Dampak Covid, permintaan bantuan melonjak

0
154
Pekerja migran di jembatan Fa Yuen Street, Mong Kok, Hong Kong.(Foto: LaborGovHK)
Contact US +852859865
Contact US +852859865

LONJAKAN kasus penularan Covid di Hong Kong telah menimbulkan kepanikan dan kebingungan di kalangan pekerja migran, terlebih lagi pada mereka yang terdampak atau bahkan terinfeksi virus tersebut. Malangnya, sebagian pekerja migran yang terinfeksi Covid itu bahkan dipecat secara ilegal oleh majikan mereka. Namun, lantaran tempat-tempat karantina di Hong Kong tidak mencukupi, pekerja migran itu menjadi telantar dan tidak memiliki tempat untuk berlindung dari cuaca dingin dalam kondisi positif Covid.

Dampak lonjakan kasus Covid itu juga tercermin dari jumlah pengaduan dan permintaan bantuan di lembaga swadaya masyarakat yang selama ini memberi pelayanan kepada pekerja migran. Dalam keterangan tertulis yang diterima SUARA, Selasa (8/3/2022), Christian Action menyatakan bahwa sejak pertengahan Februari 2022 telah menerima sekitar 100 permintaan bantuan dari pekerja migran.

“Kami menerima sekitar 100 kasus sejak pertengahan Februari 2022. Dari kasus-kasus yang kami terima tersebut, kami masih terus memberikan bantuan dan dukungan sampai saat ini sekitar 30 kasus,” ungkap Direktur Eksekutif Christian Action Cheung-Ang Siew Mei, seraya menjelaskan bahwa bantuan dan dukungan itu meliputi memberikan rujukan tempat menginap, bantuan obat dan alat tes Covid.

“Setelah mereka sembuh, kami membantu mereka untuk kembali ke tanah air atau untuk mendapatkan shelter sebagai tempat menginap,” imbuhnya.

Cheung-Ang Siew Mei menambahkan, sekitar 70 orang dari mereka dalam keadaan panik dan meminta alat tes Covid rapid antigen kit, obat-obatan, pakaian dan kebutuhan pokok harian lainnya. Dia menjelaskan kasus tentang pekerja migran yang diberhentikan kerja oleh majikan atau kehilangan pekerjaannya, berkaitan dengan infeksi Covid.

“Sejauh ini kami menerima satu kasus pemecatan secara tidak langsung karena Covid. Majikan memecat pekerja rumah tangganya setelah hasil tes Covid berubah dari positif menjadi negatif. Majikan (yang merupakan pasangan lanjut usia) memecat pekerja tersebut, karena khawatir si pekerja masih tetap dapat menularkan virus corona kepada mereka setelah masa pemulihan,” ungkapnya.

“Kami juga ingin menyampaikan kasus lainnya. Yakni, seorang pekerja migran yang telantar di jalan selama lebih dari 8 jam. Dia adalah seorang pekerja migran Filipina yang terinfeksi Covid. Karena berisiko tinggi menularkan ke bayi majikan yang baru lahir, maka majikan meminta dia (pekerja migran itu) untuk meninggalkan rumah majikan, dan dia kemudian telantar di Ap Lei Chau Park selama 8 jam tanpa bantuan apa pun. Akhirnya, kami menjemput dia dan merujuknya ke Mercy Hong Kong untuk mendapatkan tempat akomodasi,” imbuh Cheung-Ang Siew Mei.

Dijelaskan bahwa Christian Action memiliki dua pusat pelayanan bagi migran pekerja rumah tangga. Sebagian besar yang meminta bantuan ke Christian Action adalah migran Indonesia. Shelter-shelter Christian Action memiliki total 16 ranjang. Dan, saat ini ada 12 pekerja migran Indonesia yang tinggal di shelter-shelter Christian Action.

“Di shelter-shelter ini, kami masih terus memberikan bantuan kepada 9 pekerja migran yang terinfeksi Covid, dan 3 dari mereka telah sembuh dari Covid. Sebagian besar, 99 persen, dari mereka adalah migran Indonesia,” demikian Christian Action.

Selama gelombang kelima pandemi Covid, Christian Action juga menyediakan bantuan perlengkapan medis, seperti vitamin, alat tes rapid antigen, masker, serta juga makanan dan selimut bagi pekerja migran.

Harapan kepada Pemerintah Hong Kong

Sebagian pekerja migran telah secara ilegal ditolak atau dipecat oleh majikan mereka setelah pekerja terinfeksi Covid. Lantaran tempat-tempat karantina tidak mencukupi, sebagian besar dari mereka harus tinggal di jalan untuk menunggu bantuan.

Sebagai lembaga swadaya masyarakat, kata Cheung-Ang Siew Mei, “Christian Action memiliki sumber daya yang terbatas. Oleh karena itu, kami harus merujuk sebagian kasus pekerja rumah tangga itu ke organisasi-organisasi amal yang lain.”

“Kami mendesak pemerintah untuk menambah dukungan bagi pekerja rumah tangga asing di Hong Kong, dalam hal menyediakan tempat karantina yang layak bagi pekerja rumah tangga yang terinfeksi, agar mereka tidak telantar di jalan dan menyebarkan virus ke masyarakat,” imbau Direktur Eksekutif Christian Action tersebut.(*)

Facebook Comments