Saya diperkosa, saya dipenjara

0
7510

Bukan kesegaran badan saat bangun tidur yang dirasakan, namun rasa sakit akibat tindihan badan majikan yang dirasakan oleh Ana (bukan nama sebenarnya-red), tuturnya kepada SUARA, Kamis (10/5/2018).

Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Blitar, Jawa Timur, yang sekarang bekerja di Hong Kong ini mengaku tidak akan pernah lupa pada kejadian mengerikan yang dialaminya saat masih bekerja di Singapura.

“Hari itu, tanggal 14 bulan April tahun 2016. Pada jam 4 pagi, aku terbangun karena majikan laki-lakiku menindih tubuhku. Badannya yang besar dan berat membuatku sesak napas. Aku  berontak tapi sia-sia, hanya membuatku bertambah kesakitan,” tutur Ana yang saat kejadian tidur sekamar dengan anak majikannya.

Tugas Ana sehari-hari di rumah majikannya yang berada di kawasan Woodlands, Singapura, adalah melakukan pekerjaan rumah tangga, menjaga anak berusia 8 tahun dan merawat seorang lansia yang sedang sakit.

Pada malam kejadian, anak majikannya sedang terlelap di ranjangnya dan lansia yang mengkonsumsi obat tidur tidak mendengar teriakannya.

“Waktu itu aku bingung, sekaligus takut kejadian dini hari itu akan berulang, jadi yang terpikirkan olehku hanya mengadu ke majikan perempuan yang sedang berada di luar negeri. Aku bilang pada nyonya kalau aku ingin pulang ke Indonesia,” ujar PMI yang baru masuk ke Hong Kong, 6 bulan lalu.

Ana yang mengira masalahnya akan selesai setelah mengadu pada istri majikan, ternyata salah sangka. Tanpa sepengetahuan Ana, majikan perempuannya yang sedang berada di London melapor ke Polisi Singapura.

“Dua bulan setelah kejadian ada polisi datang ke rumah majikan. Saat itu, polisi yang mengintrogasiku memberikan dua pilihan. Aku yang membuat laporan atas kasusku sendiri atau polisi yang membuatkan laporan kasus atas namaku. Aku menolak dua-duanya. Aku bilang aku tidak ingin menuntut apa-apa, aku hanya ingin pulang ke Indonesia.” Ana menolak tawaran polisi karena kuatir proses hukumnya akan berlangsung lama sementara ia tidak boleh bekerja.

Penolakan Ana tak berhasil, kasusnya sudah terlanjur masuk ke kantor polisi, Ana terpaksa mengikuti prosedur hukum. Setelah divisum oleh dokter, Ana harus mengikuti persidangan yang sudah dijadwalkan.

“Aku ditampung dan tinggal di KBRI Singapura selama proses hukum berlangsung. Tapi saat mengikuti sidang, aku sendirian, tanpa pendampingan,” tutur Ana, yang saat ini sedang menjalani pemotongan gaji ke 6, untuk melunasi biaya penempatan.

Tanpa pendampingan dari orang yang paham hukum, membuat Ana terjebak dalam kebingungan kasusnya. Ana yang awalnya sebagai korban malah menjadi tersangka. Majikan menuduh dan menuntut balik bahwa Ana telah membuat pengaduan palsu. Pada akhirnya hakim menjatuhkan vonis hukuman penjara 2 Minggu untuk Ana, sedangkan majikannya bebas.

Ana sedikit lega, karena pemerkosaan yang menimpanya tidak membuat dia hamil. Karena saat itu Ana tengah menggunakan alat kontrasepsi.

“Sampai saat ini aku tidak berani bercerita kepada keluarga, aku tidak ingin mereka menanggung malu atas apa yang aku alami. Aku berbagi cerita ini kepada sesama teman-teman PMI agar teman-teman yang mengalami pelecehan seksual atau kasus lainnya, jangan ragu untuk melapor. Tapi dengan syarat pastikan mendapatkan pendampingan dari orang atau organisasi yang paham hukum agar tidak celaka seperti aku.”

Saat ini Ana bekerja pada majikan di Hong Kong, yang mewajibkan dirinya untuk bekerja terlebih dahulu saat  pergi dan pulang dari libur mingguan, selain merasa kekurangan soal makanan.

Facebook Comments