Lewat Medsos Keluarga PMI Minta Tolong Jokowi dan Prabowo

0
556
Foto: Sriwijaya Post

Setelah meminta bantuan hukum kepada pengacara, keluarga Helen Puspitasari, Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang disekap dan  ditahan di Malaysia berusaha meminta bantuan kepada Jokowi dan Prabowo melalui sosial media.

Menurut berita yang dilansir sipoku.com pada postingan Instagram @jalujapar012 atau dengan nama panggilan Ahmad Supardi, keluarga  menuliskan permintaan tolong kepada kedua calon presiden yang sedang bersaing di pemilihan presiden 2019.

“Kepada yang terhormat calon presiden yang saya cinta bapak Prabowo dan bapak Jokowi. Saya ingin meminta pertolongan kepada bapak semua. Karena saudara saya Helen Puspitasari yang bekerja di Malaysia sedang dalam masalah. Mulai dari diculik dan dijual. Sekarang saudara saya ditahan di Balai kepolisian Rawang Selangor, Malaysia. Saya sangat membutuhkan pertolongan bapak-bapak semua untuk membebaskan saudara saya di Malaysia. Saudara-saudara saya di sana bekerja sebagai pembantu. Namun naas musibah yang ia terima, atas perhatiannya terima kasih,” ujar akun @jalujapar012 yang mengunggah postingannya pada hari Rabu (20/2/2019).

Postingan tersebut mengundang reaksi netizen untuk mendoakan agar Helen selamat dan segera mendapatkan bantuan dari kedua calon presiden tersebut.

Lia, kakak perempuan Helen yang berdomisili di Palembang membenarkan atas adanya posting tersebut dan mengaku alasan ia Membuat postingan tersebut atas nama suaminya karena ia dan keluarganya ingin Helen cepat pulang ke Indonesia untuk melihat kuburan ibunya yang meninggal beberapa Minggu yang lalu.

“Kasihan liat Helen dan Budi jenguk mamak, Semoga dia cepetan keluar dan Budi ngelayat mamaknya. Semalam saya sudah menghubungi pengacara Pak Mualimin, yang juga dikenalkan keluarga untuk membantu Helen bisa keluar dari penjara dan pulang ke Indonesia,” ujar Lia seperti dikutip Riau.pos,  Rabu (20/2/1019).

Sementara itu pengacara Helen, Mualimin Pardi Dahlan SH mengatakan dalam waktu dekat pihaknya akan mempelajari kasus yang menimpa kliennya dan juga meminta berkonsultasi kepada kepolisian Indonesia dan juga KBRI di Malaysia agar Helen bisa bebas dan pulang secepatnya ke Indonesia.

“Kalau tak efektif kita akan coba bertemu dan meminta bantuan dengan advokat yang ada di Malaysia. Kalau perlu juga kita akan minta bantuan kepada pak Jokowi dan Prabowo,” ujar Mualimin seperti dikutip Sipoku.com, Rabu (20/2/1019).

Mualimin menambahkan kasus yang di alami Helen ini adalah satu dari sekian banyak kasus yang menimpa PMI di luar negeri. Hal tersebut merupakan bukti bahwa lemahnya sistem perizinan PMI sehingga perlindungannya pun tidak ada.

Menurut penuturan keluarga dari cerita Helen melalui telepon, Helen disekap dan akan dijual oleh Warga Negara(WN) India yang katanya sudah membelinya dan sempat meminta uang tebusan serta mengancam akan membunuh Helen.

Helen mengaku diancam akan dibunuh dan akan di kubur belakang pekarang rumah warga negara India yang membelinya. Namun, ia tak takut dan menantang balik pria tersebut.

“Bunuh saja saya, saya tidak takut bila saya mati maka kamu yang akan dicari polisi Malaysia,” ujar helen yang bercerita kepada kakak perempuannya.

Mendengar pernyataan tersebut Basri mengurungkan niatnya dan Dewi (Bibi Basri) yang tinggal bersamanya menyarankan kepada Basri untuk menyerahkan Helen ke polisi Malaysia dengan tuduhan Helen ingin bunuh diri.

Basri pun membawa Helen ke Balai Polisi Selangor, Malaysia, yang kemudian mengintrogasi keduanya dan memperbolehkan Helen untuk menghubungi keluarganya yang ada di Anyer, Banten, untuk menceritakan kasusnya.

Helen pun mengatakan dirinya sedang berada di balai polis (kantor polisi) dan dipaksa mengaku bahwa ia ingin bunuh diri dan dituduh memberikan keterangan palsu lainnya.

Dalam kesempatan tersebut Polisi Malaysia juga meminta untuk berbicara kepada keluarga Helen dan mengatakan bahwa Helen akan ditahan dulu selama 14 hari di penjara khusus wanita sebelum dipulangkan ke Indonesia. Polisi tersebut juga mengatakan bahwa selama 14 hari kedepan Helen tidak diperbolehkan memegang ponsel.

Facebook Comments