Sudah setahun Watini meninggal di Tseung Kwan O sebagai pahlawan devisa, anak kandungnya masih belum dapat cairkan asuransi di Banyumas

0
2356
Foto Almarhumah Watini semasa di Hong Kong. Foto telah diijinkan untuk dipublikasikan oleh keluarga/Sumber:Istimewa

SUNGGUH malang nasib Rinto, begitu saja sebut namanya. Dia masih duduk di bangku kelas 3 SMK saat sang ibu, Watini, mendadak meninggal dunia di Tseung Kwan O, karena sakit jantung pada Maret tahun 2018 lalu. Namun hingga kini Rinto dan adiknya, masih juga belum menerima hak asuransi kematian dari sang ibu.

Padahal sang ibu yang bekerja sebagai PMI ke Hong Kong, selama ini adalah tulang punggung yang menghidupi Rinto, adiknya, serta kakek dan neneknya sejak sepuluh tahun silam. Alhasil, keluarga dari almarhumah Wartini kini terlunta-lunta berusaha hidup sebisanya menyambung hari demi hari.

Semuanya bermula sejak sepuluh tahun lalu saat sang ibu bercerai dengan ayahnya Rinto. Sejak itu pula, ayahnya Rinto mendadak menghilang dan tak sudi lagi menafkahi ibu serta dua orang anaknya yang masih kecil. Jangankan menafkahi, bahkan sekedar menampakkan batang hidung untuk bertanya kabar anak-anaknya saja tidak pernah. Dengar-dengar, ayahnya sudah lama menikah lagi dan tinggal di ibukota bersama keluarga barunya.

Sedih? Sudah pasti. Tapi itulah hidup yang harus dijalaninya hari demi hari. Sang ibu, Watini, akhirnya memantapkan diri bekerja ke Hong Kong sebagai PMI agar anak-anaknya serta orang tuanya yang sudah uzur dapat terus hidup dan punya masa depan.

Setiap bulan, ibunya tak pernah alpa mengirim uang untuk kebutuhan hidupnya, adik serta kakek neneknya yang sudah tua. Juga, untuk biaya pendidikannya dan sang adik. Rinto giat bersekolah dengan harapan suatu saat dapat cepat membalas bakti kepada sang ibu yang telah banyak berkorban. Rinto tahu benar, telah banyak kepedihan yang harus ditelan sang ibu selama ini. Rinto berharap, suatu saat nanti dia dapat membuat sang ibu tersenyum bahagia dan menghabiskan masa tua dengan nyaman di kampung halaman.

Sang ibu terkadang pulang kampung untuk cuti. Pada saat-saat itu, Rinto merasa bahagia sekali karena bertemu ibu yang sangat mengasihinya. Ia selalu bertekad akan berbakti pada ibunya.

Namun hidup punya jalannya sendiri. Malang tak dapat ditolak. Bagai disambar petir di siang hari, Rinto mendapat kabar bahwa sang ibu mendadak meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Tseung Kwan O. Sakit jantung katanya. Saat itu Rinto masih duduk di kelas 3 SMK dan adiknya masih di kelas 1 SMP.

Sedih. Bingung. Kehilangan pegangan dan panutan hidup. Campur aduk dirasakan Rinto saat itu. Dia hanya bisa manut saat seorang petugas Desa Migran Produktif (Desmigratif) membimbingnya dan memberikan semua gaji dan hak-hak sang ibu yang dikirimkan majikan.

Namun, hak-hak Watini tak sebatas itu saja. Watini berangkat ke Hong Kong sebagai PMI sesuai dengan prosedur. Alhasil, keluarga Almarhumah Watini berhak menerima asuransi kematian TKI sesuai peraturan pemerintah.

Namun, perjuangan menuntut hak asuransi kematian ternyata tidak semudah yang Rinto bayangkan. PT yang menempatkan sang ibu ke Hong Kong, berdalih tidak membelikan asuransi apapun. Rinto pun harus jungkir balik berusaha menuntut. Berkali-kali surat aduan dia layangkan, berharap hak asuransi Almarhumah cepat cair. Meski hingga kini belum ada juga titik terang yang terlihat…

Sementara Rinto yang baru lulus SMK, terus pontang-panting berusaha mencari penghidupan untuk kakek, nenek dan adiknya yang masih kecil. Terkadang, diam-diam Rinto merintih; Ibu, mengapa begitu cepat kau pergi?

Nama dari anak kandung Watini sengaja disamarkan untuk menghindari adanya intimidasi dari pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab.

 

 

 

 

Facebook Comments