Mid-Autumn Festival: Legenda, Kue Bulan dan Naga Api

0
264
Pertunjukan Naga Api di Tai Hang. Foto: Ario Adityo/SUARA

“Semoga kita berumur panjang dan dapat berbagi keindahan rembulan bersama, meskipun ratusan mil memisahkan kita”-penggalan puisi pada era Dinasti Tang yang ditulis oleh Su Shi.

Penggalan pusi ini mungkin yang paling dekat untuk menjelaskan romantisme dan suasana Mid-Autumn Festival (Festival Pertenghan Musim Gugur) yang berlangsung di Hong Kong pada 22-25 September tahun ini. Pada awalnya, festival ini dilakukan sebagai perwujudan rasa bersyukur terhadap hasil panen sekaligus untuk menikmati reuni antara anggota keluarga yang hidup terpisah.

Di Hong Kong festival ini dianggap sebagai salah satu peringatan terpenting, meskipun perayaan pada masa kini telah bercampur dengan ragam perkembangan budaya dan inovasi di masyarakat lokal. Setidaknya ada beberapa hal yang menjadi simbol dari perayaan ini, yaitu legenda asal usul festival, kue bulan dan lampion.

Legenda

Legenda yang seringkali di asosiasikan dengan Mid Autumn Festival adalah adalah kisah Dewi Chang’e. Dikisahkan pada saat bumi mempunyai 10 matahari, kondisi di bumi sangat panas dan menyengat diseluruh penjuru.

Menyikapi kondisi demikian, Kaisar Langit meminta kepada Hou Yi, Sang Pemanah, untuk memanah Sembilan matahari lainnya. Sang Pemanah berhasil menjatuhkan sembilan matahari tersebut, dan berhasil menyelamatkan bumi. Sebagai hadiah, Hou Yi diberikan ramuan keabadian. Ramuan itu kemudian disembunyikannya dirumah. Hou Yi berencana untuk berbagai ramuan keabadian itu dengan istrinya, Chang’e.

Namun pada saat Hou Yi pergi berburu, seorang muridnya yang bernama Feng Meng, datang untuk mencuri ramuan tersebut. Mengetahui niat buruk Feng Meng, istri Sang Pemanah kemudian memminum ramuan keabadian itu dan naik ke surge, dimana Chang;e memilih bulan sebagai tempat tinggalnya. Sampai saat ini dikisahkan, mereka yang benar-benar melihat bulan dapat melihat Chang’e.

Terinspirasi, program eksplorasi bulan pemerintah Tiongkok, diberi nama Chang’e 4, yang pada Desember 2018 akan diluncurkan.

Kue Bulan

Tidak hanya latar belakang festivalnya, salah satu simbol festival ini yaitu Kue Bulan juga mempunyai kisah patriotik. Pada masa Dinasti Yuan (1271-1368) para pejuang dari bangsa Han, memasukan pesan-pesan rahasia mereka semasa perjuangan melawan penguasa Mongolia, meskipun tak banyak bukti perihal kisah yang paling sering diceritakan ini.

Kue Bulan sendiri berasal pada masa Dinasti Tang (618-907). Meskipun sudah banyak variannya, secara traditional Kuebulan merupakan kue yang berisikan selai biji lotus dan kuning telur bebek yang diasinkan sebagai isinya.

Tarian Naga Api di Tai Hang

Pada abad ke 19, masyarakat di daerah Tai Hang mulai melakukan tarian naga untuk menghentikan nasib sial pada desa mereka. Meskipun saat ini desa Tai Hang sudah tertelan oleh pembangunan kota, namun Naga Api masih menari setiap Mid Autumn Festival.

Sekitar seratus tahun lalu, beberapa hari sebelum Mid Autumn Festival dimulai, angina topan pertama menghantam komunitas warga di Tai Hang yang mayoritas merupakan nelayan dan petani. Kesialan berikutnya ketika seekor ular python memakan ternak mereka. Untuk menghilangkan rasa frustasi dan kesialan ini, “orang pintar” di desa itu mengatakan bahwa warga harus melakukan tarian api selama tiga hari dan tiga malam sebelum festival dimulai. Pada akhirnya warga membuat naga dari jerami dan dupa, yang kemudian dimainkan dengan tabuhan drum dengan kondisi dupa menyala.

Penasaran? Jangan lewatkan jika anda berkesempatan untuk melihatnya.

 

Facebook Comments