Tersangka Pemerkosa PRT Indonesia, Bantah Dakwaan Dalam Sidang Pengadilan Tinggi

0
374
Foto; Istimewa

Tersangka pelaku pelecehan dan pemerkosaan terhadap seorang Pekerja Rumah Tangga (PRT) asal Indonesia, membantah atas dakwaan terhadapnya 2 kali pelecehan dan 2 kali pemerkosaan di sidang yang digelar di Pengadilan Tinggi, Jumat (18/1/2019).

Diberitakan Oriental Daily, TSANG Wai-sun (55), seorang pengangguran, pada tahun 2018, mempekerjakan seorang PRT asal Indonesia untuk merawat putrinya yang cacat mental. Dia melakukan pelecehan di samping putrinya, dengan meraba seluruh tubuh PRT nya itu. Sekitar satu minggu kemudian, dia mengulanginya. PRT yang disebutkan dengan inisial X, diam tidak berani melapor. Namun dua hari berikutnya, pelaku kembali melakukan serangan terhadap X, dua kali memperkosanya. Akhirnya X meminta bantuan agen dan mengadu ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI), dan staf kemudian melapor ke Polisi.

Pada hari Jumat (18/1/2019), dalam persidangan di Pengadilan Tinggi, pelaku membantah dua dakwaan pelecehan seksual dan dua dakwaan pemerkosaan. Dalam sidang yang menghadirkan X untuk dimintai keterangan dua kasus itu membuat emosional X tidak stabil, dan hakim menunda persidangannya hingga X tenang.

Pada periode 10-18 Desember 2018, pelaku melakukan pelecehan sebanyak dua kali pada saat itu korban X masih berusia 27 tahun di rumah pelaku, di Lower Wong Tai Sin Estate. Dan pada periode 19-20 Desember 2019, pelaku melakukan penyerangan pemerkosaan dua kali.

X yang saat ini berusia 28 tahun mengatakan bahwa, pada tanggal 10 Desember 2018, terdakwa membawa X ke rumahnya sebagai PRT terutama bertanggung jawab merawat anak perempuan terdakwa berusia 13 tahun yang cacat mental. Dia tidur sekamar dan satu tempat tidur dengan anak perempuannya itu, dan terdakwa sekamar dengan istrinya. Namun terdakwa juga mengatakan bahwa X tidak boleh mengunci pintu kamarnya.

Pada malam itu juga, ketika X tidur, terdakwa memasuki kamar untuk menambahkan selimut untuk putrinya. Selama periode itu, dia meraba X mulai dari rambut hingga bahu, dada, paha dan bagian vital. X terbangun dan berkata, “No, no, no”, dan mendorongnya pergi, terdakwa berbisik di telinga X, “I Love You” dan kemudian meninggalkan ruangan. X takut kehilangan pekerjaannya, dia adalah tulang punggung ekonomi keluarganya, dia harus mendukung ibunya, tiga saudara lelaki dan anak laki-lakinya di Indonesia, jadi dia tidak berani memberitahu orang lain.

X juga mengatakan, pada tanggal 19 Desember 2018 malam, ketika X tidur di kamar, terdakwa memasuki ruangan dan menarik X ke kamarnya, mendorongnya ke tempat tidur dan menekannya di tubuhnya dan memaksanya melepas celana dan memperkosanya. X dalam Bahasa Indonesia menjerit “tolong”, tetapi terdakwa tidak berhenti dan semakin kasar. Namun tidak berselang lama, mereka mendengar suara kunci di luar pintu, dan ternyata istri terdakwa kembali, terdakwa mendorong X kembali ke kamar putrinya. X merasa sangat takut, mencari seseorang untuk membantu, dan menemukan nomor telepon KJRI di Internet, ketika dihubungi tidak ada yang menjawab. Dia juga menelepon agen tetapi selalu takut kehilangan pekerjaan, dia hanya mengatakan kepada agen bahwa dia sangat takut.

Selain itu, terdakwa juga meraba tubuh X di sebelah putrinya pada 18 Desember tahun lalu. Terdakwa juga, pada saat istrinya pergi pada tanggal 20 Desember sore, ketika X berada di dapur, terdakwa memegang pinggang X dan mendorongnya, melepas celana X dan memperkosanya, X telah berjuang dan menggigit terdakwa tetapi terdakwa melanjutkan, akhirnya mengeluarkan alat vitalnya dan memaksa X untuk ejakulasi di mulutnya, X terus berusaha melawan kemudian terdakwa ejakulasi ditangan X, kemudian pergi. X pada hari yang sama, memberitahu agen tentang insiden tersebut dan pergi ke konsulat Indonesia untuk meminta bantuan dan selanjutnya Staf konsulat melapor ke polisi.

Penuntut mengatakan bahwa, X berharap dengan bukti yang ada berupa bekas bercak sperma terdakwa di celana dalam dan celana jins yang digunakannya.

Facebook Comments