Wawancara dengan Sutradara Still Human, Oliver Siu Kuen Chan: Ingin publik HK mengerti pekerja migran, bukan hanya kasihan

0
672
Sutradara film Still Human, Oliver Siu Kuen Chan membahas tentang pekerja migran di HK dengan SUARA/Foto:filmwow.com

FILM Still Human yang berkisah tentang pergulatan hidup seorang duda lumpuh di Hong Kong yang didampingi seorang pekerja migran asal Filipina, mungkin telah sering kita tonton dan dengar. Namun apakah kita pernah menengok sosok sutradara di balik film yang sukses menangguk 3 penghargaan di Hong Kong Film Awards ke-38 itu?

Adalah Oliver Siu Kuen Chan, penulis sekaligus sutradara Still Human. Meski masih berusia 33 tahun, namun Chan telah memenangkan Hong Kong Award dan Asia Film Awards untuk Sutradara Pendatang Baru Terbaik lewat film tersebut. Apa sih, sebenarnya yang membuat Chan terinspirasi menulis dan mensutradarai Still Human?

“Saya terinspirasi dari dua orang yang tidak saya kenal di jalan. Mereka adalah seorang lelaki Hong Kong yang tengah duduk di kursi roda dan seorang perempuan warga Philiphina yang ikut mengendarai dan berdiri di belakang. Mereka berdua terlihat tersenyum dan saya merasa penasaran dengan hubungan mereka. Inilah yang mendasari terciptanya film tersebut,” Chan menjawab pertanyaan SUARA lewat facebook messenger. Baru saja melahirkan anak pertamanya, Chan masih dalam masa cuti melahirkan sehingga wawancara kami pun dilaksanakan lewat media sosial.

Pada 2018, Chan menulis dan menyutradai film Still Human, yang menceritakan tentang seorang duda lumpuh yang mempekerjakan pembantu rumah tangga asal Filipina. Duda lumpuh bernama Cheong Wing Leung ini diperankan oleh aktor Hong Kong ternama, Anthony Wang, yang sukses menghadirkan sosok pria paruh baya yang kehilangan harapan hidup setelah lumpuh dari dada ke bawah akibat kecelakaan kerja, diceraikan istri serta ditinggal pergi anak laki-laki semata wayangnya.

Secercah harapan hidup bagi Cheong justru hadir bersamaan dengan datangnya pekerja migran asal Filipina, Evelyn Santos, mantan perawat yang bertugas menjaga dan membantu pria paruh baya tersebut menjalani hari-harinya di flat perumahaan pemerintah.

Dari sanalah alur cerita mengalir, mengisahkan bagaimana interaksi dua manusia secara tulus terjadi sekalipun Cheong tak bisa berbahasa Inggris sementara Evelyn sama sekali tak mengerti Kantonis. Pertama-tama Evelyn mendapati kesulitan karena tak biasa dengan ukuran kamar tidurnya yang sangat sempit, terkesiap saat Cheong mengritik masakannya yang dianggap terlalu pedas serta kesulitan bahasa yang kerap membuat keduanya salah paham. Namun Cheong yang temperamental perlahan luluh setelah melihat bagaimana Evelyn tetap tulus menjaga dan merawatnya. Cheong bahkan akhirnya membelikan sebuah kamera untuk Evelyn saat tahu pekerja migrannya itu menyukai fotografi.

Interaksi tulus keduanya inilah yang menggambarkan istilah “Still Human” alias “Masih Manusia”, yang menjadi judul film tersebut. Chan mengatakan kepada SUARA bahwa judul film itu  mempunyai makna bahwa tidak peduli dalam situasi apapun, kita adalah manusia yang harus diperlakukan sama dan harus dihormati.

Lalu, apakah ini berarti proses membuat film Still Human itu mulus-mulus saja tanpa kesulitan apapun? Chan secara jujur mengakui dirinya sebagai sutradara pendatang baru serta orang Hong Kong, menemui beberapa tantangan.

” Kesulitan (membuat film Still Human) adalah bagaimana membuat publik mengerti dengan (apa yang dihadapi) karakter dan tidak hanya merasa kasihan. Dan juga, terasa sulit ketika ada bagian yang harus menghadirkan percakapan dalam Bahasa Tagalog (bahasa nasional Filipina-Red)”, jawabnya.

Sebelum menulis dan mensutradarainya, Chan dan para kru film lebih banyak menghabiskan waktu melakukan penelitian daripada syuting. “Saya melakukan pembicaraan dengan para Migrant Worker yang saya temui di jalanan. Terutama mereka yang mempunyai hobi photographer dan juga Migrant Worker yang bekerja sebagai perawat disable. Mereka membagikan banyak kisah mereka kepada saya,” kata Chan.

Bagaimanapun, Chan akhirnya berhasil mengatasi semua tantangan menulis dan mensutradarai film Still Human. Buktinya, film ini langsung nangkring menjadi best selling di Hong Kong saat baru saja diluncurkan pada minggu pertama. Secara total, film sederhana yang didapatkan mencapai US$940 ribu. Film ini juga  mendapatkan 13th Asian Film Award  yang membawa Oliver menjadi salah satu Sutradara Pendatang Baru terbaik.

Namun bagi sutradara yang baru saja menjadi ibu muda ini, keberhasilan film Still Human terletak kepada pesan yang ingin disampaikannya. “Pesan (yang ingin) saya (sampaikan) adalah, tidak peduli apapun yang setiap orang alami, dia akan selalu mendapatkan sesuatu hal yang indah dalam hidupnya. Seperti impian, cinta, keluarga,” jawab Chan.

Akhir kata, Chan menyampaikan terima kasihnya kepada semua pekerja migran yang datang bekerja di Hong Kong. Menulis serta mensutradarai Film Still Human membuatnya mengerti bagaimana pengorbanan para pekerja migran untuk bisa bekerja di keluarga-keluarga Hong Kong, termasuk sampai harus meninggalkan keluarga sendiri. “Pengorbanan kalian sangat penting dan patut untuk diapresiasi. Saya berharap suatu saat nanti, tidak perduli besar atau kecil, impian kalian akan menjadi nyata.”

Artikel dimuat di SUARA cetak edisi Januari Main 2020, terbit 10 Januari 2020

 

Facebook Comments