Take (Me) Away -1-

0
747
Contact US +852859865
Contact US +852859865

Balada anak seorang buruh migran yang meniti masa depan dengan peluh perjuangan ibunya. Mereka terpisah namun hati mereka tetap menyatu dalam ikatan kasih dan cinta.

 

1

 

Kali ini Husni tak perlu seutas nyali untuk menghadapi Rizal. Apalagi sekarang ada kakek bersama di antara mereka berdua. Situasi berpihak pada anak berusia dua belas tahun itu, hingga jiwa muda Rizal harus terdepak dari kondisi yang tidak menguntungkan. Dan Husni kini terhindar dari olok-olok paman yang masih usia kuliah tersebut.

“Ada yang gundah, nih ye…” seloroh Husni seolah punya kesempatan memperolok balik Rizal.

“Sialan, Kamu!” Runtuk Rizal dengan suara tersekat sembari menengok spion tengah dan matanya  mendelik.

Soalnya piihan lagu dari Head set mobil itu berada dalam penguasaan Kakek. Itulah yang membuat kuping Rizal meronta-ronta.

Sedan tua yang ditumpangi mereka bertiga meluncur menuju sebuah pesantren yang berada di perbatasan Cirebon dan Kuningan.

Hadeuh…, masa’ hentakan laju mobil yang cukup bergaerah ini harus diiringi musik gambus era jaman old, sih…?” Keluh Rizal dalam hati yang gundah. Tapi Rizal tak mau ada keributan dengan orang tua yang duduk di sebelahnya hanya masalah selera musik walau gejolak jiwanya tak tahan.

Dengan perasaan gerah, Rizal lebih mengarahkan konsentrasinya pada pacu kemudi dan laju kendaraan, agar panasnya neraka musik gambus tidak kelamaan menjilat-jilat telinganya. Sedan tua kesayangan Kakek itu sebenarnya sudah lelah menelusuri jalan tanjakan maupun turunan yang lumayan berkelok. Namun Rizal menancapkan gas secara lihai membuat sedan tua tersebut terasa masih sedikit lebih bertenaga menembus pagi yang cerah.

Ketukan irama musik gambus bikin mata Kakek terpejam. Rizal melirik wajah orang tua itu dengan sedikit selidik. Sudah pulaskah sang Kakek? Hati Rizal sedikit longgar.

“Kesempatan nih, ganti lagu ah!” Rizal segera menggantikan musik itu dengan lagu-lagu jaman now yang sedang digandrungi kaum muda.

Tiba-tiba…

“Rizal! Kenapa kamu ganti? Heh!” Suara berat Kakek menghardik datar dengan mata tetap terpejam. Sebab di luar sepengetahuan Rizal, ujung jempol kaki lelaki tua itu bergerak menghantuk-hantuk kecil, sebagai bukti kalau sang Kakek sangat menikmati irama itu hingga terpejam-pejam.

Nah loh…?!” Terdengar suara Husni yang duduk di jok belakang. Seolah jadi moment yang tepat untuk memperolok lagi.

Rizal dengan segera mengembalikan lagu gambus kesukaan Kakek tadi. Wajahnya jadi kecut. Lewat spion tengah tampak mata Rizal kembali mendelik marah ke Husni. Husni malah meledek dengan menjulurkan lidahnya ke arah Rizal yang sedang mengemudi itu. Dari spion, terlihat pemuda itu semakin tampak kesal diledek bocah baru lulus Madrasah Ibtidaiyah alias Sekolah Dasar.

***

Husni merupakan cucu sang Kakek dari anak pertama yang bernama Halimah yang bersuamikan Burhan. Sedangkan Rizal harus menyadari sebagai anak bungsu kini kasih sayang orang tua kini sudah pindah ke cucu. Bahkan Husni menjadi cucu kebanggaan Kakek karena berbagai kelebihan yang dimiliki.

Di sisi lain lelaki tua tersebut kini lebih bangga dipanggil ‘Kakek’ dari pada ‘Abah’ bahkan oleh Rizal sekalipun. Walaupun sesekali Rizal tetap memanggil orang tuanya dengan ‘Abah’.

Husni dari kecil memang diasuh Kakek. Tepatnya semenjak kelas dua Madrasah Ibtidaiyah. Awalnya bukan Kakek yang meminta agar Husni diasuhnya namun Burhan lah, sang menantu, yang mengantarkan anak itu ke pangkuan Kakek. Karena Halimah menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) di luar negeri.

Sejak itulah Burhan tak lagi menampakkan batang hidungnya dan Kakek tak mau perduli dengan itu. Ia sudah terlanjur bahagia dengan sang cucu. Ia rawat Husni dengan baik hingga bocah kecil itu masih bisa merasakan kasih saya orang tua.

Pun demikian hati kecil Husni sebenarnya menyimpan rindu dan dendam terhadap orang tua yang telah meninggalkannya. Seakan ia dicampakkan pada palung bumi yang tak bisa tergantikan oleh siapapun. Tak juga Kakek, Nenek, ataupun Paman Muda yang bernama Rizal itu.

Husni masih ingat, kapan dan berapa kali ia ditinggalkan oleh Halimah, ibunya.

Pertama kali Husni terlepas dari kehangatan sang ibu saat ia masih di bangku kelas dua Madrasah Ibtidaiyah itu, lalu ingatan Husni semakin terbangun ketika dua tahun sesudahnya Halimah pulang ke tanah air.  Namun hanya beberapa bulan saja sang Ibu bersama-sama di rumah Kakek membuat Husni seolah harus siap jika sang Ibu akan pergi lagi.

Dan benar, Halimah pergi lagi untuk kedua kalinya saat Husni menginjak kelas lima Madrasah Ibtidaiyah.

Sedangkan Burhan tetap tak menampakkan batang hidungnya. Dan itu acapkali rasa rindu berubah menjadi dendam.

Husni tak pernah merasakan perlindungan seorang bapak kecuali hanya secuil memori yang sangat menyakitkan. Husni tak pernah bisa ungkapkan. Hanya tangis rengekan seorang bocah yang belum punya rasa yang sempurna untuk menerjemahkan kehidupan kata-kata.

***

Di sini, di jok belakang sedan tua ini. Husni hanya menatap arakan awan yang melambungkan memori masa lalu yang masih dini untuk dirasakan. Ia pandangi pundak kakeknya yang selama ini jadi pendorong jiwanya untuk tetap mengalir bagaikan air sungai yang tenang. Tak terasa aliran itu sampai ke ujung muara.

Ketika sedan tua menanjak sedikit tajam suara knalpot menderu kencang. Bayangan Husni mendadak terperangkap pada apa terjadi di lepas muara. Suara deburan laut tiba-tiba merasuki jatung Husni. Ombak menggulung dari tengah lautan menuju pantai seakan melambai-lambai mendekat dan berubah menjadi gulungan raksasa yang hendak menerkam dirinya.

“Kakeeek…!” teriaknya sedikit tertahan setelah tersadar dari halusinasi.

“Tenang, Tong….!!!” Omel Rizal pada Husni sebab ia sedang konsentrasi mengendalikan kemudinya hingga lepas jalan tanjakan.

Husni tahu kalau itu hanyalah bayangan halusinasi yang menghantui batinnya meski tak tahu makna bayangan itu. Apakah masa depan sangat menakutkan? Husni kecil tak bisa membahasakannya. Ronanya menjadi tegang. Jantungnya dag-dig-dug tidak karuan. Ia tak tahu, apakah esok hari berpihak pada dirinya?

Rizal kembali melihat spion sambil tersenyum dan tergelitik untuk menggoda keponakannya tersebut.

“Kayaknya semakin dekat tujuan, wajahmu semakin tampak tegang, Tong…, hehehe…” goda Rizal.

Husni terkesiap, ia baru sadar diperhatikan pamannya. Walaupun Rizal tak tahu apa yang terjadi dalam gejolak batin Husni. Tahunya Rizal, orang yang mau mondok di pesantren pasti harus mempersiapkan mental. Dan ketegangan mental itu persis seperti tegangnya wajah Husni.

***

Sejenak mata Kakek ikut melihat Husni dari spion tersebut. Tampak jelas sisa semburat wajah kaku cucunya itu. Terbesit rasa kasihan yang mendalam pada bocah itu. Bocah yang terpisah dari kedua orang tuanya sekaligus bocah yang menjadi korban perceraian antara Halimah dan Burhan. Sehingga jiwa anak itu seolah harus berjuang sendirian untuk kehidupannya.

Kakek sangat memahami bahwa limpahan kasih sayang ibu dan bapak sejatinya tak bisa ditandingkan dengan curahan perhatian kakek maupun neneknya. Namun selama ini Kakek tetap berusaha bagaimana membimbing cucunya tersebut sekuat tenaga agar Husni tak kehilangan kehangatan sebuah keluarga.

Terbukti di tangan Kakek, Husni menjadi anak yang terarah dan terasah kepintarannya. Ia selalu berdoa agar cucunya kelak jadi orang yang berguna bagi sesama manusia. Bisa berbakti pada orang tua walaupun orang tuanya terutama pada ibunya. Ya! Halimah, anak pertama sang Kakek.

Membayangkan Halimah, penyesalan mendadak menjalar di sekujur tubuh Kakek. Lelaki tua itu tak menyangka jika perkawinannya dengan Burhan akan bubar secara dramatis.

Dulu ia memang sempat ragu dengan Burhan sebelum menikahi puterinya. Beberapa kali ia mempertanyakan kepada Halimah, apakah sudah mantap berjodoh dengan Burhan, karena Kakek menganggap bahwa laki-laki yang berasal dari kampung sebelah tersebut bukan seorang santri.

Bahkan dengar-dengar Burhan itu pimpinan orkes pantura yang sering diundang hajatan resepsi perkawinan ataupun sunatan. Dan itu jauh dari tipe menantu yang diharapkan Kakek.

Dalam hati Kakek pada waktu itu lebih condong kepada Alim anak Haji Uus, tetangganya, yang pernah mondok bersama Halimah di sebuah pesantren di Brebes. Hingga Kakek berharap jika suatu saat mereka berjodoh. Tapi Halimah tetap keukeuh supaya diijinkan kawin dengan Burhan dengan cara merajuk emaknya, istri Kakek.

“Abah…, Punteun…, apa nggak kasihan sama Halimah…, anak jaman sekarang kalau sudah cinta mati tak bisa diapa-apakan lagi…” Kata Emak pada waktu itu.

Seterusnya rayuan maut Emak yang dibumbui sedikit intimidasi “Bla-bla-bla…”. Hingga robohlah pertahanan Kakek. Namun Ia tetap mencoba suatu ketika mencari cara terbaik agar bisa melihat sisi lain dari Burhan.

Ketika pembicaraan cinta mati Halimah itu berlanjut, Kakek hanya minta agar Burhan datang menjelang maghrib. Burhan pun menyambut keinginan calon mertua tersebut dengan persiapan matang. Apalagi calon mertua adalah tokoh agama di kampung.

Sebagai orang yang sudah biasa menghadapi orang banyak, kepercayaan diri Burhan sudah terasah. Bak seorang santri ia berpenampilan rapi, memakai sarung dan peci. Sendiri. Ya! Datang sendiri. Di hadapan calon mertua, biar dinyatakan lulus menjadi pemuda pemberani.

Kakek hanya memperhatikan tutur-kata Burhan saat ia pancing percakapan tentang apapun terutama berkaitan agama dan mental sebagai kepala rumah tangga. Burhan sadar ini adalah sidang penilaian sebagai calon menantu.

Kakek hanya manggut-manggut dalam hati yang sebenarnya sedang gusar, sebab ini merupakan benteng terakhir alasan bagaimana menolak Burhan. Tapi sudahlah ini memang garis Tuhan yang membuat alur kehidupan tanpa bisa ditebak.

***

Ya! Di sini. Di Jok bagian belakang sedan tua ini. Tampak Husni semakin tegang dan membisu. Secara bersamaan Rizal dan Kakek melirik spion tengah untuk melihat bocah yang semakin beranjak besar. Tak terasa nyatanya.

Kini bocah itu harus kembali menjalani perpisahan yang ke sekian kalinya. Namun kali ini perpisahan yang bertabur harap bagi semua orang yang selama ini terkait dengan hati Husni. Perpisahan untuk mencari bekal kehidupan dunianya bahkan akheratnya di sebuah pesantren pilihan Kakek.

“Tenang Tong! Ntar sampai di pesantren, pasti kamu akan tambah teman, karena di sana banyak santri yang datang dari mana-mana ada yang dari Papua, Sulawesi, Pontianak…, pokoknya dari mana saja  ada…,” hibur Rizal.

Husni hanya tersenyum kecil sebab ia bingung antara percaya atau tidak dengan apa yang diucap paman mudanya itu. Kakek memandang sinis sama Rizal, karena ia tahu kalau dulu Rizal susah sekali diajak mondok di pesantren.

“Ehmmmm”, Kakek lalu hanya berdehem saja untuk memberi isyarat atas ocehan anak bungsunya itu.

“Eh…, Tong! Di pesantren itu ceweknya cantik-cantik lho…, dulu aku pernah ditaksir sama santriwati, oh indahnya…” Lanjut Rizal.

“Sudah! Sudah!…” cegah Kakek, “… jangan ajari Husni berbohong, kayak kamu pernah mondok aja….”

Ah…, Abah…” Rizal tersipu malu, sebab tujuan utamanya menghibur Husni. Ia pun terdiam dan tetap fokus mengemudikan sedang tua itu.

Namun bayangan Rizal seolah melayang ada yang akan hendak hilang dalam kesehariannya nanti dan esok hari. Sebab sudah tidak lagi bocah yang ia goda usai kuliah atau pada saat dirinya suntuk. Juga tak ada kebersamaan lagi dengan Husni yang penurut. Rizal tahu benar kepribadian keponakannya itu. Sebab dirinya lah yang hidupnya paling dekat. Tidur satu kamar, berangkat sekolah sama-sama walau sekarang dirinya sudah kuliah tetap ia sempatkan untuk mengantar bocah kecil itu untuk ke sekolah.

Meski mereka berdua saling olok-olok, Rizal tetap memperlakukan keponakannya seperti adik dan Husni menganggap Rizal sebagai kakaknya. Bahkan Husni memanggilnya dengan Aa’ (kakak) bukan paman. Rizal tidak tahu banyak permasalahan yang dialami Halimah, Kakak perempuannya itu. Kenapa perceraian terjadi, kenapa harus pergi ke luar negeri dan lain sebagainya.

Dalam hatinya ia merasa iba dengan Husni yang seharusnya mendapatkan sentuhan orang tuanya. Sehingga pemuda itu merasa ikut bertanggung jawab atas perkembangan Husni. Ia merasa berdosa jika tidak bisa mengantarnya sekolah, mengaji Iqra pada Taman Pendidikan Al Quran (TPA) di masjid tempat ustadz Alim mengajar, maupun malam-malam ia seringkali mendampingi anak itu untuk belajar.

Rizal tak malu bila ia ada acara di luar bersama kawan-kawan seperti kegiatan main futsal sambil mengajak Husni. Tak gengsi pula ketika bertandang ke rumah kawan perempuannya untuk suatu keperluan sekolah.

Seringkali Rizal malah berbisik meminta penilaian Husni tentang kecantikan setiap kawan perempuan yang ia jumpai bersamanya. Husni kadang tertunduk malu saat kawan perempuan Rizal mencoba menggoda kepolosannya bocah kecil itu dan Rizal mendiamkannya atau mengajari bagaimana membalas godaan kawan perempuannya.

Dari sinilah tanpa sadar Rizal seolah mengukuhkan kepada Husni bahwa begitulah seharusnya seorang laki-laki.

Di saat pikiran Rizal bersama kenangan, ia tersadarkan dengan gerakan  lelaki tua yang ada di sebelahnya. Kakek sejenak menggerakkan badan untuk menghindari kepenatan dan menengok ke jok belakang sembari membenarkan peci hitamnya.

Rizal pun ikut menengok sejenak ke belakang dan kembali memandang ke depan konsentrasi memegang kemudi. Wajah Husni semakin tegang membuat Kakek mulai merangkai kata untuk menenangkan cucunya itu.

“Husni…” Panggil Kakek.

“Iya Kek…”

“Kakek doakan agar kamu nanti kerasan mondok di pesantren”

“Amin, Kek”

“Tahu nggak Nak…, Pesantren itu tempat kita dididik ilmu agama, sebagai pondasi hati, kalau agama kita kuat, kita pasti akan menjadi orang yang bener dan pintar, banyak orang pintar dan tokoh-tokoh nasional yang keluaran dari pesantren, bahkan pernah presiden kita ada yang lulusan pesantren dan punya pesantren”

“Oh ya..?”

“Iya…, makanya kamu harus kerasan di pesantren biar jadi orang besar, jadi orang yang berguna dan terhormat”

“Iya Kek…”

“Oh ya…, Kakek jadi teringat jaman Kakek mau mondok dulu. Kamu sungguh beruntung Husni, soalnya kamu tidak kagi jauh-jauh kamu mondok, cukup ke Cirebon saja insya Allah kamu akan merasakan betapa indahnya mondok…” Kakek menghela nafas, “… Jaman dulu…,  orang belum bisa dikatakan mondok kalau tidak berjalan jauh ke wetan, ke timur…, alias kudu mondok ke jawa timur karena dari dulu jawa timur lah gudangnya pondok pesantren. Maka Kakek diberi pilihan mondok ke Jombang…”

Husni manggut-manggut, angannya mulai melukiskan sebuah citra tentang pesantren. Dan gaerah Kakek bertutur cerita seolah kembali ke masa silam yang meloncat-loncat disertai hikmah yang ia lontarkan agar kegusaran cucunya bisa berubah menjadi semangat keingintahuan. Ia ceritakan pula bahwa pesantren yang dituju ini merupakan pesantren yang pilihan.

“Jadi kamu harus bangga, Nak…, sebab kamu mondok di tempat yang tepat. Kebetuulan saja, Kakek sangat mengenal pesantren yang kita tuju ini, sebab pengasuhnya itu dulu adalah teman Kakek waktu masih sama-sama menjadi santri. Setelah meninggal, pengasuhnya turun pada putranya yang membuat pesantren tersebut berkembang pesat. Santri semakin banyak. Bahkan lulusan pesantren itu banyak lho yang diterima beasiswa ke luar negeri…”

“Ke luar negeri, Kek?” Bola mata Husni seketika berubah berbinar.

“Iya…, Ada yang meneruskan perguruan tinggi ke Timur tengah, ada yang ke Eropa, ke Cina, ada yang ke Amerika…”

“Ke Taiwan, ada nggak Kek…?” Tanya Husni semakin menggebu.

He he he…, ke Taiwan…, kamu mau…? Kakek menyeringai tawa.

“Mau, Kek…, Aku mau…”

“Mau menyusul ibumu…., he…? Hemmm….”  Hati Kakek menjadi tergelitik antara tawa dan iba.

Ee…., ya dua-duanya lah…, bisa belajar dan bisa bertemu ibu…” jawab Husni.

“Berdoalah semoga kamu bisa meneruskan ke luar negeri sesuai keinginanmu…”

Dari balik kaca spion, Kakek melihat wajah Husni yang polos itu sedang komat-kamit melantunkan doa. Hati Kakek seperti diguyur embun pegunungan melihat perubahan cucunya yang kini lebih sumringah.

Pemandangan yang indah nan sejuk membuat Husni mengeluarkan tangannya dari samping kaca jendela yang terbuka, ia pun tersenyum melihat pemandangan-pemandangan yang indah, Gunung Ciremai tampak semakin gagah, menghampar hijau pepohonan yang sedap di pandang mata.

Mobil melaju kencang, tiba-tiba segerombolan kambing menyebrang jalan membuat Rizal terkejut dan mengerem mendadak.

“Astaghfirullah, hati-hati Rizaaaal….!!!” Teriak Kakek sambil mengelus dada.

“Maaf, Abah….”

(bersambung)

Facebook Comments