Waspadalah setelah ditinggalkan Ramadhan

0
94

Ramadhan telah meninggalkan kita dan kita juga meninggalkannya. Ramadhan telah meninggalkan sejuta kenangan dan memori indah, berkah, rahmah, maghfirah,  taqwa, hidayah, kedisiplinan, pelatihan, pendidikan, muhasabah dan lain sebagainya.

 

Selama sebulan lamanya kita dapat merasakan kenikmatan dan keindahan Ramadhan dengan lantunan zikir dan do’a, solat dan puasa, juga antara ketenangan jiwa dan ketenteraman minda.

 

Ramadhan telah meninggalkan SMS berharga untuk orang-orang yang berpuasa. Pesanan mahal itu hanya diberikan kepada kekasih Allah yang berupa “Waspadalah!” setelah ditinggalkan Ramadhan.

 

Saat hari lebaran tiba, para malaikat turun dari langit, bergerombolan dan sendiri-sendiri, malaikat-malaikat rahmat turun dengan pakaian yang indah dan gagah. Mereka turun pada hari itu dan bersama mereka lembaran-lembaran catatan. Mereka berdiri di jalan-jalan dan di segala penjuru, mencatat orang-orang yang pergi ke tempat salat. Mengirimkan hadiah penghargaan simbolik atas instruksi Allah untuk dianugerahkan kepada hamba-hamba-Nya yang taat dalam bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan.

 

Siapa pun yang menghabiskan Ramadhan dengan puasa, shalat pada waktu malamnya, berzikir, membaca Al-Qur’an, beribadah dengan penuh kekhusyu’an, maka Allah akan menerimanya pada hari raya dan memakaikannya dengan kebaruan tobat bersama baju barunya. Allah memasukkannya ke dalam maghfirah dan syurga-Nya. Akan tetapi sebaliknya orang-orang yang menyia-nyiakan Ramadhan, tetap bermaksiat, menantang kehormatan bulan suci itu, melampaui batas dan melecehkan kehormatan Allah, sungguh ia akan beroleh penyesalan, kerugian dan kegagalan.

 

Sesungguhnya Hari Raya itu bukanlah milik orang orang yang memakai baju baru, yang membangga-banggakan kekayaan yang dimilikinya. Sesungguhnya Hari Raya hanyalah milik orang yang takut akan hari kiamat dan azab Allah serta bertaqwa kepada-Nya.

 

Hari Raya bukanlah hari yang dirayakan dengan musik dan lagu-lagu setani, bukan pula pesta pora yang penuh dengan keseronokan tanpa arti. Sesungguhnya Hari Raya adalah hari bersyukur kepada Allah, dengan mengakui akan segala karunia-Nya, dan parade kaum Muslimin untuk meninggikan syi’ar agama-Nya.

 

Pada hari Raya, kita diwajibkan membayar zakat fitrah untuk membantu orang miskin. Kita tidak boleh memakai baju baru yang mahal, mengendarai kendaraan yang mewah, tinggal di rumah yang megah, sedangkan orang-orang miskin mati kelaparan, kehausan dan kedinginan.

 

Idul Fitri berarti kembali kepada Allah. Barangsiapa yang tidak kembali kepada Allah, maka tidak ada idul fitri baginya.

 

 

Penyesalan dan kerugian akan menimpa siapa saja yang hanya mengenal Tuhannya hanya pada bulan Ramadhan. Merugilah orang yang pada saat Ramadhan tiba ia solat dan berpuasa, berzikir dan membaca Al-Qur’an, meninggalkan maksiat dan melakukan ibadat, lalu ketika hari raya datang, ia kembali kepada keadaan semula seperti sebelum Ramadhan, jauh dari Tuhannya dan menghabiskan umurnya dalam kesia-siaan. Ia kembali menjadi pemberontak kepada Penciptanya, ingkar akan janji-janjinya, meninggalkan solat fardu dan sunnahnya.

 

Setelah ditinggalkan Ramadhan, sucikanlah dirimu dari iri dan dengki. Buang jauh-jauh rasa kebencian dan permusuhan. Hindari buruk sangka. Jangan banyak bergaul dengan orang pendendam. Janganlah anda lukai seseorang atau kelompok. Luruskan lidahmu. Baikkan bicaramu. Segarkan kata-katamu.

 

Selamat tinggal Ramadhan. Engkau telah mendidik dan melatih kami. Semoga Allah mempertemukan kita kembali di Ramadhan-Ramadhan mendatang.

Artikel dimuat di SUARA edisi Juni Main, terbit 6 Juni 2019

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments