Mahasiswa program magang dipromosikan sebagai buruh murah di Taiwan

0
400
Slide promosi mahasiswa Universitas Tungnan yang menjelaskan "keuntungan" memakai mahasiswa program magang dalam industri. Foto : Taipei Times/Istimewa

Mengakui kesalahan mempromosikan mahasiswa program magang dari Asia Selatan dan Asia Tenggara sebagai buruh migran murah yang ideal untuk melakukan pekerjaan “kotor, berbahaya,” ke perusahaan di Taiwan, Universitas Tungnan melakukan permintaan secara terbuka.

Dalam promosi iklannya, pihak kampus menerangkan perusahaan dapat berhemat sebesar NT$ 3628 per bulan untuk setiap pekerja jika dibandingkan dengan biaya mempekerjakan pekerja migran, termasuk biaya asuransi pekerja, kesehatan dan dana jaminan kerja.

Selain itu, pihak kampus juga mengatakan dengan mempekerjakan mahasiswa magang, mereka dapat membebaskan perusahaan dari ketentuan larangan modal usaha, jenis industri dan kuota pekerja migran.

Dilansir oleh Taipei Times, Jumat (8/3/2019), para mahasiswa magang dapat bekerja selama 20 jam per pekan dalam tahun pertama belajar dan dapat beekrja selama 40 jam pada tahun kedua. Jika kerja lembur diperlukan , hal demikian dapat dibayar dalam bentuk beasiswa, begitu tambahan dalam promosi yang dilakukan.

Para mahasiswa asing “suka kerja lembur”, tidak mengikuti ketentuan 5 harui kerja per pekan, dan hanya membutuhkan upah sesuai dengan “upah minimum”.

Dalam pernyataan yang dikirimkan oleh pihak universitas kepada serikat buruh pada Mei tahun lalu, pihak kampus meminta maaf untuk penggunaan “kata yang tidak pantas” untuk membandingkan mahasiswa asing dan pekerja migran.

Dilaporkan oleh Liberty Times, Wakil Presiden Universitas Tungnan mengatakan bahwa rencana program magang yang dilakukan adalah hal yang tidak pantas dan tidak sesuai dengan praturan kementrian pendidikan.

Program itu kini telah diganti dengan yang baru, serta pihak kementrian sudah melakukan penyelidikan terhadap program magang di sekolah itu.

Saat ini dari 25 mahasiswa dalam program magang Universitas Tungnan, 18 orang bekerja di Grand Hotel Taipei, 3 orang bekerja di HiOne Holiday Hotel dan 4 di Dim Dim Sum.

Pihak kementrian memberikan waktu selama sebulan kepada seluruh universitas dan kampus untuk meninjau kembali manajemen mahasiswa asing mereka dan melakukan pemeriksaan terkait kondisi kerja mereka.

“Dokumennya memperlihatkan bahwa program magang New Southbound Policy yang dipromosikan oleh kementrian, telah digunakan sebagai pintu belakang untuk merekrut pekerja migran murah,” menurut Union of Private Educators dalam peryataannya.

Pihak Union of Private Educators juga mengatakan bahwa pihak universitas jjuga harus diperiksa terkait apakah mereka menarik biaya dari mahasiswa asing atau perusahaan yang ditawarkan oleh pihak kampus.

Facebook Comments