Sesosok kelas spa PMI di bawah apartemen

0
901
Jose bersama teman-teman PMI saat belajar spa bersama

Siti Khadijah Askyur. Dari pandangan pertama, mungkin orang-orang akan mengira gadis ini beretnis China, karena warna kulitnya kekuningan. Akan tetapi urusan tebak-menebak asal-usul leluhur ini hanya akan menemukan dua jawaban; salah dan benar.

Asykur yang lebih ngetop dengan nama panggilan Jose ini adalah gadis asli Malang, Jawa Timur. Dia biasa mengajar para PMI, sekadar berbagi ilmu membuat berbagai produk spa berbahan tradisional.

Di mana tempatnya? Ternyata di bawah sebuah gedung apartmen yang terletak di Lokfu. Untuk menuju ke tempat ini sebenarnya cukup berliku, karena setelah keluar dari MTR Lokfu exit A, kita masih harus menyusuri anak tangga yang entah berapa puluh jumlahnya. Belum lagi jika sedang ada taifun melanda. Tiupan angin yang kurang ramah itu sering kali menggondol tikar-tikar plastik yang mereka gunakan sebagai alas melangsungkan kelas spa itu.

Jose terlahir dari keluarga yang akrab dengan ramu-ramuan

Namun Jose tetap tampak antusias menyambut kedatangan SUARA hari itu. “Jose, ini sebenarnya nama produk, kan saya dulu pernah mau bikin produk, lha produk ini hand made, seperti bikin lulur dan sebagainya, pokoknya salon spa-lah intinya begitu, saya terinspirasi kaya Ayurweda dan yang lain-lainnya itu loh! Terus nama Jose tak pakai sebagai nama Facebook, lah… teman-teman malah manggil saya pakai nama itu, ya sudahlah saya pakai aja sebagai nama panggilan, gitu,” kata Jose memulai kisah.

Jose, tak lain dan tak bukan adalah seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang terlahir dari keluarga yang kesehariannya berbaur dengan yang namanya rempah-rempah. Bahkan, Mbah-nya Jose ini adalah seorang dukun bayi. Jadi tak heran jika sejak usia belia, Jose sudah menguasai banyak bahan tradisional semisal peracikan bahan param mustajap, ataupun bedak beras yang dapat membantu membersihkan jerawat sampai noda hitam pada wajah. Sebut saja kencur, kunyit, manjakani, kunci, daun beluntas, dan sejenisnya? Wah bahan-bahan ini selalu menemani Jose kecil menghabiskan hari-harinya.

Bukan hanya jago ramu-meramu bahan herbal, Jose sendiri sebagai seorang wanita telah merasakan sendiri khasiat berbagai jamu yang resepnya berasal dari para leluhur.

Daun beluntas misalnya, mungkin banyak dari sedikit orang yang paham, bahwa khasiatnya sangat luar biasa terutama bagi gadis yang menginjak usia remaja. Jose menjelaskan, bahwa pada umur 15-17 tahun, daun beluntas dapat menjadi kawan setia seorang gadis yang mulai menginjak usia pubertas. Pada awal seorang wanita mulai kedatangan tamu rutin bulanan, saat itu pula lah, Jose mengatakan, daun beluntas dapat membantu menghilangkan bau badan.

Bukankah perempuan cantik seharusnya juga beraroma wangi? Pastinya harus minum jamu dong? Namun jika kita membahas jamu, biasanya rasa pahit, aroma yang bisa bikin eneg, langsung membayang di benak. Apalagi kalau jamunya kental. Weeeh… bisa-bisa malah muntah!

“Nah, ini nih! Teruntuk para gadis yang fobia akan kentalnya jamu, keluarga Jose, punya resep untuk mengatasinya, yaitu dengan mengiris semua bahan lalu di tunggu endapannya. Jadi, selamat tinggal jamu kental! Dan satu lagi yang perlu diingat, bahwasanya, bahan jamu yang diparut itu akan berbahaya untuk ginjal loh!,” kata Jose sambil menunjukkan ramuannya

Seandainya mengiris serta menunggui endapan masih juga terasa kurang cocok di lidah, ternyata Jose masih punya satu cara lagi untuk mengakali para gadis yang fobia minum jamu, yaitu dengan cara merebus semua bahan menjadi satu. Cara ini serupa dengan cara yang biasa dilakukan orang-orang China jika membuat pothong atau ramuan obat China.

Namun pengalaman Jose menguasai semua ramuan itu sudah pasti tak jatuh dari langit begitu saja. Semuanya butuh proses yang panjang. Jalan yang panjang dia lalui sebelum akhirnya bekerja sebagai PMI di Hong Kong ini. Pada 2012, dia sempat bekerja sebagai PMI ke Afrika untuk merawat orang jompo sekalipun sebenarnya dia berniat ke Brunei semulanya.

Meski terdengar seperti jadi korban human trafficking, Jose justru memanfaatkan waktunya di Afrika itu untuk belajar dan belajar. PMI ini menyatakan merasa beruntung tetap bertemu majikan yang baik hati sehingga bisa bekerja sambil belajar. Seorang majikan dirawat Jose saat itu, meskipun telah berusia kepala 8, tapi masih sehat dan aktif di kegiatan sosial. Jose pun selalu diajak kemana sang majikan pergi selalu diajak.

Di kelas sosial itulah, Jose bertemu banyak pasien, dari mulai yang kena kanker tulang, lumpuh, cacat dan masih banyak lagi. Tugas Jose adalah memijit mereka, tentunya untuk tambahan pengalaman dan uang pesangon. Meskipun ia sendiri tak pernah mengharapnya.

Jika bicara tentang gaji? Lebih banyak Hong Kong atau Afrika nih? “He..he…he…, sama aja lah! Tapi saya lebih suka di HongKong,” kata Jose, sambil tertawa renyah.

Dia mengatakan bahwa selama bekerja di Afrika, dirinya tak hanya berhasil mencuri ilmu tentang bagaimana memijat tetapi ia juga mengantongi ilmu tentang kehidupan, yang didapatnya dari bertemu dengan orang sakit dan cacat. Semua itu membuat Jose merasa dirinya harus membantu mereka yang lebih lemah. “Kalau membantu itu, tidak perlu kita dilihat orang, baik ya baik aja, baik itu hitungannya dengan Tuhan, bukan dengan manusia,” kata Jose.

Kini tak terasa telah 2 tahun, Jose menjadi mentor kelas spa untuk PMI di Hong Kong. Gratis. Jose pun berkeinginan mendirikan kelas yang lebih besar sendiri, yang di dalamnya akan ada lima kelas; kelas pangkas rambut, kelas kerajinan,  menjahit, make-up dan juga kelas spa. Semua kelas ini gratis! Kita doakan cita-cita mulia Jose ini akan segera terwujud!*

Artikel dimuat di SUSRA edisi September Main 2019, terbit 6 September 2019

 

 

 

Facebook Comments