Chinese University: PRT migran di Hong Kong bekerja lebih dari 13 jam per hari

0
2596
Pekerja Migran Indonesia (PMI) menikmati hari libur di Victoria Park, Minggu (3/2/2019), menjelang liburan Tahun Baru Cina 2019. Foto: Ario Adityo
Contact US +852859865
Contact US +852859865

Survey terkini menemukan 70,6 persen Pekerja Rumah Tangga (PRT) migran bekerja melebihi 13 jam per hari. Data ini diperoleh dalam survey yang dilakukan oleh Chinese Univeristy Hong Kong.

Dalam siaran media Chinese University yang diterima oleh SUARA, Rabu (13/2/2019), selain jam kerja yang panjang, dalam survey itu juga ditemukan 34,6 persen PRT migran mengatakan mereka masih harus bekerja pada hari libur mereka.

Asisten Profesor Bi Huayi dari Departement of Social Work kampus tersebut mengatakan upah PRT migran sebesar HK$4520 dianggap tidak proporsional dengan jam kerja. Jika jam kerjanya adalah 13 jam perhari maka nilai yang pantas adalah HK$10 per jam, dua kali dari nilai upah minimum di Hong Kong.

Survey tersebut juga mengatakan pemerintah Hong Kong mengalami kesulitan untuk memantau terkait jam kerja PRT asing dan kondisi tinggal yang pantas. Pemerintah Hong Kong direkomendasikan untuk memperjelas panduan bagi majikan dalam kontrak kerja, selain melakukan pendidikan dalam rangka menjelaskan hak-hak para PRT dan bagaimana caranya meminta bantuan.

Bi Huayi menambahkan bahwa departemen terkait di pemerintahan Hong Kong hanya fokus pada soal perburuhan saja dan kurang memberi perhatian pada persoalan psikologis para PRT migran.

Survey ini dilakukan kepada PRT migran asal Indonesia dan Filipina pada periode Mei-September 2017.

Facebook Comments