KJRI minta kompensasi lebih bagi PRT migran yang kerja merawat lansia

0
479
Konsul Jenderal RI untuk Hong Kong Tri Tharyat. Foto: Ario Adityo

Konsulat Jenderal RI (KJRI) Hong Kong berharap pemerintah Hong Kong dapat memberikan kompensasi lebih terhadap Pekerja Rumah Tangga (PRT) migran yang bertugas merawat orang lanjut usia (lansia). Kepada SUARA Konsul Jenderal RI Hong Kong Tri Tharyat mengatakan karena untuk merawat lansia dibutuhkan keahlian, Selasa (12/3/2019).

“Kami mengharapkan pemerintah Hong Kong memperhatikan pekerjaan ini sebagai pekerjaan yang membutuhkan keahlian sehingga dapat diberikan kompensasi lebih. FDH yang merawat lansia tentunya secara tidak langsung juga meringankan beban pemerintah dalam memberikan fasilitas perawatan kepada lansia,” terangnya.

KJRI Hong Kong merespon pernyataan pemerintah Hong Kong yang disampaikan oleh Sekretaris Perburuhan dan Kesejateraan Hong Kong Law Chi-kwong, bahwa pemerintah Hong Kong membatalkan untuk merekrut PRT migran sebagai perawat di panti-panti lansia yang disubsidi oleh pemerintah.

Alasan utama pemabtalan tersebut disebabkan karena hukum dan ketentuan imigrasi yang berlaku melarang PRT migran untuk berganti pekerjaan selain PRT.

“Kami memahami bahwa rencana penempatan PRT migran menjadi perawat di panti jompo memiliki berbagai implikasi baik dari segi sosial maupun peraturan, salah satunya ijin tinggal,” ujar Konjen Tri.

Meski demikian KJRI berpandangan bahwa tidak sedikit PRT migran asal Indonesia sudah memiliki pengalaman merawat lansia.

“Tidak dapat dipungkiri bahwa banyak PMI yang sudah merawat orang tua dalam pekerjaan sehari-harinya, apalagi jumlah lansia di Hong kong terus meningkat, sehingga permintaan PRT migran untuk merawat orang tua di rumah juga akan semakin banyak,” kata Konjen Tri.

Sebelumnya diberitakan oleh media, pemerintah Hong Kong akan mempertimbangkan untuk merekrut PRT migran menjadi perawat lansia, dalam rangka mengatasi kekurangan tenaga perawat di panti lansia.

Merespon hal itu KJRI akan membicarakan masalah ini pada pertemuan Labor Working Group pemerintah pengirim pekerja migran dengan pemerintah Hong Kong. Salah satu ajuan yang akan disampikan oleh Indonesia adalah  menjadikan tugas merawat lansia sebagai profesi baru, diluar profesi PRT.

“Tentunya permasalahan ini akan menjadi salah satu bahasan dalam Labour Working Group mendatang, harapan kami untuk pekerjaan yang membutuhkan fokus lebih seperti merawat lansia, tidak digabungkan dalam kontrak kerja FDH tetapi menjadi profesi baru. Kami harap pemerintah Hong Kong dapat mempertimbangkan hal ini karena untuk sekarang cakupan tugas FDH di kontrak kerja sangat luas.” Pungkasnya kepada SUARA.

Sementara Sringatin, Ketua Indonesian Migrant Workers Union (IMWU) meelihat penytaan itu sebagai praktek diskriminasi dan upah murah.

“hakekatnya pemerintah Hong Kong tidak mau merubah aturan yang selama ini mendiskriminasikan PRT migran dan ingin mempertahankan upah murah,” ujar Sringatin kepada SUARA, Selasa (12/3/2019).

  • Artikel telah terbit di SUARA edisi vetak April Mid 2019
Facebook Comments