Mengunjungi Masjid Tertua di Hong Kong

0
545
Menuju ruang sholat di Masjid Jamia. Foto: Yuli A.D

Gerbang besi warna biru muda itu selalu terbuka. Seakan sengaja mengundang dan siap menerima siapapun yang ingin memasuki wilayahnya. Pada sebuah papan nama yang berada tepat di atas pintu, terukir dengan warna emas dalam 3 bahasa nama tempat tersebut; ‘Jamia Mosque’.

Pintu Gerbang Masjid Jamia. Foto: Yuli A.D

Berada tepat di jalur wisata Mid-Levels Escalator atau tangga jalan terpanjang sedunia yang selalu bergerak, berderak, seperti robot yang tak pernah tidur, Masjid Jamia merupakan oase tersendiri bagi para pengunjungnya. Begitu memasuki halaman masjid, semua kebisingan kota sirna. Pengunjung hanya akan menikmati musik alam yang berupa gesekan reranting dan dedaunan serta nyanyian burung-burung. Jika di masjid sedang ada yang mengaji, tentunya akan terdengar pula ayat-ayat doa dilantunkan.

Masjid Jamia yang beralamat di Shelley Street nomor 10, Central merupakan masjid tertua di Hong Kong. Ketika mengunjunginya kita bukan sekadar menengok sebuah tempat ibadah tapi sekaligus bisa melihat bukti peninggalan sejarah panjang perjalanan Islam di negara bekas koloni Inggris.

 

Arsitekstur luar masjid Jamia. Foto: Yuli A.D

Perjalanan Islam di Hong Kong

Sejarah mencatat, kedatangan Islam di Hong Kong sudah sejak abad ketujuh Masehi atau tahun ke-40 Hijriyah. Hal ini ditandai dengan kehadiran pendakwah ulung, salah seorang sahabat Rasul yang terkenal yaitu Saad bin Abi Waqqas yang bertugas menyebarkan ajaran Islam di kawasan Cina.

Perkembangan Islam di Hong Kong mencapai puncaknya pada saat lascar Muslim Pakistan dan India yang dipekerjakan sebagai tentara dan pelayan Inggris mulai ditugaskan untuk tinggal dan menjaga wilayah Hong Kong.

Demi kepentingan tempat ibadah laskar sekaligus tempat singgah para pedagang muslim yang sedang melalui jalur sutra, pemerintah Inggris mendirikan sebuah rumah yang berfungsi sebagai masjid pada awal tahun 1850.

Masjid yang semula dinamakan Masjid Muhammad itu kemudian direnovasi untuk pertama kali pada tahun 1915 oleh H.M.H Essack Elias. Bangunan baru berbentuk persegi panjang dan berukuran lebih besar dari yang sebelumnya itu memiliki dua kubah dan pintu masuk utama serta jendela berbentuk melengkung bergaya Arab di semua sisi. Di kemudian hari, setelah Perang Dunia II, nama masjid secara resmi diganti menjadi Masjid Jami atau Jamia Mosque hingga saat ini.

Plakat Masjid Jamia, tertulis keterangan tentang pembuat dan pembangun masjid. Foto: Yuli A.D

 

Peran PMI dalam Perkembangan Islam di Hong Kong

Saat ini diperkirakan jumlah umat Islam di Hong Kong mencapai 250.000 jiwa lebih. Perkembangan jumlah pemeluk agama Islam ini termasuk yang tercepat dibanding agama lainnya seperti: Budha, Taoism, Kong Hu Chu, Kristen dan Hindu. Perkembangan Islam yang begitu pesat dan cepat di Hong Kong tidak terlepas dari pengaruh jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang seiring perjalanan waktu jumlahnya terus meningkat.

Secara disengaja atau tidak, PMI yang mayoritas beragama Islam membawa kebiasaan dan keyakinan serta menularkannya kepada sekitar. Apalagi untuk di Hong Kong sendiri, agama memang dipandang sebagai bagian dari budaya. Bahkan kebebasan beragama merupakan salah satu hak mendasar yang bisa dinikmati warganya karena sudah dilindungi oleh Hukum Dasar (Basic Law) dan peraturan terkait. Meskipun pada prakteknya sebagaimana di negara manapun juga, masih banyak individu yang bersikap diskriminatif dan mengganggu hak-hak tersebut.

 

Kegiatan Masjid Jami di Bulan Ramadhan 

Dibandingkan dengan masjid-masjid lainnya di Hong Kong, masjid berwarna hijau yang pada bulan Mei tahun 2010 telah diklasifikasikan sebagai bangunan Grade I atau golongan bangunan bersejarah dunia, usianya melebihi 100 tahun. Belum banyak diketahui oleh kalangan PMI di Hong Kong. Meskipun keberadaannya mudah dijangkau dengan transportasi MTR, bus ataupun taxi.

Siang itu ketika saya berkunjung, kawasan Masjid Jami nampak lengang. Selain karena memang hari kerja, saat itu juga belum tiba waktu panggilan sholat. Setelah berkeliling dan mengambil beberapa gambar, saya berhasil menemui salah satu pengurus masjid yang sedang memasak di dapur umum masjid. Perempuan paruh baya bernama Sakila yang berkebangsaan Pakistan itu mengaku sudah tinggal di perumahan dan mengurus masjid selama 40 tahun lebih.

“Kamu muslim Indonesia kan? Ajak teman-temanmu ke sini Ramadhan nanti. Kami menyediakan menu berbuka, takjil, buah-buahan dan juga menu sahur. Semua gratis,” Sakila dengan ramah menyebutkan nama-nama menu berbuka dan sahur yang tentunya lumayan asing di telinga saya.

Shakila, permepuan asal Pakistan yang tingga di komplek masjid sekaligus perawat masjid. Foto. Yuli A.D

Kata Sakila, selain acara buka dan sahur bersama serta sholat teraweh berjamaah, pada siang hari di bulan Ramadhan, di Masjid Jami juga diadakan acara tadarus atau kegiatan membaca Al-Quran dari awal hingga khatam secara bergantian.

Facebook Comments