Profil Shelter Peduli Kasih: Menebar kasih dari ujung Hong Kong Island

0
490

TERHITUNG  sejak sebulan yang lalu, sebuah shelter untuk para PMI bermasalah didirikan di salah satu ujung Hong Kong Island. Itulah shelter Peduli Kasih, yang didirikan oleh Keuskupan Agung Hong Kong dan sehari-harinya diurus oleh para sukarelawan WNI dari Komunitas Katolik Indonesia Hong Kong (KKHIK).

Sebelumnya, shelter dari Keuskupan Hong Kong ini menggabungkan para PMI dengan para pekerja migran asal Filipina. Namun sejak sebulan yang lalu, Keuskupan Agung Hong Kong  memutuskan membuat shelter khusus untuk para PMI, yang dikoordinasi oleh KKHIK.

Romo Heribertus Hadiarto dari KKHIK menyatakan bahwa salah satu tujuan shelter ini dibuat adalah untuk memperkuat kepedulian antara PMI.

“Ada situasi yang membedakan pekerja migran asal Indonesia dengan Filipina. PMI itu berasal dari beragam suku dan agama. Mereka tidak bisa disamakan dengan pekerja migran asal Filipina. Misalnya saja soal bahasa, kita perlu perhatikan benar, bahwa PMI akan lebih nyaman dan aman jika bicara dalam bahasa Indonesia. Selain itu, mereka juga berbeda agama, ada yang beragama Islam, Katolik atau Kristen, latar belakang ini perlu diperhatikan secara khusus. Maka Peduli Kasih memperjuangkan sebuah shelter khusus untuk para pekerja dari Indonesia,” kata Romo Heri kepada SUARA.

Meski baru sebulan berdiri, namun bukan berarti shelter Peduli Kasih ini sepi penghuni.  Saat SUARA berkunjung pada Sabtu, 18/5/2019, sedikitnya ada 13 PMI yang menjadi penghuni shelter tersebut.

 Kepada SUARA, Nathalia Wijaya selaku Koordinator Shelter Peduli Kasih menyatakan bahwa mereka selalu membuka tangan semua PMI bermasalah tidak hanya yang bermasalah kasus labour tapi juga PMI sakit atau bahkan yang hamil.

Nathalia menyatakan Komunitas Peduli Kasih terutama menekankan bantuan psikologis dan sosial untuk para penghuni shelter tersebut, sementara kasus-kasus labour, diskriminasi dan sebagainya dilakukan bekerjasama dengan beberapa NGO di Hong Kong yang telah berpengalaman di bidangnya.

Untuk PMI yang hamil misalnya, Nathalia menyatakan dukungan psikologis dan sosial sangat diperlukan mengingat kerap kali para PMI yang hamil sering mendapatkan cibiran atau bahkan di-bully oleh teman-teman sendiri. Apalagi, jika PMI tersebut hamil di luar nikah dan tidak mendapat dukungan dari pasangannya.

”Perlu adanya pendampingan khusus kepada para PMI di Hong Kong yang hamil, namun tidak mendapat dukungan dari pasangannya. Kita bahkan menemui beberapa kasus bahwa kehamilan itu tidak dikehendaki oleh pasangannya dan meminta untuk menggugurkan kandungan tersebut. Peduli Kasih tergerak untuk mendampingi para PMI dan bayinya. Meskipun kondisinya sulit, anak yang di dalam kandungan itu perlu tetap diselamatkan,” kata Nathalia.

Selain itu, Shelter Peduli Kasihjuga fokus melayani para PMI yang mengalami sakit serius. “Teman-teman PMI yang terkena kanker atau penyakit serius lainnya di Hong Kong sebenarnya semakin banyak jumlahnya,” kata salah satu relawan Shelter Peduli Kasih, Aline kepada SUARA.

Aline menyatakan sekalipun rumah sakit-rumah sakit di Hong Kong memiliki pekerja sosial, namun para PMI sering kali merasa lebih nyaman jika didampingi teman-teman dari Indonesia.

Nathalia lebih lanjut menyatakan bahwa pendampingan PMI yang sakit di Hong Kong ini sangat rumit dari segala sisi.

“Mbak-Mbak PMI itu kan jelas butuh teman, kita harus perhatikan kondisi psikologisnya dan juga bagaimana menjaga agar hak-hak mereka tetap terpenuhi dengan baik. Teman-teman Peduli Kasih saat ini mendampingi para PMI yang terkena kanker dan harus ditemani. Kita bisa membayangkan bagaimana mereka sehabis operasi dan harus hidup sendiri tanpa pendampingan, tentu tidak mudah bagi mereka. Karena itu, Peduli Kasih menyediakan shelter khusus untuk pekerja migran asal Indonesia. Hal lain yang seringkali tidak mudah adalah bagaimana memberikan pengertian kepada majikan agar mereka bisa peduli kepada PMI yang sakit serius,” kata Nathalia.*

Dimuat di SUARA edisi May Mid 2019 terbit 24 Mei 2019

 

 

Facebook Comments