Profil mantan PMI sukses jadi pengusaha: Umi jadi bos ‘Maumi Cookies’

0
135
Umi yang mantan PMI kini jadi pengusaha 'Maumi Cookies'/Foto;Ahmad Suudi

DILIPATNYA kardus baru dari lembaran menjadi kotak. Lalu dia masukkan 12 toples mika bersis jajan lebaran ke dalamnya. Kardus bertuliskan ‘Maumi Cookies’ itu lebih tebal dan kokoh agar pengiriman kue lebih aman.

Kepada SUARA, Siti Umaiyah (44) mengatakan dus itu pesanan terakhir yang menunggu diambil pemesannya. Sebanyak 114 dus sebelumnya sudah dikirimkan ke masing-masing pemesan dari rumahnya di Dusun Krajan, Desa Benculuk, Kecamatan Cluring, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Berarti lebaran tahun ini, Umi, sapaan Siti Umaiyah, sudah melayani pesanan 1.380 toples jajan lebaran. Setiap kardus berisi berbagai jenis jajan, dari bermacam-macam nastar, kue mawar, chocho chips, kastangel dan berbagai olahan kacang.

“Dua bulan sebelum puasa sudah promosi di Facebook. Dari postingan tersebut kita bisa terima pesanan,” kata Umi, Minggu, 9/6/2019.

Setiap dus kue dijualnya seharga Rp 500 ribu, sudah termasuk ongkos kirim. Dengan penghasilan itu, Umi bersama Achmad Kholik (49) suaminya, membiayai kuliah kedua buah hati di program studi Sarjana Teknik Informatika sebuah kampus swasta di Bandung. Bahkan si sulung telah lulus dan bekerja di Ibu Kota.

Sekitar sembilan puluh persen pemesan merupakan PMI di Hongkong, Taiwan, dan Singapura untuk dikirimkan ke keluarga mereka di Tanah Air. Sebagian besar pesanan dikirimkan ke luar Banyuwangi, dari Nusa Tenggara Barat (NTB) hingga Lampung.

Bukan orang baru, pembeli-pembeli ini kenalan Umi dan Kholik, sapaan Achmad Kholik, yang juga pernah bekerja sebagai PMI di Taiwan. Umi bekerja di luar negeri selama 6 tahun hingga 2012, lalu membuat kue yang menjadi hobinya sejak lama.

“Dulu punya hobi bikin kue, tapi nggak punya modal. Sekarang (setelah pulang dari bekerja sebagai PMI) punya hobi dan punya modal,” ujar pengusaha kue yang mempekerjakan tetangganya itu.

Kholik sang suami juga memberikan sumbangsih besar dengan promosi di media sosial, membantu mengepak jajan, hingga mengantarnya ke tujuan di wilayah Banyuwangi. Mereka mengaku berusaha bahu-membahu membangun usaha demi masa depan anak.

Sebelumnya dibiayai istri, Kholik sempat menggantikan bekerja di Taiwan selama 9 tahun, hingga selesai pada 2017. Dari pasangan yang tinggal di rumah mertua, mereka jadi memiliki rumah, mobil, menjadi agen pemberangkatan PMI dan usaha makanan olahan yang siap menerima pesanan setiap hari.

“Yang penting harus ulet, punya keberanian dan kemampuan. Serta dengan konsumen kita harus ngomong apa adanya,” kata Kholik.

Sayangnya, tak seperti Umi dan Kholik, banyak mantan PMI yang gagal membangun usaha sendiri. Masalahnya datang dari persoalan keluarga, permodalan, hingga kurangnya pengalaman.

Presidium Keluarga Migran Indonesia (Kami) Jawa Timur Krishna Adi mengatakan meski mendapatkan gaji hingga Rp 10 juta per bulan, kesadaran menabung PMI Banyuwangi masih rendah. Selama 2,5 tahun bekerja, rata-rata mereka lebih banyak berbelanja gawai, fashion, dan traveling, hingga tak memiliki cukup modal ketika kontrak hampis habis.

“Konsumsi mereka bisa sampai 60 persen dari gaji. Mereka bingung ketika kontrak kerja tinggal 6 bulan, juga memikirkan akan menyambung kontrak kerja atau tidak,” kata Krishna.

Setelah modal terkumpul pun, kata dia, masih ada kebingungan terkait ide usaha. Pengalaman mereka sebagai pekerja, formal maupun informal, juga belum bisa diandalkan untuk membangun usaha baru. Hingga kegagalan masih kerap ditemukan.

Krishna mengatakan kebanyakan usaha salon atau butik mantan PMI gagal karena lokasinya tidak strategis. Sebagian lagi tak berhasil membuka toko karena persaingan kanan-kiri. Sementara yang ternak unggas, juga tak cukup pengalaman hingga ludes.

Usaha pasangan mantan PMI Umi dan Kholik juga diadopsinya untuk dikampanyekan pada PMI aktif, mantan PMI dan keluarga mereka. Tujuannya, agar mantan PMI berhasil membangun usaha di rumah hingga tak perlu lagi berangkat ke luar negeri.

Dari 5 unit produksi jajan lebaran di Banyuwangi, yang muncul dari kalangan mantan PMI, didapati hingga lebih dari 2 ton kue yang terjual. Selain karena olahan rumahan, kue mereka diminati untuk dijadikan kejutan oleh PMI aktif untuk keluarga mereka di kampung halaman.

“Kalau usaha ini ternyata kita tidak usah memasarkan kemana-mana, cuma pencet HP lewat media sosial responnya luar biasa. Pembeli belanjanya dari Rp 500 ribu hingga 4 juta sekali pesan,” kata Krishna lagi.

Artikel dimuat di SUARA edisi June Mid, terbit 24 Juni 2019

 

Facebook Comments