‘bisul’ di payudaranya itu muncul karena adanya infeksi serius di tubuh PMI itu. Dokter bahkan telah menyiapkan surat rujukan ke Rumah Sakit Princess Margareth agar Yuli menjalani pemeriksaan menyeluruh secepatnya.

“Tapi mau bagaimana lagi Mbak? Tiket pulang juga sudah dibelikan sama majikan. Biarlah saya periksa nanti di Indonesia saja…,” kata Yuli, lirih.*

Artikel dimuat di SUARA edisi September Main 2019, terbit 6 September 2019

 

Facebook Comments