Gadis itu

0
214
Contact US +852859865
Contact US +852859865

Ringkasan cerita lalu:

Setelah lulus Madrasah Ibtidaiyah, Husni diantar kakeknya ke sebuah pesantren. Semenjak orang tua Husni bercerai; Burhan, sang ayah pergi entah kemana, sedangkan Halimah, ibunya sedang mengadu nasib di Taiwan, belaian rasa kasih sayang itu kini ia dapat dari Kakek. Hal ini membuat Rizal, anak bungsu kakek kadang jadi cemburu atas perhatian yang berlebih pada Burhan, walau tetap sayang pada keponakannya itu.

—-

Sedan tua itu bergerak melambat saat memasuki jalan sempit yang menandakan bahwa tempat yang dituju sudah dekat. Jika dilihat dari kejauhan, mobil buatan jepang tahun 70 an itu seolah menelusuri pematang sawah yang menghampar luas hingga kaki gunung Ciremai. Hawa sejuk mulai terasa semilir menerpa wajah-wajah yang diam.

Nafas Kakek menghirup panjang menikmati udara yang cukup bersih membuat Rizal mengikuti apa yang dilakukan Kakek. Sedangkan di jok belakang, perasaan Husni kembali tidak karuan. Ia tak tahu harus bagaimana kecuali mempersiapkan mental terhadap hal-hal yang bisa ia duga.

Mata Husni mulai mengedar pandang saat mobil itu memasuki pesantren. Lagu-lagu khas pesantren yang dinyanyikan dengan serempak dan semangat keluar dari dalam kelas merasuki gendang telinga Husni. Kakek seolah terhanyut dan mengikuti senandung yang berbahasa itu.

“Abah ternyata hafal juga…” Seru Rizal.

“Oh…, itu kalau di pesantren merupakan pelajaran wajib…” Ujar Kakek.

“Pelajaran? Emang di pesantren ada pelajaran paduan suara…?” tanya Rizal agak musykil.

He he he…, itu bukan paduan suara…, itu pelajaran nahwu…, kamu tau apa itu nahwu…?”

Rizal hanya geleng kepala.

“Itu pelajaran tata bahasa arab namanya pelajaran Alfiah…” lanjut Kakek.

“Aneh…, namanya Aneh kayak anak perempuan, dan aneh…, pelajaran tata bahasa kok nyanyi…”

“Dulu para pakar jaman kejayaan Islam dalam mengajarkan ilmu dasar pada murid sering kali memakai nadzam atau syair-syair yang bisa disenandungkan biar mudah dihafal…” jelas Kakek.

“O…” Rizal mulai sedikit memahami lalu wajahnya menoleh kebelakang sekejap, “… tuh Tong…, asyik kan…., pelajarannya pakai nyanyi”

“Iya… tahu…” Husni sedikit sebal.

Eh dibilangin kok sewot”

“Sudah…, kalian ini mau pisahan kok masih saja bertengkar…, kita berhenti di depan, Zal….”

Mereka turun dari mobil menuju ke kediaman pengasuh pesantren. Husni dan Rizal berjalan di belakang Kakek. Mata mereka seolah ingin memasukkan obyek yang hendak ia singgahkan ke memori otak mereka. Tampak di situ ada sebuah papan yang artistik bertuliskan, Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, lengkap dengan keterangan badan hukum dan alamatnya.

Mereka berdua seolah terkesima dengan area pesantren tersebut. Pesantren yang memadukan antara klasik dan modernitas yang sangat dinamis. Kesantunan para santri yang selalu menundukkan badan setiap kali berpapasan dengan Kakek seolah tamu terhormat, membuat Rizal dan Husni yang di belakangnya seperti sedang mengawal orang penting di hadapan mereka.

Dan yang membuat unik di mata Rizal dan Husni saat berpapasan dengan lalu lalang santri, mayoritas mereka membawa buku yang diapit dipinggang. Bahkan yang membuat Rizal terbelalak, ada santri perempuan yang membawa gitar terbungkus rapi di punggungnya sedang di tangan tetap membawa buku yang didekap di dada.

Kereen pisan…, di sini boleh main musik, Tong…!” Bisik Rizal pada Husni dengan penuh keheranan.

Husni hanya membisu, sebab alam pikirannya sedang melukis beberapa keunikan yang akan menjadi pengalaman baru dalam kehidupannya. Sementara Kakek sedikt agak sewot melihat santri tersebut membawa barang yang konon diharamkan waktu Kakek mondok. Tapi Kakek segera menyadari bahwa dunia akhir zaman memang sudah berubah. Kakek tetap optimis dan penuh harap kepada generasi muda khususnya teruntuk Husni bahwa hanya sikap dan etika ketakwaan kepada Tuhan yang tak akan berubah.

Sesampai di kediaman pengasuh pesantren, Kakek disambut seorang Kiai dengan hangat seperti menjumpai orang tua yang sudah sekian lama tidak pernah jumpa, mereka berangkulan dengan akrab dan Kiai tersebut segera mempersilahkan masuk ke dalam rumah. Benar kata Kakek, Kiai Mahmud terlihat masih muda sepantar usia dengan ibunya Husni.

Kediaman Kiai Mahmud di tengah komplek asrama puteri membuat Husni agak kikuk dan segera mengikuti Kakek masuk ke dalam rumah, sementara mata Rizal mulai jelalatan melirik kegiatan para santri perempuan di komplek tersebut membuat Husni sedikit jengah. Langsung saja ia tarik tangan Rizal agar segera masuk ke dalam ruang tamu membuat Rizal sewot dan terpaksa mengikuti langkah Husni.

Kakek dan Kiai Mahmud berbincang cukup bergaerah seolah mereka menemukan dunia tersendiri yang membahagiakan. Husni mencoba memahami apa yang mereka obrolkan selain kata-kata yang penuh kesopanan tentang permohonan Kakek kepada Kiai agar diperkenankan menitipkan Husni di pesantren ini.

Mata Rizal tetap saja ingin menyerap seluruh yang sedang ia lihat di luar rumah kiai tersebut. Di sela-sela penglihatannya ada seorang gadis kecil sebaya dengan Husni melewati samping rumah Kiai. Rizal segera menyenggol pinggang Husni yang kini duduk bersebelahan.

“Calon cantik, Tong…” Rizal berbisik di samping telinga Husni agar tidak menarik perhatian Kakek dan Kiai.

“Udah cantik, kok dibilang calon…” Husni kali ini menimpali kata-kata Rizal.

“Iya…, ntar kalau sudah gede beneran, pasti lebih cantik lagi…” tukas Rizal.

Baru saja Rizal dan Husni terlibat obrolan kecil. Mendadak Kiai memanggil gadis yang sedang berjalan di samping rumah tersbut.

“Riana…., ke sini Nak…!” Seru Kiai Mahmud.

Mendengar nama gadis itu dipanggil, Rizal kembali berbisik halus pada Husni.

“Namanya Riana, Tong…” Bisik Rizal memperjelas.

“Iya…, udah tahu…”

Namun mata Husni sepertinya tersugesti oleh omongan Rizal yang sudah dewasa, ia seolah ingin memahami sebuah rasa bahwa seperti inilah yang disebut dengan gadis cantik. Mata Husni tak lepas pada gerak-gerik gadis yang mendekat ke Kiai itu. Gadis itu mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan Kiai tentang suguhan yang harus segera dikeluarkan.

Husni tetap dalam keterdiamannya dalam menerka apa yang hendak dilakukannya ketika ia harus hidup di dalam pesantren. Berkenalan dengan kawan baru, guru baru dan semua ada di pesantren tersebut. Dan…, bisa jadi ia akan lebih mengenal gadis itu.

Waktu pasti berjalan yang tidak bisa dikembalikan dan itu harus dilalui Husni. Masa yang sudah lewat ia ukir dalam ingatan yang menancap dalam hati bahwa itulah jalan hidupnya, sebab ia tak bisa mengelak kenyataan bahwa bapaknya kini entah kemana dan ibunya kini berada dalam negeri dongeng yang tidak bisa ia bayangkan sedang apakah kini perempuan yang telah melahirkannya itu.

Dan hari ini ia sadar bahwa dirinya hendak memulai menuliskan kisah perjalanan hidupnya dengan tinta takdir dengan kepolosan seorang, berkembang bocah bersama waktu yang mengalir

 

(Bersambung)

 

Facebook Comments