Program kuliah magang yang bermasalah di Taiwan

0
1295
BNP2TKI fasilitasi korban program kuliah magang yang bermsalah di Taiwan. Foto: Dok BNP2TKI

Kisruh kuliah magang yang diduga menjadi praktek perbudakan terhadap pelajar Indonesia di Taiwan sempat ramai dan berujung pemerintah Indonesia menghentikan program kerjasama tersebut. Kedua pemerintahan telah melakukan investigasi bersama dalam rangka memperoleh fakta dilapangan. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) baru-baru ini mendapatkan keterangan dan kesaksian dari salah satu Warga Negara Indonesia (WNI) yang mengikuti program tersebut.

Beberapa peserta program kuliah magang Taiwan yang diduga kuat diberangkatkan oleh PT. Assalam Karya Manunggal, dipulangkan. Salah satu dari enam orang peserta tersebut dipulangkan ke Lampung. Peserta bernama Fery Setiawan ini telah mengenyam program kuliah magang selama 4 bulan di Taiwan sejak tiba di Taiwan tanggal 13 Oktober 2018, namun ia dipulangkan lantaran dianggap terlalu ‘vokal’ dalam mengemukakan pendapat terkait gaji yang tidak sesuai janji, yakni sebesar NT$ 11.000, sedangkan pada saat penawaran gaji, besaran yang akan diterima adalah NT$ 26.000.

Fery Setiawan dalam wawancara mendalam yang dilakukan petugas BP3TKI Lampung (22/02) menjelaskan bahwa awalnya dia mendaftarkan diri ke PT. Assalam Karya Manunggal sebagai Calon Pekerja Migran Indonesia melalui sponsor berinisial K dan D. Beberapa kali sempat mengikuti seleksi, namun gagal. Akhirnya, pihak sponsor memberikan tawaran untuk mengikuti program kuliah kerja. Sponsor menjelaskan bahwa program ini lebih cepat berangkat, gaji besar, dan bisa memperoleh ilmu karena bisa sembari kuliah. Fery yang awalnya tidak tertarik kemudian berkat iming-iming dari sponsor, akhirnya ia pun bersedia.

Proses awal dari program ini yaitu adanya seleksi awal dan briefing dari para agen-agen dan pihak universitas yang digelar di hotel bintang 4 di Jakarta. Fery kemudian dinyatakan lolos seleksi dan tahap selanjutnya adalah medical check up. Selepas tahap medical check up, Fery dan para kandidat peserta yang lain ditampung di sebuah mess di daerah Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Selama satu minggu, seluruh kandidat yang berjumlah 40 orang diberikan kursus belajar Bahasa Mandarin.

Setelah dinyatakan lolos seleksi, Fery diharuskan membayar uang sebesar 40 juta rupiah kepada sponsor dari PT. Assalam Karya Manunggal pada saat itu juga. Selain itu, ia juga diharuskan membayar lagi uang yang disampaikan sponsor sebagai ‘biaya beli job’ sebesar NT$ 139.750 atau sekitar 40 juta rupiah dengan cara mengajukan pinjaman melalui Koperasi Simpan Pinjam Assalam Karya Manunggal dengan jumlah cicilan per bulan sebesar NT$ 9.459 yang dibayar melalui potongan gaji di Taiwan selama 18 bulan. Gaji yang dijanjikan pada tahun pertama adalah NT$ 26.000 dan setelahnya akan ada kenaikan gaji menjadi NT$ 30.000. Sedangkan, biaya kuliah yang harus dibayar adalah NT$ 10.000 tiap bulannya.

Fery menuturkan, “Setelah seminggu belajar Bahasa Mandarin, hanya 30 orang yang terbang, 10 orang lainnya disuruh TETO dan PAP, sedangkan kami yang 30 orang ga TETO dan PAP. Satu bulan awal di Taiwan, kami ga langsung kerja, cuma kuliah aja. Nunggu yang 10 orang sampai. Mereka baru sampai Taiwan setelah satu bulan dari kami, baru kami semua ber-40 dapat kerja,” imbuh Fery.

Fery dan rekan-rekannya sejumlah 40 orang mengikuti kuliah di Chienkuo Technology University, Changhua pada jurusan Infromatika dengan jadwal kuliah selama 5 hari dari hari Senin hingga Jumat sejak pukul 08.10 hingga pukul 12.00 kemudian lanjut bekerja sejak pukul 13.00 hingga pukul 20.30 di perusahaan bernama JAGO, Jarng Kwang Co.Ltd. pabrik pembuat car oil sealoil seal atau rubber seal di Changhua.

Pada bulan pertama diberikannya gaji, slip gaji Fery hanya tertera NT$ 6.609. Gaji tersebut masih harus dipotong cicilan per bulan untuk pinjaman koperasi sebesar NT$ 9.459 serta biaya kuliah NT$ 10.000 per bulan sehingga sebenarnya jumlahnya minus. Oleh karena itu, ia diberikan kembali pinjaman sebesar NT$ 5.000. Pada bulan kedua, gaji yang diterima sebesar NT$ 16.219, dan kembali dalam posisi minus karena banyaknya potongan. Kemudian, Fery diberikan uang pegangan untuk makan sebesar NT$ 3.000 tunai. Pada bulan ketiga, gaji yang diperoleh sebesar NT$ 22.112, lebih besar karena perkuliahan libur sehingga Fery dan rekan-rekannya bekerja sebulan penuh dan mengambil lembur atau bekerja sejak pukul 8 hingga pukul 5. Fery beserta 5 orang yang lain kemudian menanyakan kepada pihak perusahaan terkait perbedaan nominal gaji yang telah ditandatangani mereka pada saat akan berangkat ke Taiwan. Ia diberitahu oleh pihak perusahaan bahwa gaji pokok mereka adalah NT$ 11.000. Namun, karena dianggap terlalu ‘vokal’, keenam orang tersebut akhirnya dipulangkan. Pada saat dipulangkan, gaji bulan ketiga belum mereka terima.

“Sebenarnya, teman-teman lain yang masih di sana juga pada mau pulang, tapi mereka ga berani”, tegas Fery.

Apa itu Program Industry-Academia Collaboration?

Industry – Academia Collaboration Program in Taiwan for International Student adalah program belajar Strata D3 dan S1 yang dicanangkan oleh Pemerintah Taiwan. Ada yang menggunakan biaya mandiri, namun ada beberapa universitas yang menawarkan beasiswa dengan durasi 6 bulan sampai dengan satu tahun berupa bebas biaya sekolah dan asrama. Taiwan membuka peluang sebesar-besarnya bagi warga negara di Asia Selatan seperti, Vietnam, Laos, Kamboja, Malaysia dan Indonesia melalui sebuah konsep yang dinamakan Program “New South Bound Policy”. Melalui program ini diharapkan kehadiran dan peran Taiwan di negara-negara tersebut makin meningkat dan makin mempererat tali persahabatan antara Taiwan dengan negara-negara di Asia Selatan termasuk Indonesia.

Mahasiswa akan mengikuti praktik terjun ke dunia industri dengan cara magang. Para mahasiswa diberikan kesempatan untuk partime/paruh waktu terjun ke dunia industri. Jam partime yang diizinkan oleh Pemerintah Taiwan untuk para mahasiswa adalah 20 jam per minggu dan praktik industri ini adalah bagian dari kurikulum pembelajaran. Ada 69 program yang ditawarkan antara lain mencakup bidang kesehatan, teknik mesin dan listrik, manajemen keuangan dan bisnis, serta teknologi pertanian.

Apakah Realisasi Pelaksanaannya Sesuai dengan Tujuan Utama Program?

Berkaca dari pengalaman yang telah dialami Fery Setiawan, dapat dipetakan pelaksanaan program kuliah magang ini. Sejak pendaftaran, Fery awalnya ingin bekerja sebagai Pekerja Migran, namun diarahkan untuk ikut pada program kuliah magang. Ganjilnya, rekrutmen program ini dilaksanakan oleh Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI). Sejak awal tidak ada penjelasan secara detil terkait kampus dan jurusan apa yang diikutinya pada program tersebut. Fery hanya dijelaskan bahwa dia akan mengikuti program kuliah magang ini selama 5 tahun, yang terdiri dari 4 tahun kuliah dan kerja, serta 1 tahun setelahnya terjun bekerja. Pada saat di Taiwan, waktu yang digunakan untuk bekerja lebih banyak daripada waktu belajar. Bahkan ketika kuliah libur, rombongan Fery tidak dapat tinggal di mess kampus, melainkan mereka pindah di mess perusahaan.

Jam Kerja yang Melebihi Jam Belajar

Inti pelaksanaan program ini merupakan program belajar sebagai tujuan utama, dengan penambahan kurikulum praktik di dunia kerja. Jam kerja yang diizinkan bagi seorang pelajar di Taiwan hanyalah sebanyak 20 jam per minggu. Namun, pada pelaksanaannya, beberapa pelajar dominan bekerja daripada belajar. Jam kerja mereka mencapai 40 jam per minggu, seperti buruh atau bahkan lebih mirip pekerja migran. Penghitungan gaji tidak jelas, pihak perusahaan memberikan gaji pokok sangat kecil untuk jumlah jam kerja mereka sementara iming-iming awal sebelum berangkat, gaji yang diberikan NT$ 26.000 sehingga membuat calon kandidat termotivasi berangkat karena asumsi mereka apabila gaji tersebut dikurangi biaya kuliah mereka masih bisa menabung.

Status yang Ambigu dan Biaya Pendaftaran yang Mahal, Lebih Mahal dari Ketentuan Biaya Penempatan PMI ke Taiwan

Sedari awal proses perekrutan, tidak ada transparansi informasi yang diberikan dari agen-agen kepada kandidat program. Ketidakjelasan terlihat manakala tidak diberikannya pemahaman detil program ini beserta bagaimana proses magang di Taiwan. Biaya yang dikeluarkan untuk program ini juga tergolong besar, mencapai total 80 juta rupiah dan beragam pengenaannya bagi tiap-tiap kandidat. Biayanya bahkan lebih besar daripada biaya penempatan Pekerja Migran Indonesia ke Taiwan, yaitu sebesar Rp14.745.000, 00 untuk pekerja formal sektor manufaktur. Kerja sama program ini tidak disertai dengan suatu perjanjian apapun dengan kandidat-kandidatnya. Kandidat hanya menandatangani perjanjian hutang piutang dengan pihak Koperasi Simpan Pinjam Assalam Karya Manunggal. Tidak ada penjelasan bahwa nanti akan menempuh pendidikan di universitas tertentu dengan program magang di perusahaan tertentu yang linear dengan jurusannya.

Peserta yang terlanjur ikut program seakan-akan terpaksa diarahkan untuk kerja dengan beban kerja pekerja/buruh karena hutang potongan biaya yang harus mereka bayar, bahkan minus jumlahnya meskipun mereka telah lembur. Akibat minusnya beban-beban potongan biaya yang harus dibayar, membuat Fery dan peserta lain mau tidak mau untuk menambah hutang mereka sebagai uang biaya hidup. Indikasi adanya jeratan hutang secara terselubung sangat dimungkinkan pada program ini.

Munculnya istilah ‘beli job’ dan pelaksanaan yang dilakukan oleh Perusahaan Penempatan Pekerja Migran Indonesia membuat program ini makin mirip dengan skema penempatan PMI, namun dikemas melalui skema belajar. Visa kandidat merupakan visa nonpekerja. Tujuannya kuliah magang, namun waktu lebih dominan untuk bekerja daripada belajar. Peserta berangkat pun pastinya tanpa melalui prosedur bekerja ke luar negeri. Program sebatas kerja sama antara P3MI, universitas dan dengan perusahaan tempat magang. Melalui izin legalisasi instansi pemerintah yang manakah pengerahan dengan skema semacam ini dapat menjadi sah untuk dilaksanakan? Apakah P3MI berwenang menyelenggarakan program kuliah magang ke luar negeri?

Lemahnya Pelindungan Peserta Skema Penempatan Magang ke Luar Negeri yang Tak Berizin

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, pasal 1 ayat 11 menyatakan bahwa pemagangan adalah bagian dari sistem pelatihan kerja yang diselenggarakan secara terpadu antara pelatihan di lembaga pelatihan dengan bekerja secara langsung di bawah bimbingan dan pengawasan instruktur atau pekerja/buruh yang lebih berpengalaman, dalam proses produksi barang dan/atau jasa di perusahaan, dalam rangka menguasai keterampilan atau keahlian tertentu.

Pasal 22 ayat 3 menyatakan bahwa pemagangan yang diselenggarakan tidak melalui perjanjian pemagangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dianggap tidak sah dan status peserta berubah menjadi pekerja/buruh perusahaan yang bersangkutan. Pasal 25 ayat 1 menyatakan bahwa pemagangan yang dilakukan di luar wilayah Indonesia wajib mendapat izin dari Menteri atau pejabat yang ditunjuk. Pasal 26 ayat 1 menyatakan bahwa Penyelenggaraan pemagangan di luar wilayah Indonesia harus memperhatikan: a. harkat dan martabat bangsa Indonesia; b. penguasaan kompetensi yang lebih tinggi; dan c. perlindungan dan kesejahteraan peserta pemagangan, termasuk melaksanakan ibadahnya.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Direktorat PWNI dan BHI Kementerian  Luar Negeri, lead program ini berada di tangan Kemristekdikti melalui agen-agen pendidikan, bukan melalui P3MI. Direktorat PWNI dan BHI Kementerian Luar Negeri telah menyatakan bahwa program ini di-hold hingga telah dapat menemukan pola atau mekanisme kerja sama yang tepat agar selanjutnya tidak menimbulkan banyak masalah. Pemerintah Taiwan juga telah sepakat bahwa akan menghentikan penerbitan visa untuk program ini. Meskipun maksud program tawaran negara tetangga ini baik, namun tidak semerta-merta langsung dapat dilaksanakan begitu saja melalui perjanjian kerja sama semata antara agen-agen tak berizin yang selama ini menjalankan rekrutmen program ini, seperti perusahaan – universitas – P3MI.

Pemerintah sebagai pengatur, wajib mengetahui dan mengesahkan sebelum program terlaksana. Akibat inisiatif pihak swasta inilah, maka ketika terjadi permasalahan seperti ini, masyarakat awam menjadi pihak yang dirugikan bahkan kebingungan mengadu kepada siapa karena berdasarkan skema, program kuliah magang ini masih tidak jelas. Mereka bermaksud melaksanakan program belajar ke luar negeri, namun disisipi kecenderungan pada tujuan lain, yaitu menjadi pekerja ke luar negeri. Jangan sampai program semacam ini digunakan pihak-pihak tidak berkepentingan sebagai sarana mendapatkan keuntungan dengan kedok belajar ke luar negeri, namun kenyataannya menjadi pekerja migran

Facebook Comments