Wayangan satu suro sambut tahun baru Islam

0
902
Arak-arakan wayangan di Wonosobo untuk menyambut satu suro/foto: Zarajevo Hamededobbo

INDONESIA tak pernah henti membuat kita terkagum akan kekayaan budaya yang penuh makna. Salah satunya adalah tradisi wayangan satu suro yang biasa diselenggarakan setiap 1 Muharam 1441 Hijriah untuk menyambut tahun baru islam yang jatuh pada 1 September 2019.

Sehari sebelum tahun baru Islam, masyarakat Desa Wonokerto, Leksono, Wonosobo, Jawa Tengah mengadakan ruwatan bersama dengan tradisi kejawen yang kental. Acara ini diselenggarakan masyarakat setempat dengan mengadakan arak-arakan tarian tradisional, tumpeng, dan juga wayangan dengan para penari yang mengenakan berbagai pakaian wayang tradisional Jawa. Biaya penyelenggaraan satu suro ini sendiri didapatkan dari hasil paguyuban masyarakat setempat.

“Kata Suro merupakan sebutan bagi Bulan Muharam dalam masyarakat Jawa. Kata tersebut berasal dari kata ‘asyura’ dalam bahasa Arab. Biasanya ruwatan pada mlm satu suro tujuannya untuk membuang sial dan meminta perlindungan pada Sang Khalik supaya terhindar dari segala macam bencana,” kata Pak Anto, salah satu sesepuh Desa Wonokerto yang menjadi panitia penyelenggara satu suroan ini kepada SUARA.

Pak Anto menjelaskan lebih lanjut makna disajikannya tumpengan hari itu. Tumpengan dibuat dari berbagai hasil pertanian masyarakat untk menunjukkan rasa syukur atas rejeki yang diberikan Allah. Usai pembacaan doa, tumpeng dan makanan lainnya pun dibagi-bagikan untuk dimakan bersama sebagai wujud guyup rukun masyarakat serta ngarep berkah.

Malam satu suro sendiri bagi masyarakat Jawa kerap diindetikan sebagai malam mistis yang angker. Mengapa begitu? Pada dasarnya Suro merupakan bulan pertama yaitu Muharram dalam kalender Islam Kejawen yang merupakan salah satu dari antara empat bulan yang dinamakan bulan suci dari 12 bulan yang ada. Setelah bulan Muharram, tiga bulan haram lainnya yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil dan Syaban (HR Bukhari).

Bulan-bulan ini dinamakan bulan suci karena pada bulan ini umat Islam diharamkan melakukan pembunuhan atau peperangan. Pada bulan ini pula, larangan berbuat haram lebih ditekankan karena bulan-bulan ini termasuk bulan yang mulia. Sedangkan amalan ketaatan juga akan berbalas pahala yang besar.

Salah satu amalan yang utama di Bulan Muharam adalah puasa. Umat Islam dianjurkan memperbanyak puasa di bulan Muharam. Salah satu puasa sunah yang dapat dilakukan adalah Tasu’a pada 9 Muharam dan Asyura pada 10 Muharam.

“Seutama-utama salat setelah salat wajib adalah salat pada sepertiga akhir malam, dan seutama-utama puasa setelah puasa Ramadan adalah puasa di bulan Muharam,” kata Pak Anto

Sementara amalan lain yang dapat dilakukan saat memasuki tahun baru di bulan Muharam di antaranya adalah bersyukur dngan cara ruwatan atas nikmat yang diberikan Allah, muhasabah atau introspeksi diri, dan mengenang perjalanan hijrah Nabi Muhammad SAW.

Artikel dimuat di SUARA edisi September Main 2019, terbit 6 September 2019

Facebook Comments