Pahitmu Mengundang Rinduku

0
1526
Cerpen oleh Aliq Nurmawati

“Hai! Kamu, si Bulat Merah. Dan, hai juga kamu, si Oval! Atau si Siapa ya?! Karena kalau tak’ perhatiin lebih jauh, kamu juga nggak oval utuh,! Bulat juga enggak, benjol-benjol gimana! Namamu siapa, sih?!”

Pare, diam sejenak menunggu jawaban dari kedua sahabat barunya.

“Hai! Kamu! si Buah Pahit! Sombong amat sih! Datang-datang bukannya menyapa kami dengan sopan, tapi malah sok-sok-an, pamali!”

Dengan muka ketus si Bulat Merah kembali menyapa Pare.

Lalu si Bulat Benjol-benjol hanya tersenyum melihat adegan mereka.

Tapi, Bulat Merah mencubitnya, sebagai kode agar dia ikut bersuara.

“Ehem! Hem-hem! Hai juga si Pahit, eh, Si Buah Pahit… Panggil saja namaku Kentang. Atau,  bisa juga Potato dan  atau, Suicai, ketiga nama itu adalah nama panggilanku. Jadi, kamu bebas memilihnya. Asal jangan panggil aku dengan sebutan ‘Bulet Benjol-benjol’ya… karena itu akan membuat gatal cuping telingaku. Dan kalau boleh aku tau, namamu sendiri siapa sih?”

Kentang, menghangatkan suasana. Ia bicara dengan kedewasaannya. Membuat si Bulat Merah, pun gagal berang. Dan, si Pare sepertinya juga sedang menikmati suasana damai ini.

“Hai, Tang! Terima kasih atas kebaikanmu ya, secara tidak langsung kamu telah menyadarkanku. Memang tak seharusnya aku bersikap demikian pada kalian. Walau bagaimanapun, kalian lebih dulu berada di rumah ini, dan aku hanya pendatang baru.

Jadi respek ama kalian itu adalah keharusan. Maafkan aku ya, semuanya. Dan aku janji tak akan mengulanginya lagi.

Oh, ya. Sampai lupa memperkenalkan diri.

Namaku Pare, tapi aku akan di panggil Fu Kua, oleh, orang-orang bermata sipit di Pulau Beton ini. Dan,  panggil saja aku Pare, ya kawan!”

Pare, sudah mulai lega karena kehadirannya sudah mulai semakin di terima oleh Kentang dan si Bulat Merah.

“Hai, Re! Maafkan aku juga ya…yang tadi sempat naikin volume nada bicaraku. Tak seharusnya aku juga seperti itu.

Terima kasihku untukmu juga, Tang. Karena dengan penjelasanmu tadi, aku jadi sadar juga bahwa kekeliruan tak seharusnya dibalas dengan bentakan. Itu sama halnya, dengan menyiram bensin di atas percikan api. Dan, alhasil hanyalah kobaran api yang akan membakar semuanya.”

Si Bulat Merah, menutup kalimatnya dengan senyum manisnya, tapi Pare membulatkan matanya. Kentang, pun, menyimpan tanda tanya dalam rautnya.

“Iya, tapi masalahnya kamu belum memperkenalkan diri, Bulet Merah! He…he…he.”

Tawa mereka bertiga pun, pecah.

“Upsss. Ampe lupa! Hi…hi…hi. Namaku Tomat, Tomato juga boleh, tapi aku lebih suka dipanggil Fan Gei. Fan Gei adalah salah satu panggilanku dari manusia berkulit putih dan bermata sipit itu ‘loh. Udah, dulu ya, kawan-kawan ada Cece. Dia sebentar lagi pasti akan mencincang kami. Dan, tugas kami adalah manut-nurut. Karena dengan dicincangnya, kami akan bertransformasi menjadi energi bagi raga-raga yang sudah menelan kami.”

Fan Gei, menutup kalimatnya dengan senyum termanisnya.

“Sebentar, Cece itu siapa? Kok, aku belum kenal…”

Pare bertanya kepada Kentang dan Fan Gei, dengan nada yang serius.

“Kamu itu gimana, sih! Re! Cece, itu…Ya, yang tadi membelimu dari pasar, lalu menggendongmu pulang, dan sampai di istana Puan ini. Sebelum kamu tanya siapa Puan, baiklah akan kujelaskan sekalian. Puan itu istrinya tuan.

Dan, tuan sekarang telah tiada. Beliau diambil-Nya, setahun yang lalu, karena sakit yang sangat mengenaskan.

Kami saja, masih sering menangis jika ingat derita tuan.”

Mata Kentang, berkaca-kaca. Membuat Fan Gei dan Pare ikut larut dalam kesedihannya.

“Memangnya tuan, sakit apa Tang?”

Pare, memang memiliki karakter ingin tahu yang berlebihan.

“Amnesia akut. Sampai-sampai dia lupa dengan puan, juga anak-cucunya. Bahkan sama dirinya sendiri saja, dia tidak ingat. Bertingkah laku aneh, sering mengamuk.

Dulu pernah sewaktu menantunya menginap di rumahnya mau di bacok pakai pisau dapur. Gegara beliau telah hilang ingatan itu.

Ia pikir menantunya itu orang jahat, yang masuk rumah. Mungkin dipikirnya maling.”

Di antara jeda penjelasan Kentang, Pare, manggut-manggut diberangi dengan matanya yang menunjukan  gestur lebih dari paham.

Kentang dan Pare melanjutkan percakapannya, tak ketinggalan si Fan Gei. Ia juga tak mau kalah.

Pare yang cerdas, selalu pandai mencuri perhatian ke dua sahabatnya itu.

Ia bercerita bahwa Pare si Buah Pahit itu, tak hanya bisa di konsumsi setelah dimasak saja, tapi juga dalam kondisi mentah.

“Misalnya di bikin jus: dicampur dengan kunyit, dan madu. Dan dibarengin ama olahraga teratur itu akan mempercepat proses diet-mu loh gaes! Upsss, jangan lupa pola makan juga dijaga ya…”

Pare, tak hanya berhenti di situ saja, dia masih berlanjut ke resep berikutnya, yaitu tentang kasiat si Buah Pahit  yang berasal dari India bagian barat ini. Atau nama lainnya adalah Peria.

“Tolong perhatikan baik-baik Tang! Dan kamu si Bulet Merah! Eh, Gei. Fan Gei maksudku, atau kalau perlu garis bawahi supaya kalian tidak mudah melupakanku.

Sepuluh kasiatku itu: Satu, meningkatkan tingkat gula darah, eh, menurunkan tingkat gula darah maksudku. Dua, anti mikroba, tiga, menyembuhkan luka dan anti jamur, anti virus. Itu kasiat keempat ya… gaes! Lalu menurunkan kadar lemak darah, anti kanker. Menyembuhkan bisul dan menurunkan rasa sakit.”

Kentang dan Fan Gei, memperhatikan Pare dengan khusuk. Pare merasa di atas angin karena sudah dihargai kedua sahabatnya.

Ia kembali melanjutkan ceramahnya, yang bercerita tentang cara menumis pare yang baik benar, dan bagaimana menemukan kemanisan di dalam tubuh pahitnya.

Tetapi ceramahnya terhenti seketika, setelah, terdengar ada jeritan dari ruang tengah.

Sumber suara itu berasal dari kamar Cece.

Puan teriak histeris. Pare, berlari mengintip. Dia, pun ikut teriak tak terhingga karena melihat Cece menggantung lehernya dengan kain panjang warna mori.

Menyusul Kentang, dan Fan Gei.

Tangisan Puan, melebur jadi satu dengan air mata mereka bertiga. Apartemen mungil itu mendadak  jadi neraka seketika.

Kolam air mata, telah surut. Menyisakan duka yang panjang. Kepergian Cece, yang secara tiba-tiba membuat bumi Puan hancur berantakan.

Puan, kehabisan cara untuk mengawali hari. Alasan hidupnya menipis, ia hanya mampu menangis dan terus menangis.

Pare, tak kalah sedih, ia sedih karena yang selama ini membuatnya selalu ada di istana Puan tak lain adalah Cece.

Karena, Cece pencinta Pare. Setiap hari ia minum jus pare, setelahnya, masih merendam si buah pahit itu untuk di minum sisa air rendaman.

Kadang masih di bikin sup.

Didadar dengan telur, juga dibikin campuran salad.

Tiada hari tanpa pare. Pokoknya pare  adalah yang nomor satu di istana dapur Puan.

Pare yang kepo, Pare, yang tak bisa diam. Tapi Pare juga yang paling cerdas.

Ia berhasil mengintip hape, Cece, yang masih tergeletak di bawah bantalnya.

Dan dengan keahliannya yang hobi ngintip akhirnya ia pun, berhasil membuka kunci ponsel Cece. Dia buka dan buka lagi, lalu, sampailah pada yang ia cari: pesan terakhir dari Cece.

“ Tolong, siapa pun kamu, yang menemukan pesanku ini. Sampaikan pada dunia bahwa aku gantung diri bukan karena ingin lari dari tanggung jawab.

Tapi, karena aku sudah bosan dengan diriku sendiri.

Terlalu banyak yang menyayangiku, terlampau banyak yang ingin hidup bersanding denganku.

Namun, mereka, selalu mengeluh jika kutolak apa yang diinginkannya.

Apakah itu yang namanya ketulusan? Ataukah itu yang dinamakan mencintai?

Sementara secara aku, cinta itu adalah mengasihi, cinta itu adalah memberi dan cinta itu bukan memberi lalu meminta kembali.

Sayangnya cinta yang seperti itu telah tiada sebelum kutemui. Atau hanya akan ada dalam cerita fiksi.

Salam maafku yang tak terhingga untuk semua, sampai jumpa di ruang keabadian.” (*)

Dimuat di SUARA edisi April Main 2019, terbit tanggal 4 April 2019

Facebook Comments