Tertipu perpanjangan visa: Nirul 13 tahun kerja ilegal keliling Taiwan

0
904
Nirul bersama putranya di warung makan khas Taiwan milik mantan PMI tersebut di Indonesia/Foto: Ahmad Suudi

SITI Munirul Fulatin (42) menggoreng makanan khas Banyuwangi, cipay, di warungnya yang seluas 6 X 4 meter untuk melayani seorang pelanggan. Warung itu dibuatkan suami yang menikahinya tahun 2017 di halaman rumah orang tua di Desa Bangorejo, Kecamatan Bangorejo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Nirul, sapaan Siti Munirul Fulatin, mengurus putra pertamanya yang masih balita sembari mengelola warung yang menyediakan menu-menu populer Taiwan itu. Kehidupan yang dia impikan itu didapatnya setelah perjuangan 13 tahun menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI) ilegal di Taiwan.

Kepada SUARA, dia menceritakan pernah bekerja di pelipatan uang untuk prosesi pemakaman, selama sebulan dengan gaji sekitar Rp 400 ribu per bulan. Selama itu ia hanya makan nasi putih dan tidur menumpang untuk bertahan hidup di negeri orang.

“Gaji per bulan waktu itu 500 NT$. Aku belum punya teman banyak jadi cari kerjaan sendiri, tempat sendiri. Itu kenangan paling pahit,” kata Nirul di warungnya, Kamis 27 Juni 2019.

Pengalaman itu harus dialaminya karena kawan yang menguruskan dokumen resmi kabur setelah menerima uang jasa 130 ribu NT$ darinya. Setelah kontrak pertama habis, pulang ke kampung halaman, Nirul berniat kembali ke majikan lama dengan visa kunjungan.

Visa kunjungan dipilihnya agar mendapatkan upah yang lebih tinggi daripada PMI yang masuk menggunakan visa kerja. Bukan untung, malah buntung. Visa tak diperpanjang, sedangkan uangnya telah habis dibawa kabur dan sebagian untuk membiayai kuliah adiknya.

Sejak itu Nirul memulai petualangannya kerja dari majikan satu ke majikan lainnya sebagai perawat lansia, orang sakit atau cacat. Seminggu pindah, sebulan pindah, hingga semua wilayah Negeri Naga Kecil Asia itu, dari Taipei sampai Tainan, dikunjunginya tanpa visa dan kartu identitas.

“Awalnya tidak bisa merawat orang sakit yang makan pakai selang, buang air pakai selang. Tapi saya yakinkan diri harus berani belajar, daripada pulang dengan tangan kosong,” ujar PMI yang sebelumnya juga bekerja di Brunei Darussalam selama 2 tahun itu.

Dalam perjalan dari satu wilayah ke wilayah lain sebagai pendatang ilegal sejak tahun 2003 sampai 2017 itu, dia 5 kali menghadapi pemeriksaan oleh Kepolisian Taiwan. Semuanya berhasil dilaluinya tenpa kecurigaan dengan meminjam dokumen kawan, bahkan warga negara Indonesia (WNI) yang belum kenal membantunya lolos pemeriksaan.

Kalau tertangkap, Nirul akan langsung dipulangkan karena tidak memiliki ikatan dengan majikan dalam dokumen Pemerintah Taiwan. Berbeda dengan PMI yang kabur dari majikan, bila tertangkap, akan dibawa ke majikannya untuk menyelesaikan berbagai urusan.

Meski tak pernah tertangkap, dalam kurun waktu itu juga, didengarnya adik kandung yang sedang dikuliahkan memutuskan menikah sebelum lulus. Padahal dirinya sendiri masih melajang. Ibunya yang meninggal juga tak bisa dilihatnya untuk terakhir kali karena proses kepulangan PMI ilegal butuh waktu 1 bulan.

“Saya kerja pindah-pindah sambil belajar masak makanan berbagai daerah di Taiwan. Karena hobi saya perdapuran (memasak) jadi sekarang membuka warung menu Taiwan, biar punya kesibukan dan tidak balik lagi ke luar negeri,” kata Nirul.

Kini adik yang sempat membuatnya kecewa karena terancam berhenti kuliah, justru membuatnya bangga dengan meraih gelar D3 Kebidanan dan membuka praktik di rumah orang tua mereka. Bahkan Binti Inayah (37) adiknya, juga melayani pijat saraf dan bekam.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Banyuwangi, Agung Subastian, mengatakan kasus yang dialami Nirul sangat jarang. Apalagi beberapa tahun terakhir Pemerintah Taiwan terus memperketat pemeriksaan dokumen PMI.

“Kasus yang biasa ditemui masa tinggalnya habis, kedua ada masalah dengan majikan lalu kabur tidak berdokumen, atau dipecat tapi paspor dan kontrak kerjanya itu dibawa majikan,” kata Agung saat dihubungi.

Dia menjelaskan pengurusan perpanjangan visa bisa dilakukan ke kantor Konsulat Jendral Republik Indonesia (KJRI) atau kantor perwakilan Republik Indonesia di negara tempat bekerja. Namun bila telah overstay atau melewati masa tinggal, biasanya PMI memproses perpanjangan visa melalui agensi yang mematok biaya tertentu.

Nirul mengaku menggunakan kemampuan Bahasa Mandarin, uang saku yang cukup, dan alamat tujuan yang jelas hingga petugas Imigrasi Taiwan di bandara mengizinkannya masuk dengan visa kunjungan. Namun dia yakin tak akan lolos bila aksi ilegalnya itu dilakukan saat ini, karena Pemerintah Taiwan telah meningkatkan sistem pemeriksaan warga asing.*

Artikel dimuat di SUARA cetak edisi July Main 2019, terbit 5 Juli 2019

Facebook Comments