Kisah Ayu, Rurin dan Ngatiyem terjebak horor demonstrasi di Bandara

0
1503
Ngatiyem, Ayu dan Rurin dengan mata sembap terpaksa menunggu sejak pukul 6 pagi di konter maskapai setelah semalaman diburu horor demonstrasi di Bandara. Ketiga PMI ini tetap tak bisa pulang pada Rabu, 14/8/2019 karena pesawat penuh dan baru bisa pulang dengan maskapai yang sama pada Kamis, 15/8/2019.

GEJOLAK demonstrasi yang terjadi di Bandara Internasional Hong Kong, Sabtu, 13/8/2019, membuat 3 PMI yaitu Ayu, Rurin dan Ngatiyem yang berencana pulang cuti ke Surabaya, terjebak di tengah-tengah kerusuhan. Mereka ketakutan dan kelaparan semalaman hingga dini hari.

“Mulai rusuh itu sekitar jam 11 malam, baru benar-benar selesainya sekitar jam 3 pagi. Kita lari ke sana-sini, ada orang yang digebuki di sana itu tuh sama polisi, ya Allah… Sampai lemes aku,” kata Rurin kepada SUARA, Rabu, 14/8/2019.

Rurin dan Ayu yang adalah PMI asal Blitar serta Ngatiyem yang adalah PMI asal Malang, sebenarnya berencana pulang cuti ke Surabaya pada hari pecahnya kerusuhan di Bandara Chek Lap Kok, Sabtu, 13/8/2019. Mereka telah chek in tiket di counter maskapai yang berada di Terminal 1 jalur D, sekitar pukul 1:30 siang, dengan maksud naik penerbangan pukul 2:55 sore.

Namun ketiga PMI ini tak bisa lagi masuk ke area pemberangkatan melalui gerbang imigrasi HK karena seluruh Terminal 1 saat itu telah dipenuhi banyak demonstran.
Menurut Rurin, beberapa demonstran berbaju hitam sempat menghampiri dan menyarankan mereka segera meninggalkan tempat itu. “Katanya; kamu cepat pergi dari sini, berbahaya di sini! Tapi kita mau pergi kemana? Tempatnya sudah penuh orang,” kata Rurin, yang sehari-hari bekerja di Ma On Shan.

Petugas maskapai lantas membawa mereka menerobos kerumunan massa ke Terminal 2 yang relatif lebih aman. “Kita dibawa sama petugas (maskapai) ke depan Terminal 2, boarding pass kita diambil dan hanya diberi kupon HK$ 90 untuk makan, terus ditinggal begitu aja. Tapi semua toko kan sudah tutup, jadi kita mau beli apa? Masih untung ada orang-orang baju item yang bagiin makanan sama minum untuk kita, kalau nggak? nggak tahu deh,” kata Ayu.

Sepanjang malam, mereka bertiga ketakutan dan berusaha mencari selamat dari kerusuhan di bandara. Bagai domba tak bergembala, ketiganya berusaha lari ke arah manapun yang mereka rasa aman. Barulah saat kerusuhan benar-benar usai sekitar pukul 3 pagi, Rabu, 14/8/2019, Ayu, Rurin dan Ngatiyem yang kelelahan berusaha memejamkan mata untuk beristirahat di bangku Terminal 1.

“Tapinya mana bisa tidur sih, Mbak? Kita sejak jam 6 sudah ke sini lagi (Jalur D, Terminal 1) untuk antri nanyain (ke maskapai penerbangan) bagaimana nasib kita, bisa pulang atau tidak?,” kata Rurin.

Namun nasib mereka tetap tak jelas. Petugas di counter chek in menyuruh mereka bertiga untuk menunggu hingga pukul 2 siang, dengan alasan pesawat hari itu sudah penuh penumpang sehingga mereka hanya bisa ikut jika ada penumpang yang membatalkan tiket. “Kita ndak minta dikasih makan atau hotel atau apa, yang penting, bisa pulang, itu saja. Kenapa petugas tidak mendahulukan kami yang sudah cancel dari kemarin?,” kata Rurin, sambil mengusap air matanya yang mulai jatuh.

Sekitar pukul 2 siang,Rabu, 14/8/2019, Rurin, Ayu dan Ngatiyem hanya langsung menangis, saat petugas memberitahu bahwa counter chek in ditutup dan mereka tak bisa pulang hari itu karena pesawat sudah penuh.

“Nggak, nggak bisa pulang hari ini. Majikanku tadi langsung booking tiket untuk hari berikutnya. Memang nggak bayar lagi, tapi kok kita dibiarin begini?,” kata Rurin. Majikan Ayu dan Ngatiyem sempat tak menerima dan marah-marah melalui telepon ke petugas maskapai. Namun akhirnya Ayu, Rurin dan Ngatiyem baru bisa terbang pulang ke Surabaya pada Kamis, 15/8/2019.

Sekitar 100 WNI tertunda di Bandara akibat demonstrasi

Konsul Konsuler dan Protokol Erwin Akbar yang bertemu dengan SUARA di Bandara menyatakan ada sekitar 100 WNI yang tertunda perjalanannya akibat demonstrasi di Bandara Chek Lap Kok.

“Ada rombongan atlet dan ABK yang juga tertunda perjalanannya karena demonstrasi ini, mereka langsung menelepon KJRI, jadi kami segera mengirimkan staf ke sini untuk membantu. Selain itu juga ada sekitar 13 PMI yang juga tertunda perjalanannya, yang kami tolong,” kata Konsul Erwin, yang bertemu dengan SUARA di Bandara Chek Lap Kok, Rabu, 14/8/2019.

Rombongan atlet renang dari Jakarta tersebut setuju untuk dibawa menginap semalam ke KJRI, sementara rombongan ABK dan PMI bersikeras menunggu di Bandara karena khawatir akan ketinggalan pesawat berikutnya. “Kami sarankan agar WNI yang mengalami kondisi seperti ini untuk segera menelepon hotline KJRI (Hong Kong), untuk minta bantuan,” kata Konsul Erwin.

Untuk membantu WNI, KJRI telah menyediakan Help Desk di Bandara Internasional Hong Kong yang terletak di Hall A area Kedatangan Terminal 1. KJRI juga menyediakan nomor hotline khusus di Bandara dengan nomor +852 6894 2799. Sejak Rabu, 14/8/2019, para WNI yang tertunda perjalanannya akibat demonstrasi di Bandara ini perlahan-lahan dapat berangkat sesuai jadwal yang diatur maskapai masing-masing.*

Artikel dimuat di SUARA edisi August Mid 2019, terbit 23 August 2019

Facebook Comments