Mereka yang Terusir di Negeri Sendiri

0
535

Membaca kegelisahan sosial dengan realitas kematian Pekerja Migran Indonesia (PMI) Adelina di Malaysia Februari kemarin, saya tergelitik untuk menulis opini sederhana ini. Adelina tentu bukan kisah pertama dan mungkin bukan kisah yang terakhir. Setelah Adelina, bagaimana dengan PMI yang lain dan apakah UU No 18 Tahun 2017 mengakomodasi hak-hak mereka?

Tragedi Pekerja Migran: Cerminan Bangsa

Rantau merupakan sebuah cakrawala terbuka, yang menjanjikan pelbagai kemungkinan tak terduga. Karena itulah orang pergi ke rantau, menggapai impian di balik kaki langit nun jauh, berikhtiar merebut kemungkinan baru untuk suatu masa depan yang lebih baik. Saat ini, jumlah pekerja migran resmi atau documented di luar negeri mencapai 6,2 juta, belum termasuk yang tidak resmi atau undocumented. Pekerja migran, baik yang resmi maupun yang tidak resmi memberikan kontrubusi bagi pertumbuhan perekonomian bangsa, bahkan devisa yang dihasilkan oleh PMI menduduki peringkat kedua setelah migas. Pada tahun 2015 saja, PMI menyumbangkan devisa sebesar Rp. 144,95 triliun.

PMI layak disebut pahlawan keluarga dan bangsa. Namun ironisnya, mereka sering mendapat perlakuan yang tidak manusiawi, seperti kekerasan. Hal ini dikarenakan lokasi kerjanya yang terisolasi, di balik pintu yang tertutup (behind the clossed door). Perlu diketahui bahwa sebagian besar pekerja migran masih dipekerjakan di ranah pekerjaan yang kotor, sulit, dan berbahaya. Memang harus diakui, bekerja sebagai pekerja migran itu bagai dua sisi mata uang. Jika beruntung, maka mereka bisa mengumpulkan uang dan menjadi tulang punggung keluarga. Tetapi, jika kita sedang “apes” maka kesengsaraan, bahkan kematian terjadi, seperti yang dialami oleh Adelina. Migrant Care mencatat ada 1.288 pekerja migran yang meninggal di sepanjang tahun 2012-Januari 2018. Malaysia menempati urutan teratas dan menyusul Arab Saudi.

Masyarakat dan pejabat pemerintah, baru bereaksi bila sudah ada jatuh korban. Para politisi tampil di televisi mendiskusikan dengan saling menyalahkan satu sama lain. Tapi sebentar lagi semua itu pasti sudah menghilang seperti buih sabun yang menggelembung lalu pecah dan menghilang. Miris memang rasanya, tapi inilah salah satu cerminan bangsa kita yang belum sunguh-sungguh melindungi anak bangsa sendiri.

Setelah Adelina: Antara Cerita dan Derita

Adelina telah pergi. Cerita yang kita dengar sebelum Adelina pergi, pemerintah sudah mengeluarkan UU No 18 Tahun 2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (UUPPMI) yang memandatkan perlindungan dan penempatan buruh migran akan banyak diurus oleh Pemerintahan Daerah Provinsi, Kabupaten/Kota, hingga Desa. Dengan adanya cerita UUPPMI ini, semua mata tertuju ke daerah. Satu sisi UUPPMI melibatkan daerah dalam pengaturan dan perlindungan pekerja migran. Namun, di sisi lain, bukan tidak mungkin borok di pusat akan pindah dengan mudah ke daerah, bahkan lebih buruk. Nah, mari kita lihat secara jeli. Satu hal yang saya lihat di UUPPMI yaitu pekerja migran tidak dilibatkan dalam pemilihan kepala daerah. Bagaimana mungkin pekerja migran memastikan siapa pemimpin daerah asal mereka, yang bisa memberikan perlindungan seperti yang di amanatkan oleh UU PPMI, kalau hak memilih mereka tidak diakomodasi. Di sinilah, cerita itu berubah mejadi derita. Maka, pekerja migran serasa ‘terusir’ di tanahnya sendiri karena suaranya tidak dihargai. Susah di rantau, susah juga di tanah sendiri, ibarat ‘hidup enggan matipun tak mau’.

Akhirnya, hemat saya, para pekerja migran tidak memerlukan pujian melangit dan segala bentuk glorifikasi “pahlawan devisa”, apalagi itu dari negara. Memang pemerintah sudah dan sedang bekerja, butuh waktu karena persoalan pekerja migran sangatlah kompleks. Namun, pekerja migran menuntut perlindungan yang konkret dan hak-hak mereka perlu diakomodasi, termasuk hak dalam memilih pemimpin daerah. Percayalah, tidak ada pekerja migran yang mempunyai cita-cita menjadi pekerja migran, hanya karena kemiskinan di tanah sendiri. Merantau itu tidak selalu menatap langit biru, itu berat, kamu tidak akan kuat, kata Dilan. Kendati sulit, pekerja migran selalu mengaku “Cinta Indonesia”.

* Penulis adalah Pastor pendamping Pekerja Migran di Komunitas Katolik Indonesia-Hong Kong

Facebook Comments