Sidang isbat Kemenag: 1 Syawal jatuh pada Senin 2 Mei 2022

0
252
Posisi hilal terlihat di sebagian besar titik rukyat di seluruh Indonesia.(Foto: Kemenag RI)
Contact US +852859865
Contact US +852859865

HASIL pengamatan hilal di 99 titik rukyat di 34 provinsi Indonesia dalam sidang isbat Kementerian Agama RI, Minggu (1/5/2022), menunjukkan bahwa tinggi hilal di seluruh Indonesia antara 3,79 sampai dengan 5,56 derajat dan elongasi antara 5,2 sampai dengan 7,2 derajat.

Dengan terlihatnya hilal di sebagian besar titik rukyat di Indonesia pada Minggu petang, maka penentuan 1 Syawal 1443 H ditetapkan jatuh pada Senin 2 Mei 2022.

Dalam “Seminar Posisi Hilal Penentu 1 Syawal 1443 H” yang diadakan Bimas Islam Kementerian Agama, anggota Tim Unifikasi Kalender Hijriyah, H. Cecep Nurwendaya, MSi menyatakan hilal dapat terlihat di sebagian besar 99 titik rukyat (tempat pengamatan) di 34 provinsi Indonesia. Salah satunya, posisi hilal berada di ketinggian 4,74 derajat dan elongasi 6,79 derajat di titik pengamatan POB Cibeas Pelabuhan Ratu, Jawa Barat.

Tidak jauh berbeda dengan gelaran sidang isbat dalam penentuan awal Ramadan beberapa waktu lalu, sidang isbat untuk menentukan 1 Syawal 1443 H juga dilaksanakan melalui tiga tahapan.

Berikut rincian tahapan dan waktu pelaksanaannya, seperti dikutip dari akun resmi Instagram Bimas Islam, Minggu (1/5/2022):

1. Seminar posisi hilal melalui live streaming channel YouTube Bimas Islam pukul 17.00 WIB.

2. Sidang isbat yang didahului salat Maghrib digelar secara tertutup pukul 18.00 WIB.

3. Telekonferensi pers penetapan 1 Syawal 1443 H melalui siaran TVRI atau live streaming media sosial Kemenag pukul 19.15 WIB.

Metode penentuan awal bulan tersebut disandarkan dari Fatwa MUI Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penetapan Awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah. Pemerintah juga mengadopsi kriteria baru dari Menteri Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) dalam penentuan posisi hilalnya.

Pada sidang isbat Lebaran 2022 ini, Kemenag mengundang organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam dan duta besar negara sahabat. Kemenag juga mengundang Komisi VIII DPR RI, akademisi dari sejumlah universitas, pimpinan pondok pesantren, serta para pakar dan ahli falak.(Kemenag/dtk/b)

Facebook Comments