PMI saat demo Mayday 2019: Kolam susu jadi kok jadi kolam susah?

0
165

Lima perempuan mengenakan pakaian hitam dan matanya ditutup dengan kain kasa putih. Bibirnya dibuat pucat dan ditubuh mereka menggendong sebuah slogan yang keras, “We are workers, Not Slave” (Kami Pekerja, Kami Bukan Budak). Tulisan itu ditulis di semacam piring dari styrofoam yang ditempel di kardus dan diikat dengan tali plastik. Tulisan itu menjadi penanda paling keras dalam peringatan hari Buruh Internasional 1 Mei yang dilakukan oleh berbagai kelompok gerakan solidaritas buruh di Hong Kong, Rabu 1 Mei 2019.

“Saya ikut aksi May Day ini untuk memperjuangkan nasib saya dan teman-teman. Kita tidak ingin lagi dijerat oleh overcharging dan kasus-kasus pelecehan seksual yang menimpa teman-teman,” kata Lenny dari PILAR.

Menurutnya, solidaritas dalam situasi tertindas adalah kunci untuk memperjuangkan penghapusan praktik-praktik yang tidak adil dalam sistem pengaturan ketenagakerjaan di Hong Kong. Rupanya, situasi ini juga didukung oleh berbagai kalangan. Terbukti bahwa kelompok yang tergabung dalam peringatan May Day di Hong Kong juga didukung oleh kalangan mahasiswa dan juga disfabel. Bahkan, ada seorang ibu tua dengan memakai “caping” dengan tenang ikut berjalan dari Victoria Park dengan penuh semangat. Caping itu dituis dengan huruf Kantonis, namun artinya tentu tidak jauh dari seruan tentang membangun solidaritas untuk sebuah sistem yang adil.

Sepanjang siang itu, aksi damai peringatan May Day berjalan dengan tertib, dan menarik perhatian banyak orang di sepanjang jalan dari Causeway Bay sampai dengan Central.  Sesampainya di Gedung Legislative Council, sudah ada panggung yang disiapkan dan penampilan musik yang dibuat oleh kelompok pergerakan buruh di Hong Kong.

Isu Perbudakan Modern

 

Lantas mengapa isu tentang “perbudakan” masih begitu kuat disuarakan oleh gerakan buruh migran Indonesia di Hong Kong? Jawabannya ada di belakang kelima perempuan yang ikut berdemonstrasi sambil membawa 5 tulisan.

Di belakang punggung mereka tertulis berbagai masalah yang sampai sekarang masih menjerat leher para BMI yaitu: Low Wage (upah rendah), Over Charging Fee Agency (biaya agen yang berlebihan), 6 Months Deduction (potongan 6 bulan), High Living Cost in Hong Kong (biaya hidup yang tinggi di Hong Kong), Must Be Happy Face (harus terlihat bahagia), Overtime (kerja lembur), Not Allowed To Be Tired (tidak boleh capek), Sleep in The Living Room (tidur di ruang tamu), Sleep in The Toilet (tidur di toilet), Sleep in The Storage (tidur di Gudang), Sleep in The Cabinet (tidur di lemari), Sex Abuse (pelecehan seksual), Death Row (hukuman mati), Human Trafficking (perdagangan manusia) dan lain sebagainya.

Isu itu bukanlah bualan, namun realitas keseharian yang masih banyak dialami oleh BMI di Hong Kong.

Apa yang dimaksud dengan perbudakan? Konvensi Perbudakan tahun 1926 merumuskan perbudakan adalah sebuah keadaan di mana seseorang menggunakan kekuatan untuk menjadikan seseorang objek pembelian; menggunakan seseorang atau pekerjaannya secara substansial tidak dibatasi; mengontrol atau membatasi pergerakan seseorang; dan menggunakan layanan seseorang tanpa kompensasi sepadan.

Rumusan Konvensi Perbudakan tahun 1926 tersebut masih ada sampai dengan sekarang dalam bentuk yang lebih canggih. Kelima gadis berpakaian hitam melukiskan bahwa praktik perbudakan modern masih terjadi BMI di Hong Kong.

Dalam peringatan May Day 2019 seruan untuk mengakhiri praktik perbudakan modern itu juga menjadi isu utama. Dengan begitu yakin, seorang aktivis PILAR memegang sebuah kertas yang bertuliskan End Modern Day Slavery in HK! (Hapuskan perbudakan modern di HK). Slogan ini salah satu kesadaran yang muncul akibat memberontak terhadap situasi perbudakan di kalangan buruh migran di zaman sekarang.

Melawan Lewat Lagu

            Alhasil, saat berjalan dari Victoria Park hingga LegCo Admiralty, para aktivis JBMI pun menyanyikan lagu “Kolam Susu” yang diubah menjadi “Kolam Susah”:

Bukan lautan hanya kolam susah

Buruh migran selalu diupah murah

Tiada jaminan tiada perlindungan

Masuk PT jadi korban pemerasan

 

Orang bilang kami pahlawan devisa

Tapi nasibnya diabaikan negara

Kami juga disebut sbagai pekerja

Tapi kami tak merasakan merdeka

 

Bukan lautan hanya Kolam Susah

Upah dirampas tanah juga dijarah

Tuntut hak katanya rusak citra negara

PT, agen jahat pemerintah diam saja

 

Orang bilang tanah kita tanah surga

Hasil alamnya lari entah ke mana

Buruh Migran ada di mana-mana

Karna kemiskinan semakin marajalela…..Hoiii…!!!

Artikel dimuat di SUARA edisi May Main 2019, terbit 8 Mei 2019

Facebook Comments