Tolak layani pria India, Ririn ditelantarkan agen ke Macau

0
2156
Foto hanya ilustrasi.

KASUS overstay dan ditelantarkan oleh agen adalah kasus terbanyak yang dilaporkan ke KJRI Macau dalam dua tahun terakhir ini. Salah satunya adalah PMI sebut saja namanya Ririn, asal Banjarnegara, Jawa Tengah.

PMI ini sempat dibawa agen ke hotel dan disuruh melayani pria India. Ririn yang ketakutan menolak dan lari keluar, namun tetap pergi Macau sesuai jadwal agen untuk menunggu visa. Setelah 1 bulan 20 hari terlantar di Macau, Ririn akhirnya dibantu teman sesama PMI untuk mendapatkan bantuan dari KJRI.

“Yang bikin aku paling sakit hati itu, kalau memang Maam (staf agen) nggak mau proses visaku, bilang aja, kok aku dibiarin begini di Macau,” kata Ririn sambil terisak.

Ririn sebenarnya telah bekerja di Hong Kong sejak 2011. Namun pada Desember 2018, PMI ini kena terminit karena majikannya pindah ke China Daratan. Jadilah Ririn kembali ke agennya di Cheung Sha Wan dan diproses visanya dengan majikan baru dengan bantuan seorang staf agen Indonesia yang biasa dipanggilnya dengan sebutan “Maam”.

“Setelah kontrak tanda tangan semua, aku minta ke Maam, bisa nggak, aku nggak usah pulang ke Indo? Dia suruh aku ke Macau dan tunggu di sana,” kata Ririn. Menurut Ririn, Maam juga menawarinya pinjaman uang HK$ 7000, untuk dikembalikan dicicil 3 bulan setelah dia masuk kerja dengan total HK$ 10 ribu. Kepepet uang, Ririn pun pasrah saja berutang ke Maam.

“Dia itu ngomongnya halus, sudah kamu butuh uang kan? Pinjam aja sama aku daripada ngutang ke bank, kamu pinjam HK$ 7000 nanti balikin tempo 3 bulan HK$ 10 ribu,” kata Ririn berkisah.

Beberapa hari sebelum Ririn pergi ke Macau, tiba-tiba Maam mengajak Ririn ke Causeway Bay. Alasannya, untuk menemui pacar Maam yang adalah orang India. Di sana, Maam mengajak Ririn naik ke sebuah hostel.

“Aku sempat bingung kok diajak ke kamar? Kok ada wong lanangnya? Tahu-tahunya aku disuruh mandi, dan disuruh rebahan di tempat tidur. Ya aku nggak mau! Aku kan punya anak perempuan, punya anak perempuan… Ya Allah ya Rabbi…,” Ririn berkisah sambil terus terisak.

Sang pria India sempat menawari Ririn untuk minum bir dan merokok. Namun PMI ini terus menolak dan duduk di sebuah kursi di kamar itu.

Tak disangka Maam dan pria India itu tetap berhubungan intim di depan Ririn, yang disuruh menonton. Saat keduanya pergi mandi, Ririn yang ketakutan memaksa minta ijin pulang sekalipun saat itu telah pukul 3 pagi.

“Aku telepon temanku yang punya kos-kosan di Causeway Bay, aku disuruh ke sana. Aku tinggal di sana sampai harinya harus ke Macau,” kata Ririn.

Di Macau, Ririn dengan patuh mengirim balik paspornya ke agen untuk melanjutkan proses visa kerjanya. Namun setelah luntang-lantung menunggu 1 bulan 20 hari, Ririn kelabakan menyadari Maam telah memblokir nomor handphonenya dan tak bisa lagi dihubungi.

“Majikan baruku telepon untuk tanya, bagaimana visa kamu sudah turun belum, aku hubungi Maam (staf agen) itu, tapi nomorku malah diblokir,” kata Ririn, lagi.

Teman sesama PMI di Macau akhirnya membantu Ririn melapor ke KJRI Macau. Dari sana, staf KJRI Macau mendampingi Ririn yang berstatus overstay melapor ke Imigrasi. Setelah mendengar kisah Ririn, Imigrasi meminta PMI tersebut melapor kehilangan paspor ke polisi dan dibuatkan SPLP sebagai pengganti paspor di KJRI. Ini artinya, Ririn akan segera dideportasi dan harus mengulang proses lagi di PT.

“Yang bikin aku bingung, pas ngelapor ke KJRI, kok ternyata agenku itu katanya nggak resmi (tidak punya ijin akreditasi di KJRI)? Kenapa dulu bisa proses aku?,” kata Ririn, sambil terus menghapus air matanya yang berjatuhan.*

Artikel diterbitkan di SUARA edisi Maret Main 2019, terbit 8 Maret 2019

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments