Realitas Ibadah Haji

0
656

Salah satu ritual terbesar umat Islam yang disatukan dalam satu titik pusara adalah ibadah Haji. Berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya, haji mempunyai banyak dimensi yang mesti digali oleh para pelakunya. Selain mengandung dimensi ibadah, haji mempunyai dimensi sosial, ekonomi dan politik yang tidak dapat dipisahkan dari seluruh rangkaian haji. Kalaulah makna-makna tersebut belum menjadi kesadaran kolektif para jamaah haji, kesadaran individual akan mendorong terbentuknya kesadaran kolektif jamaah haji, yang selanjutnya berimbas kepada kesadaran kolektif umat.

Miqat misalnya adalah titik awal seorang yang melakukan ibadah haji. Di sini para jamaah menanggalkan seluruh pakaiannya seraya menggantikannya dengan kain putih yang tidak dijahit sama sekali. Pakaian yang melambangkan kelas sosial, status, yang menjadi pembatas palsu, diskriminasi, perpecahan, ras, yang dipertuan dan diperhamba dan sebagainya ditanggalkan. Pada saat itulah seluruh jamaah dipaksa untuk mengakui bahwasannya manusia itu sama dari manapun kelas status sosialnya.

Kini lepaskanlah pakaianmu begitu tiba di miqat. Kenakanlah kain kafan, sehelai kain putih yang sederhana. Yang engkau kenakan adalah sama dengan yang lainnya. Saksikanlah betapa keseragaman bisa terjadi. Jadilah partikel dan ikutlah massa. Laksana setetes air, masuklah anda ke samudera.

Mengelilingi Ka’bah (tawaf) oleh lautan manusia bagaikan air sungai dan pusaranya. Ia bagaikan matahari sebagai tata surya dan manusia sebagai bintang-bintang yang beredar di dalam orbitnya. Dengan Ka’bah berada di-tengah-tengah, manusia mengelilinya dalam sebuah gerakan sirkular. Ka’bah melambangkan ketetapan dan keabadian Allah, sedang manusia berbondong-bondong mengelilinginya, melambangkan aktivitas dan transisi makhluk-makhluk ciptaannya, aktivitas yang terjadi terus-menerus.

Sa’i adalah sebuah pencarian. Dia adalah gerakan yang mempunyai tujuan yang digambarkan dengan gerakan berlari-lari serta bergegas-gegas. Apapun yang terjadi bergerak secara terus-menerus, humanitas dan spiritualitas dan di antara keduanya yang ada adalah disiplin. Inilah yang dikatakan sebagai ibadah haji, tekad untuk melakukan gerak abadi kesuatu arah tertentu. Demikian púlalah pergerakan seluruh alam semesta ini.

Perjalanan selanjutnya adalah perjalanan kembali kepada Allah yang terbagi dalam tiga tahap (Arafah, Masy’ar dan Mina) yang kesemuanya harus dilalui. Allah telah memberikan nama mulia kepada ketiganya: Arafah yang berarti sains atau pengetahuan, Masy’ar berarti kesadaran dan pengertian, dan Mina berarti cinta dan keyakinan.

Pada tanggal 10 Dzul Hijjah, engkau akan diuji dengan mengorbankan apa yang kamu cintai. Dengan berkorban ini engkau akan belajar dari Ibrahim. Inilah ujian Ibrahim, ia harus memilih untuk mengikuti perasaannya atau mentaati perintah Allah dengan mengorbankan Ismail anak satu-satunya. Cinta dan kebenaran berperang di dalam batinnya. Seandainya yang diperintahkan Allah itu mengorbankan dirinya, bagi Ibrahim hal itu akan lebih mudah. Tetapi perasaan yang seperti itulah yang merupakan sikap mementingkan diri sendiri dan kelemahan dirinya. Akan tetapi Ibrahim dapat melalui ujian yang maha berat dan drama yang amat dasyat ini dengan menuruti perintah Allah.

Facebook Comments