Seorang PRTA Mendapatkan Hukuman Percobaan Karena Menganiaya Balita

0
736
Seorang PRTA dalam persidangan di Pengadilan Kwun Tong dijatuhi 1 tahun hukuman percobaan karena terbukti bersalah telah menganiaya anak majikan. Sumber foto: SCMP

Erlinda Benavidez Organista (40), Pekerja Rumah Tangga Asing (PRTA) asal Filipina, dijatuhi hukuman percobaan selama 12 bulan untuk menghindari hukuman penjara selama dua minggu, Senin (7/1/2019).

Menurut berita yang dilansir SCMP, di depan persidangan yang digelar di Pengadilan Kwun Tong, Erlinda telah mengakui perbuatan buruknya menampar dan mencubit anak laki-laki majikannya yang masih berusia dua tahun.

Hakim menjatuhkan hukuman kepada terdakwa karena terbukti sudah bertindak “kasar dan tidak berperasaan” terhadap anak di bawah umur.

Hakim Leung Ka-kie awalnya menjatuhkan hukuman penjara selama dua minggu, namun kemudian hukuman penjara ditangguhkan dan diganti dengan hukuman percobaan selama 1 tahun setelah terdakwa mengakui kesalahan dan menyesalinya. Leung mengatakan sebelum mengambil keputusan, dia sudah melihat rekaman televisi sirkuit tertutup yang merekam kejadian.

“Terdakwa terbukti bertindak kasar dan tidak berperasaan terhadap korbannya yang belum mampu membela diri,” ujar Leung seperti dikutip SCMP, Senin (7/2/2019).

Sementara itu dalam pembelaannya pengacara mengatakan bahwa apa yang dilakukannya klien-nya tidak sesuai karakter aslinya. Terdakwa emosional dan bertindak di luar kendali karena tekanan dan tuntutan kerja dari majikannya yang terlalu berat yakni 14 jam setiap hari, mulai dari jam 7.30 pagi, juga ditambah terdakwa sedang memiliki masalah perkawinan dengan suaminya.

Namun Leung menolak alasan yang diajukan pembela untuk mendapatkan keringanan hukuman terhadap terdakwa karena alasan yang diberikan dianggap tidak sah. Leung memberikan hukuman percobaan hanya karena memperhitungkan penyesalan mendalam dari terdakwa dan menghargai sikapnya yang mau bekerja sama saat menjalani investigasi.

Dengan adanya penangguhan hukuman, Erlinda bisa bebas dari penjara untuk sementara. Tapi Leung memperingatkan agar terdakwa tidak melakukan pelanggaran hukum dalam bentuk apapun dalam periode 12 bulan ke depan agar tidak dijebloskan ke penjara.

Menurut catatan kronologi kejadian, kejahatan yang dilakukan Erlinda pertama kali diketahui saat majikan laki-lakinya yang sedang berada di kamar mendengar suara tangisan “tidak biasa” dari putranya di ruang tamu, sekitar tengah hari pada 21 Desember 2018.

Majikan tersebut lantas memeriksa CCTV yang dipasang di rumahnya dan mengetahui bahwa pembantunya telah menampar wajah anaknya sebanyak delapan kali. Selain itu pembantunya juga mencubit pipi dan telinga anaknya berulang kali serta memukul perutnya sekali, sambil menarik kakinya lebih dari 20 kali.

Terdakwa yang sudah bekerja di Hong Kong sejak tahun 2011 langsung ditangkap dan ditahan setelah majikannya melapor ke polisi.

Facebook Comments