Selamat Tahun Baru 1440 Hijrah

0
598

Tidak lama lagi umat Islam akan menyambut kedatangan tahun baru Islam di mana 1439 tahun lalu Rasulullah SAW dan sejumlah kaum Muslimin berhijrah dari kota suci Makkah ke kota Madinah, yang bertujuan bukan saja untuk mencari keselamatan dan keamanan, bahkan untuk menyusun strategi dan kekuatan yang terencana, demi merubah wajah dan tatanan baru dunia serta menentukan arah masa depan sejarah kemanusiaan yang disegani. Oleh sebab itu, peristiwa, detik dan setiap aspek yang berkaitan dengan hijrah bukan saja harus diperingati malah wajib dihayati oleh seluruh umat Islam di seluruh dunia.

Tatkala Gubernur Basrah (Iraq) Abu Musa Al-Asy’ari menerima sepucuk surat tanpa tanggal dari Khalifah Umar bin Khattab, beliau pun membalas surat itu dengan kalimat:”Surat Tuan tanpa tanggal itu telah saya terima…”

 Kalimat yang sangat ringkas itu rupanya merupakan cubitan kepada khalifah Umar dan membukakan fikirannya untuk mencari dan menetapkan kalender Islam untuk digunakan dalam urusan korespondensi resmi negara ketika itu.

Sistim pertanggalan yang digunakan oleh umat Islam ketika itu beraneka ragam. Ada yang menggunakan Tahun Gajah; ada pula yang mendasarkan kepada kejadian-kejadian yang mudah diingati seperti Tahun Gempa Bumi, Tahun Perpisahan dan lain-lain.

Sewaktu Khalifah Umar membahas soal penetapan pertanggalan Islam dengan para sahabat dan pegawainya, ada yang mengusulkan supaya dihitung dari lahirnya Rasulullah SAW; ada pula yang mengusulkan supaya dihitung dari Nabi menerima wahyu kerasulannya. Akhirnya yang diterima adalah proposal Khalifah Ali bin Abi Talib dengan usulan ‘kalender Islam harus dimulai dari hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah’, dengan alasan bahwa semenjak itulah mulai terbentuknya kekuatan Islam yang sebenarnya. Maka mulai dari zaman Khalifah Umar itulah ditetapkan secara resmi penggunaan Tahun Baru Islam yang sekarang dinamakan Tahun Hijrah.

Peristiwa Hijrah terjadi karena Nabi Muhammad dan pengikutnya menghadapi tantangan yang amat berat dari kaum musyrikin Makkah. Bahkan ancaman pembunuhan dan siksaan dasyat telah dikenakan kepada mereka yang tertangkap. Yasir dan isterinya sumayyah disiksa sampai mati. Sementara Bilal bin Rabah, Ammar bin Yasir dan lain-lainnya disiksa dengan batu besar lagi panas yang diletakkan di atas dada mereka dan ditikam dengan besi panas karena mereka dianggap pengkhianat gara-gara memeluk Islam.

Sikap dan tantangan orang-orang kafir Quraisy terhadap da’wah Islamiyah ini menjadikan Rasulullah memikirkan Makkah- untuk sementara waktu- bukan tempat terbaik untuk menjadi wadah penyebaran Islam kepada masyarakat Arab. Baginda melihat kota Madinah merupakan tempat yang amat baik untuk menjadi tapak da’wah karena kedudukannya yang strategis: yaitu di tengah-tengah antara Semenanjung Arabia dan Syria.

Setelah menetap di Madinah, barulah Nabi SAW memulai rencana mengatur siasat dan membentuk masyarakat Islam yang bebas dari ancaman dan tekanan, mempertalikan hubungan kekeluargaan antara Muhajirin dan Ansar, mengadakan perjanjian saling membantu antara kaum Muslimin dan non-Muslim, dan menyusun strategi, ekonomi, sosial dan dasar-dasar negara.

Facebook Comments