Radikalisme Bisa Tumbuh Akibat Miskin

0
129
Budiman Sudjatmiko saat menyampaikan materi kebangsaan

“Radikalisme tidak dipengaruhi oleh kecerdasan individu,  juga tingkat pendidikan mereka.

Sebaliknya, buruknya keadaan ekonomi bangsa merupakan salah satu pemicu individu untuk mencari sistem negara baru yang mereka anggap bisa memberikan kesejahteraan hidup,”  ujar Budiman Sudjatmiko,  aktivis reformasi 1998 dan mantan anggota Dewan Perwakilan Rakyat  Republik Indonesia (DPR RI) dalam acara yang diseleng arakan oleh Aliansi Kebangsaan untuk Indonesia (AKU Indonesia) di Hong Kong,  (Minggu,17 November 2019).

AKU Indonesia menggelar  diskusi kebangsaan untuk  memperingati hari Pahlawan, di Confucious Hall, Causeway, Hong Kong  dihadiri sekitar 250 peserta sebagian besar Pekerja Migran Indonesianara  (PMI).   Selain nara sumber  Budiman Sudjatmiko  pendiri  Innovator 4.0 Indonesia. Turut  hadir menjadi narasumber  Teddy Tri, sekretaris jenderal Inovator 4.0 Indonesia.

Dalam acara  bertema “Peran masyarakat dalam menanggulangi radikalisme, terorisme,separatisme ancaman kesatuan NKRI“  tersebut, nara  sumber menjelaskan bagaimana pembangunan ekonomi dan sumber daya manusia melalui inovasi dan tekhnologi sebagai salah satu tawaran solusi riil dalam menangani radikalisme dan terorisme.

Budiman dan Teddy  juga menjelaskan bagaimana  (PMI) bisa berperan menanggulangi radikalisme dan terorisme dengan cara tetap mencintai desa, berinvestasi di desa serta membangun kemajuan dari desa.  “Bawa kemajuan dan pengetahuan yang didapat di negara penempatan untuk memajukan tempat asal,” ujar Teddy.

Selain itu Budiman juga menekankan pentingnya bagi kita untuk terus bisa mengikuti perkembangan tekhnologi dalam menghadapi gegar budaya dan digital  literasi khususnya paham radikalisme yang disebarkan secara efektif, intensif dan membidik melalui tekhnologi tebaru.

Diskusi yang dimediasi oleh Nurul Qoriah  ini juga memberikan kesempatan bagi peserta yang hadir untuk bertanya  langsung kepada narasumber mengenai tema hari ini.

Turut hadir pula perwakilan staff KJRI , Erwin Akbar.  Pada sambutannya Erwin Akbar menyampaikan himbauan kepada hadirin juga seluruh Warga Negara Indonesa (WNI) yang berada di Hong Kong untuk tetap waspada di tengah situasi Hong Kong saat ini .

“Saya berharap  WNI lebih bijak dalam menggunakan sosial media dan lebih berhati-hati dalam menyebarkan informasi,” ujar Erwin yang juga meminta WNI untuk segera menghubungi Hotline KJRI jika tertimpa masalah.

Acara tersebut  juga bertepatan dengan Anniversary ke-3 Aku Indonesia.  Michael  Cheng, ketua AKU Indonesia mengajak  para hadirin untuk bisa mengingat kembali sejarah awal bangsa. Bangsa yang tetap penuh kerukunan di tengah perbedaan.   Michael  Cheng mengingat, Indonesia  adalah negara yang terbentuk dari beragam suku, ras, dan agama dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.

Di akhir acara Nurul Qoiriah,  inisiator dan mediator acara mengucapkan terima kasih kepada nara sumber, tamu undangan, sponsor serta seluruh peserta dan pihak yang terlibat dalam acara diskusi hari ini.

Facebook Comments